Mohon tunggu...
Moh. Isa Ansori Rahayaan
Moh. Isa Ansori Rahayaan Mohon Tunggu... Ansori Rahayaan

Life Is Learning

Selanjutnya

Tutup

Kandidat

Menakar Calon Pengganti Jokowi di 2024

26 April 2020   10:05 Diperbarui: 26 April 2020   10:10 35 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menakar Calon Pengganti Jokowi di 2024
Moh. Isa Ansori Rahayaan | dokpri

Teka-teki siapa pengganti Jokowi di 2024 masih misteri, saat ini banyak nama yang digadang-gadang akan maju di pilpres 2024, dan semuanya memiliki potensi yang sama untuk terpilih di 2024.

Nama yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita seperti Anis Baswedan dan Sandiaga Uno digadang-gadang akan ikut berkompetisi, tak ketinggalan beberapa kepala daerah yang selalu dikaitkan dengan pilpres 2024 adalah Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo, dan Khofifah Indar Parawansa.

Terlepas dari nama-nama di atas, masih banyak tokoh yang berpotensi maju, baik dari kalangan partai maupun profesional, tentu publik sudah tidak bersabar menanti siapa pengganti Jokowi di 2024.

Anis Baswedan adalah figur yang cukup difavoritkan untuk ikut bersaing, bahkan Surya Paloh sendiri tertarik mengusung Anis di 2024, itu disampaikan ketika keduanya bertemu di DPP Partai Nasdem.

Anis juga kemungkinan besar akan didukung PKS, selain itu pendukung Prabowo di 2019 akan beralih memberikan dukungan kepada Anis, ini disebabkan kekecewaan mereka terhadap sikap Prabowo yang bergabung dengan pemerintahan hari ini.

Sandiaga Uno sendiri kemungkinan besar akan ikut bertarung kembali jika mendapatkan kendaraan politik, saat ini Sandiaga masih aktif sebagai kader Gerindra.

Sandiaga adalah figur yang cukup digandrungi oleh kalangan milenial, dengan gayanya yang terkesan seperti anak muda membuat dirinya sangat diidolakan kelompok ini.

Sosok Prabowo Subianto juga masih memiliki peluang untuk maju kembali, walaupun dari segi usia sudah tidak mudah lagi, namun semua kemungkinan masih bisa terjadi.

Prabowo bisa saja diusung PDIP dan berpasangan dengan Puan Maharani, alasannya PDIP tidak memiliki figur sepopuler Jokowi untuk bersaing di 2024, jika PDIP tetap memaksakan kader internal maka peluang untuk menang akan berat.

Jika Prabowo maju dengan PDIP, dipastikan pendukung fanatiknya di 2019 tidak akan memilihnya kembali, belum lagi para simpatisan PDIP yang selama ini mengidolakan Jokowi belum tentu akan memilih Prabowo, ini menjadi kerugian tersendiri bagi Prabowo.

PDIP tentu tidak ingin kehilangan momentum di 2024, dan Prabowo adalah pilihan rasional bagi PDIP, di internal PDIP sendiri ada nama Ganjar Pranowo dan Tri Rismaharini, namun keduanya masih harus bekerja keras untuk menaikkan elektabilitas mereka.

Jika melihat konfigurasi politik saat ini, partai koalisi pendukung Jokowi sulit untuk bersatu di 2024, hal ini terlihat dari manuver Surya Paloh yang sejak awal ingin mencalonkan Anis Baswedan, belum lagi ambisi dari masing-masing ketua umum untuk maju mencalonkan diri.

Airlangga Hartato dan Muhaimin Iskandar adalah dua ketua umum yang kemungkinan akan maju mencalonkan diri, di 2019 keduanya sempat diisukan maju namun secara elektabilitas kalah bersaing dengan Jokowi dan Prabowo.

Selain faktor figuritas dan mesin partai, dua kekuatan ormas islam terbesar di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah juga menjadi penentu kemenangan bagi kontestan yang ikut bertarung, siapapun yang ikut bertarung nanti, dari sekarang sudah harus melakukan pendekatan dengan kedua ormas ini.

Berbeda dengan pilpres 2019 yang hanya memunculkan dua nama, di 2024 kemungkinan lebih dari dua pasang terjadi, mengingat posisi Jokowi yang bukan lagi petahana akan membuka peluang bagi figur baru untuk ikut bersaing.

Semakin banyak kontestan akan memunculkan banyak pilihan alternatif, rakyat semakin bebas memilih berdasarkan standar yang mereka gunakan, potensi terjadinya gesekan pun kecil jika dibandingkan pilpres 2019 lalu.

Sampai saat ini tidak ada figur yang dominan, semuanya masih punya peluang yang sama, tinggal bagaimana mereka mampu meyakinkan masyarakat dalam memajukan bangsa Indonesia.

Perjalanan menuju 2024 masih panjang, semua kemungkinan masih bisa terjadi, politik itu dinamis, kawan bisa menjadi lawan begitu juga sebaliknya, dan itu sesuatu yang lumrah dalam politik, karena sejatinya dalam politik tidak kawan maupun lawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi.

Kita semua berharap siapapun yang terpilih di 2024 menggantikan Jokowi, dapat membawa Indonesia lebih baik lagi kedepan, dengan menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

VIDEO PILIHAN