Mohon tunggu...
Annisya Zahra Lindra
Annisya Zahra Lindra Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Hello!

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Generasi Z yang Rentan terhadap Masalah Kesehatan Mental dan Toxic Productivity di Masa Depan

22 Januari 2022   00:35 Diperbarui: 22 Januari 2022   00:40 463 4 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Kesehatan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Schantalao

Generasi Z merupakan generasi yang lahir di masa kecanggihan teknologi yang tinggi,  generasi ini juga biasa disebut dengan digital natives  yang di mana mereka merupakan generasi yang sudah mengenal media elektronik dan teknologi sejak lahir. Generasi Z ini lahir setelah Generasi Y atau  yang biasa disebut Generasi Milenial. Masyarakat Indonesia sendiri beranggapan bahwa etika generasi muda banyak yang tidak sesuai dengan tatanan budaya di Indonesia. 

Pada era ini mereka dituntut oleh perubahan-perubahan zaman, jika zaman dahulu anak muda mencari uang karna kebutuhan ekonomi yang dibutuhkan, maka berbeda dengan generasi muda sekarang yang mencari kedudukan dengan berkompetisi yang didasari oleh era digital dan teknologi yang tinggi.

Keakraban generasi Z dengan teknologi bukan semata-mata bentuk dari kemajuan zaman saja, tetapi juga menjadi faktor utama yang dapat mempengaruhi aspek psikologis. Generasi Z memanfaatkan teknologi untuk menghindari perjuangan di kehidupan offline mereka serta menemukan kenyamanan dengan melarikan diri dan berfantasi untuk mengisi waktu maupun kekosongan emosional. 

Biasanya generasi muda zaman sekarang memanfaatkan dunia virtual atau media sosial sebagai tempat pelarian dari kehidupan nyata. Yang sebenarnya internet sendiri dapat membuat kondisi kesehatan mental bagi generasi Z ini semakin memburuk. Media sosial sudah menjadi hal yang biasa bagi generasi Z ini, bahkan hampir seluruh waktu yang digunakan oleh generasi Z ini untuk bermain smartphone.

Kecemasan dan depresi adalah masalah yang paling banyak dialami di masa sekarang. Kasus ini terbilang cukup tinggi jika dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya. Bahkan tak jarang banyak remaja belasan tahun yang sudah memberanikan diri untuk datang ke psikolog atau ahli kesehatan mental lainnya. Rasa stres, cemas, dan depresi yang dialami oleh para gen Z ini di sebabkan oleh berbagai faktor. Faktor tersebut kebanyakan berasal dari lingkungan mereka, seperti kekerasan, pelecehan dll. 

Secara khusus, gen Z terhubung secara global dengan beragam orang yang sebagian besar berkomunikasi melalui teknologi dan media sosial. Mereka tumbuh di masa-masa penuh gejolak yang mencakup berbagi pemicu stress. Namun, generasi ini secara konsisten membuktikan dirinya sebagai generasi lebih terbuka dengan isu-isu tentang kesehatan mental. Banyak dari generasi ini yang sangat memperhatikan dan peduli tentang pentingnya kesehatan mental dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Karna tingkat kesadaran yang lebih tinggi terhadap permasalahan kesehatan mental, generasi Z secara sadar sangat terbuka dengan masalah psikologis dan cara mengelola stress. Mernomalisasikan pembicaraan tentang depresi dan kesehatan mental membuat gen Z memiliki kemampuan untuk menangani masalah mereka dan melanjutkan hidup. Generasi ini tidak ingin tertahan oleh masalah kesehatan mental. Dan sebaliknya, mereka dengan kesadarannya sendiri ingin mendapatkan perawatan sehingga memiliki kesehatan mental yang baik untuk bisa hidup dengan lebih baik.

Namun,  permasalahan  yang sedang marak terjadi dikalangan generasi Z ini adalah muncul nya "Toxic Productivity" di mana seseorang terobsesi dalam melakukan aktivitasnya. Dalam kasus ini banyak dari kalangan generasi Z sekitar 14-18 tahun yang bahkan sudah mencari pekerjaan dan magang yang sebenarnya mereka belum cukup untuk sampai ke tahap fase tersebut. Sudah banyak sekali generasi Z yang sekarang melakukan rutinitas seperti ini, dan banyak dari mereka yang mendukung adanya produktivitas yang dilakukan sejak dini. 

Namun, sebenarnya walaupun "Toxic Productivity" bisa tergolong masuk ke masalah kesehatan mental, mereka mempunyai banyak keuntungan dan juga manfaat untuk di masa mendatang. Dalam hal bersosialisasi dan membangun jaringan serta menambah ilmu pengetahuan dan juga wawasan di dunia kerja memubuat hal ini menjadi pemicu utama banyak nya remaja sekarang yang terobsesi dengan hal tersebut. Mental  mereka yang akan secara alami jauh lebih siap di masa mendatang jika menghadapi dunia kerja yang keras, pikiran mereka akan lebih terbuka dan juga akan jauh lebih baik dalam menyelesaikan masalah karena mereka sudah terlatih untuk itu sedari awal.  

Banyak sekali hal yang sudah berubah dari zaman dahulu hingga zaman sekaran, sehingga banyak mengubah cara pandang kita sebagai manusia. Terkhususnya dengan generasi Z yang besar dengan rasa keingintahuan dan berani untuk melakukan sesuatu hal. Sehingga banyak dari mereka yang bisa nyaman dan menikmati saat melakukan sebuah produktivitas yang banyak menyita waktu bercanda dan sekedar bermain dengan teman mereka.

Memang di usia muda perlu mencari pengalaman baru serta mengesplor lebih banyak kemampuan yang di miliki.  Tetapi, permasalahan datang ketika menghasilkan sebuah beban dan standar kehidupan.  "Toxic Productivity" memang tidak selalu membawa seseorang ke pola perilaku yang lebih baik, tetapi dengan produktivitas yang berlebihan hanya akan menimbulkan gangguan pada kesehatan mental. Dengan melakukan produktivitas dengan skala tinggi dalam menjalani kehidupan sehari-hari dapat membuat manusia cenderung melupakan pentingnya istirahat. Dengan kurangnya istirahat membuat mereka memiliki tingkat emosi yang tidak stabil dan memicu stress lebih tinggi.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Kesehatan Selengkapnya
Lihat Kesehatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan