anne rufaidah
anne rufaidah swasta

nocturnal, day dreamer, and books lover

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Menggelorakan Mimpi Anak-anak di Hulu Citarum

28 November 2018   05:01 Diperbarui: 29 November 2018   14:45 826 7 1
Menggelorakan Mimpi Anak-anak di Hulu Citarum
Foto Dok. Tim KI Citarum

Sebagai sungai terpanjang dan terbesar di Jawa Barat, sungai Citarum menjadi urat nadi bagi warga di sekitarnya. Bagaimana tidak, ada 12 wilayah/kota/kabupaten yang dilalui sungai ini. Tidak heran jika sungai ini menjadi salah satu jantung penyuplai air pada ratusan ribu warga yang hidup di sekitarnya.

Namun, kemanfaatan sungai ini seolah tercoreng dengan adanya pencemaran dan tidak terkelolanya limbah-limbah di sekitar sungai. Hal ini bahkan membuat sungai Citarum dinilai sebagai sungai terkotor di dunia. Menyedihkan. 

Belum lagi kondisi kehidupan warga di sekitar sungai yang perekonomiannya masih terbilang di bawah garis kelayakan.

Hal ini pun mau tidak mau, berpengaruh pada pandangan akan pentingnya pendidikan, termasuk pendidikan anak-anak yang hidup di sekitar bantaran sungai Citarum.

Diinisiasi oleh sekelompok mahasiswa pecinta alam (mapala) Astacala dari Telkom University Bandung, tercetuslah ide program Kelas Inspirasi Citarum (KI Citarum) yang digelar pada 17 Oktober 2018 lalu. Program ini adalah sebuah program pengabdian masyarakat yang diikuti oleh para relawan terpilih, dengan beragam latar belakang.

Tujuannya, tak lain adalah untuk membangun pendidikan di kawasan hulu sungai Citarum, terutama memberikan edukasi dan motivasi dalam meraih mimpi bagi siswa SD di sana.

"Sebelumnya, kami dari Astacala memang sudah sering melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di hulu sungai Citarum di area Cisanti. Mulai dari pendidikan, pelatihan keterampilan, penanaman pohon dan sebagainya. Di KI Citarum ini, kami berharap ada banyak hal yang bisa dipelajari satu sama lain, mengenai apa itu semangat dan motivasi belajar untuk meraih mimpi," terang ketua pelaksana KI Citarum, Erlangga Catur.

Foto : Dok. Tim KI Citarum
Foto : Dok. Tim KI Citarum
Ia menuturkan, ada tiga tujuan besar dari diselenggarakannya KI Citarum ini, yaitu di bidang pendidikan, lingkungan, dan ekonomi.

Di bidang lingkungan, pihaknya mengedukasi anak-anak SD di sana mengenai pentingnya menjaga lingkungan, pengaruh adanya pohon terhadap kehidupan, dan dampak apa saja yang bisa terjadi jika ekosistem alam tidak seimbang. 

Selain itu pun, untuk mengangkat perekonomian warga ia dan rekan-rekannya mengadakan bazar lokal. Sedangkan di bidang pendidikan, KI Citarum ini telah memilih 70 relawan dari berbagai wilayah di Jawa Barat untuk berpartisipasi mengedukasi di 7 Sekolah Dasar dari 2 desa di wilayah Cisanti, yaitu Desa Tarumajaya dan Desa CIbeureum.

"Ada 7 SD yang kami kunjungi dengan jumlah siswa sekitar 1200 anak. Di sekolah-sekolah tersebut kami mengedukasi soal lingkungan. KI Citarum ini sebenarnya di latar belakangi dengan permasalahan adanya pergeseran fungsi hutan, yang tadinya hutan lindung perlahan menjadi lahan masyarakat. 

Untuk itu kami berharap dengan mengedukasi sejak dini generasi penerus di desa-desa ini, maka mereka akan lebih paham betapa pohon dan hutan sangat berpengaruh pada keberlangsungan Citarum dan warga di sekitar sungainya," jelas pria yang akrab disapa Catur ini.

Tidak hanya dari sisi edukasi dan lingkungan, KI CItarum ini pun membantu mempromosikan potensi perekonomian warga di sekitar sungai.

Ada beberapa potensi ekonomi yang bisa terus dikembangkan, seperti produksi olahan susu, pembuatan pupuk cair, hingga produk dari kebun kopi. Mereka akan mengemasnya dalam promosi melalui website cisanti.com serta media sosial.

Foto : Dok. Tim KI Citarum
Foto : Dok. Tim KI Citarum
Salah seorang relawan KI Citarum asal Jakarta, Hendy Asmaransyah mengungkapkan, dirinya tergerak untuk menjadi relawan, lantaran melihat fenomena pendidikan dan lingkungan yang saat ini cukup memprihatinkan. Sungai yang seharusnya menjadi kebanggaan, namun memiliki wajah suram karena persoalan lingkungan yang tidak kunjung selesai.

"Saya ingin membantu, mungkin dengan bantuan kecil sebagai relawan yang saat itu bertugas mendokumentasikan, saya berharap ini bisa membuat perubahan nantinya," pungkas pemuda berusia 21 tahun itu.