Mohon tunggu...
Siska Dewi
Siska Dewi Mohon Tunggu... Administrasi - Count your blessings and be grateful

Previously freelance writer https://ajournalofblessings.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

7 Dimensi yang Harus Dirawat Lansia agar Tangguh Menjalani Hidup

8 Januari 2021   06:00 Diperbarui: 8 Januari 2021   15:31 3056
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi orang tua bahagia (sumber: Kompas)

Sebelum pandemi, saya rutin menghadiri Misa di gereja pada pagi hari. Lebih dari setengah umat yang mengikuti Misa adalah para lansia. Sebagian besar adalah pasangan suami isteri yang selalu berjalan bergandengan tangan.

Dalam uraian tentang dimensi spiritual yang dilansir laman BKKBN, disebutkan bahwa “Setiap orang percaya akan adanya kekuatan yang Maha Besar di luar kemampuan manusia. Kekuatan itu dalam agama disebut Tuhan Yang Maha Esa”.

Dari pengalaman dengan kimpo, nenek dan para pasutri lansia di gereja, saya belajar bahwa mereka tekun beribadah karena percaya akan adanya kekuatan yang Mahabesar di luar kemampuan manusia. Dengan beribadah, mereka memiliki harapan untuk hidup yang bermakna.  

Kedua: Dimensi Intelektual

Dilansir laman BKKBN, kegiatan membaca, menulis, mengarang, dan berkesenian; melakukan permainan-permainan (catur, halma, congkak, ular tangga, teka-teki silang, puzzle, dan lainnya); meningkatkan silaturahmi, dan rekreasi dengan keluarga dapat meningkatkan atau mempertahankan fungsi intelektual pada Lansia.

Di Kompasiana, dapat kita temukan beberapa lansia yang mempertahankan fungsi intelektual mereka dengan membaca, menulis, dan mengarang. Mereka memberi makna pada hidup dengan menginspirasi para pembaca melalui tulisan-tulisan mereka.

Ketiga: Dimensi Fisik

Masih menurut laman BKKBN, aktivitas fisik seperti jalan kaki, berlari santai, naik sepeda, dan latihan otot kaki, serta makan makanan yang sehat dan seimbang perlu diperhatikan dalam memelihara kesehatan lansia.

Saya teringat almarhum kakek saya (ayah dari ayah saya) yang masih bekerja sebagai tenaga pembukuan saat usia beliau menjelang 70 tahun. Tinggal di kota kecil, memungkinkan beliau melakukan aktivitas fisik bersepeda dalam perjalanan pergi dan pulang kantor.

Beberapa tahun lagi, saya juga akan memasuki fase lansia. Untuk mempersiapkan diri, saya selalu berjalan kaki saat pergi dan pulang gereja sebelum pandemi. Setelah Misa harian di gereja ditiadakan akibat pandemi, saya mengganti aktivitas berjalan kaki tersebut dengan naik turun tangga.

Keempat: Dimensi Emosional

BKKBN menghimbau keluarga untuk menyediakan waktu, memberi perhatian, menciptakan suasana yang menyenangkan, dan memfasilitasi kegiatan sesuai dengan keinginan para lansia.

Himbauan ini dapat menjadi suatu tantangan tersendiri, terutama bagi mereka yang tinggal di kota-kota besar. Kesibukan dan mobilitas tinggi membuat manusia seolah berpacu dengan waktu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun