Mohon tunggu...
Anjali Nurizki Putri
Anjali Nurizki Putri Mohon Tunggu... Pelajar

Stay a mistery, it's better.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Teknologi

Covid-19 Baik bagi Lingkungan?

22 November 2020   23:15 Diperbarui: 23 November 2020   00:01 13 2 0 Mohon Tunggu...

Pandemi Covid-19 telah banyak mengubah cara hidup masyarakat. Segala bentuk aktivitas kini harus beradaptasi dengan situasi untuk memperlambat laju penyebaran penyakit virus Corona sesuai dengan himbauan pemerintah. Sejumlah negara memutuskan untuk melaksanakan karantina wilayah atau lockdown. Dalam hal ini, Indonesia memilih untuk melaksanakan aturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dimana dalam pelaksanaan nya berdampak positif terhadap lingkungan.

Akhir akhir ini masyarakat dibuat terkagum dengan berbagai foto yang tidak biasa di langit perkotaan yang biasanya tertutup oleh polusi. Hal ini membuat banyak orang mengatakan bahwa COVID-19 baik bagi lingkungan karena polusi udara menjadi menurun. Mereka mengungkapkan bahwa alam sedang menyembuhkan dirinya sendiri ketika manusia berdiam diri di rumah. Tentu ini terasa baik bagi lingkungan. Namun, manfaatnya mungkin hanya bisa kita rasakan di awal, mulai dari udara yang lebih bersih dan langit tampak cerah.

Setelah melihat keadaan tersebut, apakah benar bahwa COVID-19 berpengaruh baik bagi lingkungan? 

Pada penelitian yang dilakukan oleh European Space Agency (ESA), dari data yang didapatkan melalui gambar satelit memperlihatkan adanya penurunan nitrogen dioksida (gas polutan udara) di sejumlah kota besar di berbagai negara seperti Paris, Madrid, dan Roma pada tanggal 14-25 Maret 2020 dibandingkan dengan data pada tahun 2019 lalu.

Selain di negara-negara Eropa, Tiongkok yang merupakan negara pertama yang menerapkan lockdown juga menunjukkan data yang sama, yaitu adanya penurunan polusi udara secara signifikan, bahkan sebesar 20% -- 30% jika dibandingan dengan data tiga tahun lalu. Penurunan polusi udara juga terjadi di Amerika Serikat, Italia, dan Spanyol.

Sementara itu di Indonesia khususnya kualitas udara di Jakarta setelah menerapkan PSBB, dikutip dari rilis Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) tercatat mengalami penurunan gas polutan NO2 sekitar 40%  dibandingkan tahun 2019.  Tapi penurunan tidak terjadi pada polutan udara jenis PM 2,5 ( konsentrasi polusi partikulat kecil ), angka PM 2,5 masih tinggi. Menurut standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) batas maksimal konsentrasi PM 2.5 adalah 25 mikrogram per meter kubik, sedangkan data pada tangal 1 Januari sampai diberlakukan PSBB pada 22 April angka PM 2,5 di Jakarta masih diatas standar WHO.

Meningkatnya kualitas lingkungan setelah aktivitas ekonomi terhenti akibat lockdown, turut membuktikan bahwa manusia dan ekonomi punya andil besar dalam penyebaran polusi.

Namun, perlu kita sadari juga bahwa tingkat pencemaran polusi udara sendiri dapat berubah setiap waktunya, berdasarkan aktivitas kendaraan bermotor maupun industri, jika pada suatu waktu aktivitas industri atau lalu lintas kendaraan kembali meningkat dari sebelumnya, kualitas udara suatu wilayah dapat berubah juga. Akan berbeda jika ada perubahan gaya hidup yang masif untuk menerapkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan saat maupun setelah pandemi ini.

COVID-19 telah memberi dampak negatif kepada perdagangan dan ekonomi. Namun ada efek positif bagi Bumi yaitu polusi berkurang, dan kualitas lingkungan hidup meningkat.

VIDEO PILIHAN