Mohon tunggu...
Anisa Rahayu
Anisa Rahayu Mohon Tunggu... Sejarawan Muda

Sejarah Universitas Padjadjaran

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Nasionalisme Hanya Milik Orang Berdarah Indonesia?

1 Desember 2019   18:38 Diperbarui: 1 Desember 2019   21:52 135 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Nasionalisme Hanya Milik Orang Berdarah Indonesia?
Hari Pahlawan: K'tut Tantri, Wanita Inggris Pemberi Semangat Pejuang dalam Pertempuran Surabaya | tribunnews.com

Masyarakat Indonesia kini tengah dihebohkan dengan pernyataan seorang penyanyi yang selama ini selalu menjadi kebanggaan bagi Indonesia sendiri, yaitu Agnez Mo. Dalam program BUILD series Agnez Mo menyatakan bahwa ia sama sekal tidak memiliki darah asli Indonesia, melainkan keturunan dari Jerman, Jepang, dan China. 

Dengan tersebarnya rekaman program tersebut, warga net langsung memberikan banyak komentar yang menunjukkan rasa kecewa, kaget, marah, atau ada pula yang mencoba memahami dengan lebih baik arti dari pernyataannya. Namun, tidak sedikit komentar-komentar negatif yang mengarah kepada keraguan akan jiwa nasionalisme dari Agnez Mo.

"Apakah jiwa nasionalisme hanya dimiliki oleh orang berdarah asli Indonesia?"

Lalu bagaimana dengan kisah Ktut Tantri? Seorang seniman perempuan asal Amerika yang kemudian mendapat julukan Surabaya Sue, dengan semua peran-perannya dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia?

Pada awalnya, perempuan bernama asli Muriel Pearson ini memiliki ketertarikan yang besar akan pulau Bali melalui sebuah film berjudul "Bali, The Last Paradise". Ketertarikan tersebutlah yang kemudian mendorongnya untuk datang ke Indonesia dan menetap di Bali yaitu pada tahun 1934. 

Berbeda dengan turis lain yang tinggal di hotel, Muriel bertekad untuk tinggal bersama masyarakat Bali. Tanpa rencana yang matang, perjalanan Muriel mengantarkannya pada sebuah kerajaan yang pada akhirnya mengangkat Muriel sebagai anak ke 4 dan diberilah ia nama Ktut Tantri. Keputusannya untuk tinggal di kerajaan dan mempelajari budaya setempat membuat banyak kontra muncul dari pemerintah kolonial. Tapi hal tersebut tak menyurutkan keinginnya. 

Tak berhenti disana, Ktut Tantri bahkan meninggalkan puri kerajaan dan tinggal bersama masyarakat biasa di pedesaan. Ia tak gentar dengan segala cobaan berupa budaya yang tak pernah ia ketahui sebelumnya. Kenangan-kenangan indah terukir semenjak kedatangannya di Pulau Bali, Ktut Tantri mulai memiliki usaha yang sukses dengan pendirian hotelnya.

Tantri tak bisa berlama-lama dalah semua kenangan indah tersebut. Datangnya Jepang ke Indonesia pada 1942 membuat Tantri dengan terpaksa harus melarikan diri ke Surabaya, di sanalah ia mulai bergabung dengan pergerakan kemerdekaan bawah tanah. Keputusan Tantri tersebut tentu mengantarkannya pada ancaman Jepang. 

Jepang menangkapnya dengan tuduhan sebagai mata-mata Amerika, siksaan demi siksaan diberikan selama Tantri di dalam tahanan. Tantri sama sekali tidak dapat memberikan perlawanan, bahkan suatu hari Tantri hampir tewas sehingga ia harus dipindahkan dari tahanan ke sebuah rumah sakit di Ambarawa. Setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Tantri dibebaskan oleh rakyat yang menyerbu rumah sakit tersebut, dan ia dikirim ke rumah sakit di Surabaya.

Proklamasi kemerdekaan tidak sepenuhnya memberikan kemerdekaan yang nyata pada Indonesia. Belanda kembali dengan Agresi Militer yang kemudian kembali meluluh lantahkan Indonesia. Menetapnya Tantri di Surabaya setelah kemerdekaan, membuka ruang gerak baginya. Ia bekerja bersama Bung Tomo sebagai penyiar Radio Pemberontakan yang kemudian memberikannya julukan Surabaya Sue. 

Pemindahan ibu kota ke Jogjakarta juga membuat Tantri turut serta pindah ke kota istimewa tersebut yang kemudian mempertemukannya dengan tokoh-tokoh besar Indonesia seperti Amir Syarifuddin, Soekarno, Hatta, dan masih banyak lagi. Tidak berhenti disini, Tantri bahkan berperan dalam mempromosikan kemerdekaan Indonesia di Singapura dan Australia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN