Mohon tunggu...
Anisa Dara Oktaviani
Anisa Dara Oktaviani Mohon Tunggu... Mahasiswa - an INFJ little one

verba volant, scripta manent.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Memaknai Romantika Idul Fitri

18 Mei 2022   22:54 Diperbarui: 18 Mei 2022   22:57 64 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sumber gambar: Pinterest

Idulfitri adalah hari raya yang memiliki banyak makna. Merayakan Idulfitri berarti merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berhasil mengalahkan lapar dan haus serta hawa nafsu. Cak Rusdi dalam bukunya yang berjudul 'Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya' menuliskan bahwa nafsu adalah semua keinginan yang meletup-letup di dada seperti marah, dengki, dendam, malas, bosan, bahkan keinginan untuk berbuat baik dan beribadah dengan niat hanya ingin pamer dan dipuji. Melawan diri sendiri selalu terasa lebih sulit. Mungkin karena hal itulah Idulfitri disebut dengan hari raya dan hari kemenangan.

Selain merayakan kemenangan, Idulfitri adalah momen refleksi dan melihat diri sendiri. Laiknya anak-anak sekolah yang menerima rapot setelah belajar selama satu semester, setiap mata pelajaran dinilai berdasarkan hasil ujian, sikap, keaktifan, serta tugas-tugas yang dikerjakan. Lalu bagaimana nilai rapot kita? Apakah selama satu bulan yang kita dapatkan hanya haus dan lapar? Apakah kita sudah mengisi bulan suci dengan lebih banyak kebaikan? Apakah kita bisa mengendalikan diri dari hawa nafsu dan penyakit hati? Apakah kita sudah bisa belajar ikhlas melaksanakan ibadah semata-mata hanya karena Tuhan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menuntun kita untuk becermin dan melihat diri sendiri agar terlahir kembali menjadi seseorang yang memiliki tujuan untuk dapat menjalani kehidupan sebagai hamba Tuhan yang lebih baik ke depannya di setiap harinya. Mungkin itulah makna fitri yang secara etimologi berarti kembali ke fitrah atau sifat asal. Kita kembali ke sifat asal sebagai manusia yang diciptakan sempurna tetapi tidak melebihi kesempurnaan Tuhan, manusia yang diberikan kekuatan tetapi tidak melebihi kekuatan Tuhan, dan manusia yang diberikan akal untuk selalu berpikir dan belajar agar mengetahui ketidaktahuannya.

Setelah menyadari fitrah sebagai manusia, kita tahu bahwa manusia tidak akan pernah luput dari dosa dan kesalahan, termasuk kesalahan kepada sesama manusia. Sebagai makhluk yang memiliki ego, kita selalu merasa gengsi untuk meminta maaf dan memaafkan. Namun, saat hari raya, Tuhan seakan-akan melembutkan hati kita. Seperti yang dikatakan Gus Mus dalam bukunya yang berjudul 'Melihat Diri Sendiri' beliau menyebutkan bahwa Idulfitri adalah hari ketika batin-batin kaum beriman merayakan hari raya karena orang-orang yang sulit memaafkan akan membuka pintu maafnya, serta orang-orang yang sulit meminta maaf akan meluruhkan egonya untuk meminta maaf. Oleh karena itu, Idulfitri dapat kita maknai sebagai reduksi ego.

Menurut saya, momen haru dalam maaf memaafkan adalah saat meminta maaf kepada orang tua dan keluarga. Sehingga Idulfitri selalu identik dengan pulang kampung atau lebih dikenal dengan istilah mudik agar bisa meminta maaf secara langsung ataupun ziarah kepada keluarga yang sudah berpulang. Meskipun teknologi sudah sangat canggih dan dapat bersilaturahmi secara virtual, tetapi rasanya belum lebaran kalau belum mudik. Seolah-olah sudah menjadi tradisi agar bisa berkumpul dengan keluarga. Tak ayal jika Idulfitri adalah waktu untuk berkumpul dan lebih dekat dengan keluarga besar.

Tidak hanya bahagia yang kita rasakan saat lebaran, lebih dalam dari itu terdapat makna-makna substansial di dalamnya. Kita dapat melihat bagaimana Tuhan menyisipkan makna hidup dan fitrah kita sebagai manusia dalam hari raya Idulfitri.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan