Anis Hidayatie
Anis Hidayatie Guru

Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Cinta adalah muasal segalanya. Mari tebar cinta dengan kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Bincang Literasi, Sepakat Membentuk "KPK"

22 April 2019   07:14 Diperbarui: 22 April 2019   09:11 188 28 16
Bincang Literasi, Sepakat Membentuk "KPK"
Komunitas literasi, KPK. Mengawali pertemuan di Kafe Sawah Pujon Malang

Di Kafe sawah Pujon Malang pertemuan ini terjadi. Sesuai dengan rencana yang diutarakan guru Bahasa Indonesia  anak saya Bapak Ilman kepada saya beberapa waktu lalu. Ada keinginan anak-anak muda yang seratus persen mahasiswa baik S1 maupun S2 untuk ikut terlibat dalam kegiatan literasi.  Mereka ingin bertemu saya, berbagi pengalaman dalam dunia kepenulisan.

Secara usia mereka lebih pantas menjadi anak saya, namun dari sisi ilmu, mereka luar biasa. Banyak hal yang saya pelajari dari mereka. Berkumpul dari berbagai macam disiplin ilmu, dan dari banyak kampus di Kota Malang  menghadirkan pengetahuan yang berbeda, kaya ragam dan warna. 

Bincang literasi, demikian saya memaknai, karena topik yang kami obrolkan seputar penulisan. Bagaimana menulis sesuai passion, memecahkan kebuntuan saat tulisan paragraf akhir belum diakhiri,   tips mengatasi macetnya ide, dan tentu saja membahas bagaimana dengan tulisan kita bisa berbuat sesuatu. 

Ada banyak media yang bisa digunakan untuk menulis. Cetak maupun online. Selain Facebook dan Instagram, dua hal yang sangat mereka akrabi. Satu yang saya tawarkan, menulis di Kompasiana. Saya beritahukan keunggulannya dalam pandangan saya.

Pertama, tersedia bermacam kategori, jadi kita bisa menulis sesuai  passion yang kita miliki. Fiksi, non fiksi semua difasilitasi.
Kedua, ada editorial. Ini berguna untuk menilai sejauh mana perkembangan kecakapan kita dalam mengolah kata kata. Label biru pilihan atau artikel utama, menandakan tulisan kita layak baca. Bila belum tak mengapa, artinya kita harus banyak belajar dan belajar jadi menulislah terus itu akan mengasah kemampuan.

Ketiga, banyak penulis hebat di Kompasiana, kita bisa membaca karya mereka fresh from the oven. Ide segar, pemikiran, pandangan pandangan penulis Kompasiana menyikapi isu terkini sungguh menarik diikuti. Karya fiksinya juga luar biasa. Saya suka pun mengikutinya.

Keempat, menulis di Kompasiana aman. Komentator juga sopan sopan. Nyaman untuk saling interaksi.

Kelima, ada reward. Motivasi bagi penulis untuk membagikan karya, share link ke segala penjuru dunia maya. Agar tulisan kita banyak yang membaca. Karena untuk mendapatkan reward, jumlah viewer adalah sarat utama.

Usai 5 hal tersebut saya ungkapkan, mulailah mereka berkenalan dengan Kompasiana. Langsung menulis, langsung posting. Wajah ceria menandai saat postingan mereka berhasil tayang. Memandu langsung pembuatan akun, lebih mudah ternyata, dibanding ketika saya menjelaskan cara loggin lewat WA. Seperti yang sudah sering saya lakukan selama ini pada teman-teman newbie.

Sukses menulis di Kompasiana,  ada usulan membuat nama untuk komunitas ngobrol literasi ini. Saya ingin para muda ini menjadi bagian dari perjuangan literasi. Berjuang dengan tulisan, menulis yang benar, melawan hoax atau segala bentuk kebohongan, menyampaikan pesan kebaikan untuk semua orang. Karena ini bisa menjadi jalan untuk mengakhiri dunia dengan keindahan.

Kutipan puisi WS Rendra  yang pernah saya baca di Majalah "Hai" saat saya muda dahulu, betul-betul terngiang di telinga saya.

Kesadaran Adalah Matahari Kesabaran adalah Bumi Keberanian menjadi Cakrawala dan Perjuangan adalah Pelaksanaan Kata-Kata (WS Rendra. Depok, 22 April 1984)

Saya suka bait Perjuangan adalah Pelaksanaan kata-kata mengandung semangat melakukan, mengundang tangan ini menuliskan kata-kata. Maka saya ingin tangan ini ikut terlibat dalam perjuangan itu dengan menorehkan kata-kata. 

Sebagai orang yang pernah merasakan kehilangan ada dorongan kuat untuk meninggalkan jejak sebelum sayapun berpulang. Kata-kata menjadi pilihan jejak saya. Agar abadi karya saya, agar ada nilai dari tiap jejak kehidupan saya. Maka di manapun saya gemakan ajakan ini. Untuk ikut berjuang. Dengan melaksanakan kata-kata. Seperti kata WS.Rendra. Perjuangan adalah Pelaksanaan Kata- kata.

Darah muda yang idealis, ditingkahi semangat literasi yang tinggi. Memunculkan satu kesepakatan menamai komunitas kecil ini. " Komunitas Pejuang Kata-kata" disingkat KPK. Mirip nama Komisi Pemberantasan Korupsi. Saya iyakan saja, tak mengapa, toh sama-sama mempunyai spirit berjuang. Maka jadilah hari itu. 

Di Kafe Sawah Pujon Malang. Telah lahir satu komunitas lagi di bidang literasi, dengan nama KPK, Komunitas Pejuang Kata-kata. Beranggota awal 9 orang, dengan ketua Akhmad Khukmi, Guru Bahasa Indonesia SMP Sabilurrosyad Malang. 

Sebagai langkah awal, saya ajak mereka melihat komunitas menulis lain, yang lebih dahulu eksis, untuk belajar, menimba ilmu dari yang telah berpengalaman. Berkumpul dengan sesama pejuang literasi akan menumbuhkan gairah tersendiri. Gandeng tangan menambah semangat perjuangan. 

Komalku Raya, Komunitas Menulis Buku Malang Raya dan Sekitarnya, akan melaksanakan workshop yang kedua. Dihadiri oleh banyak kompasianers. Kopdar literasi sekaligus menjadi ajang menimba ilmu di bidang penulisan. Rencana hari Minggu mendatang diadakan. Ada Lilik Fatima Az-Zahra, ada Deddy Husein, dan masih banyak lagi. Tentu Ning Evi sebagai pemilik nama yang dimunculkan di buku pertama launching nanti. Rencana beliau akan bikin akun Kompasiana juga nantinya di sana. Bertemu langsung semoga memudahkan beliau loggin. Setelah beberapa kali mencoba membuat akun tapi belum sukses juga. 

Dengan banyak bertemu orang yang sevisi misi, akan lebih menyenangkan. Hidup lebih indah dengan banyak kawan. Tidak merasa sendiri dalam perjuangan ini.  Salam literasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2