andry natawijaya
andry natawijaya apa yang kutulis, tetap tertulis

yang enteng-enteng aja...

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

Menjalankan Bisnis Tanpa Cemas Akan Risiko

10 Juni 2018   16:22 Diperbarui: 10 Juni 2018   16:40 1168 1 0
Menjalankan Bisnis Tanpa Cemas Akan Risiko
Ilustrasi : ladyboss.asia

Mama always said "Life was like a box of chocolates, you never know what you're gonna get." Kalimat tersebut diucapkan oleh karakter bernama Forrest Gump, dalam novel karya Winston Groom dikisahkan bahwa Forrest Gump merupakan sosok dengan keterbatasan namun pada akhirnya dengan upaya keras dan perjuangannya, Forrest Gump malahan menjadi antitesis dan menginspirasi banyak orang. Lantas naskah novel tersebut diangkat menjadi sebuah film drama, dibintangi Tom Hanks dengan sutradara Robert Zemeckis, berbuah piala Oscar dalam ajang Academy Awards tahun 1995.

 Analogi Forrest Gump dapat digunakan sebagai ungkapan bahwa dalam hidup kita tidak pernah tahu apa yang akan kita dapatkan atau katakanlah hal yang akan terjadi, jadi masa depan adalah sebuah ketidakpastian. Terlebih dalam berbisnis, perkembangan teknologi, persaingan di pasar global, perilaku dan perubahan selera konsumen, merupakan bagian dari variabel besar dalam komponen penentu keberhasilan usaha.

Bisnis yang berjalan saat ini juga senantiasa menghadapi masa depan dengan penuh tantangan, ketidakpastian dan sebut saja dengan istilah risiko. Namun jika ingin menjalankan bisnis tentunya perlu disadari bahwa sesungguhnya dengan berbisnis kita telah mengambil sebuah tindakan untuk menghadapi risiko. No risk no gain. Jika tidak berani menghadapi risiko, sebaiknya niat berbisnis diurungkan.

Mengenal Istilah Risiko dan Manajemen Risiko

Risiko memiliki berbagai definisi, seperti telah dirumuskan oleh banyak pakar. Berikut adalah beberapa definisi risiko:

  • Menurut Mark Griffin, risiko  adalah ketidakpastian tentang peristiwa masa depan atas hasil yang diinginkan atau tidak diinginkan.
  • Sementara COSO ERM, mendefinisikan risiko sebagai kemungkinan terjadinya sebuah peristiwa yang dapat mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi.
  • ISO 31000 merumuskan definisi risiko sebagai dampak dari ketidakpastian terhadap pencapaian obyektif.

Jika ditinjau dari beberapa definisi di atas, secara garis besar risiko dapat dipandang sebagai sebuah potensi dari tindakan yang dilakukan. Sesuatu tindakan berdasarkan keputusan manajemen tentunya akan memiliki dampak bagi kelangsungan bisnis, dalam hal ini risiko merupakan potensi terjadinya kerugian dari aktivitas bisnis.

 Risiko merupakan hal yang melekat dengan aktivitas bisnis, artinya semua proses bisnis pasti memiliki risiko tersendiri. Dan perihal tersebut tidak dapat dihindari. Dalam aktivitas bisnis apa pun, keberadaan risiko tidak dapat dihilangkan seluruhnya, namun risiko dapat dimitigasi atau dicegah. Sehingga risiko dapat dikelola dengan baik dan terukur melalui serangkaian strategi dalam rumusan manajemen risiko.

Ilustrasi: risk.net
Ilustrasi: risk.net
Manajemen risiko adalah serangkaian metodologi dan prosedur yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko yang timbul dari seluruh kegiatan usaha. Dengan manajemen risiko, pelaku usaha dapat merumuskan strategi untuk menghadapi kemungkinan timbulnya kerugian sebagai konsekuensi dari aktivitas bisnis.

Risk Awareness dan Risk Culture

Ada hal penting sebelum penerapan manajemen risiko diimplementasikan dalam organisasi, yaitu kesadaran akan risiko (risk awareness) dan budaya risiko (risk culture). Penerapan manajemen risiko harus didasari oleh risk awareness  dan risk culture sebagai fondasi utama. Karena tanpa adanya risk awareness  dan risk culture, konsep manajemen risiko tidak akan dapat dilakukan.

Risk awareness  merupakan bentuk nyata dari kesadaran setiap unsur dalam organisasi akan risiko yang melekat di setiap lini aktivitasnya. Semua proses dalam organisasi memiliki risiko, dan hal ini perlu disadari dan dipahami oleh petugas unit pelaksana terkait, sehingga petugas dalam suatu unit dapat melakukan aktivitasnya dengan hati-hati. Jika terdapat suatu hal yang diluar kendali atau kewenangannya, maka hal tersebut harus segera dikomunikasikan dengan unit lain yang berkompetensi untuk menanganinya serta menginformasikan kepada pejabat berwenang di organisasi tersebut.

 Penerapan kesadaran terhadap risiko secara komprehensif di setiap lini organisasi akan membentuk budaya risiko sebagai bagian dari budaya organisasi. Setelah semua pihak sadar dan peduli terhadap risiko, maka proses bisnis akan dilakukan dengan berpegang pada prinsip kehati-hatian, hal ini menjadi terintegrasi dengan budaya dan tata kelola organisasi.

Penerapan Strategi Manajemen Risiko

Dalam menerapkan strategi manajemen risiko terdapat empat hal sebagai langkah utama untuk melakukan pengelolaan risiko dalam organisasi.

1. Identifikasi Risiko

Risiko merupakan hal yang searah dengan proses bisnis, sehingga semakin besar organisasi dan bisnis maka risikonya pun semakin besar. Untuk mengantisipasi risiko maka perlu dilakukan identifikasi melalui pemetaan risiko, hal ini dapat ditinjau dan dianalisis dari setiap aktivitas lini bisnis dalam suatu organisasi. Langkah ini sesungguhnya merupakan kajian untuk merumuskan risiko apa saja yang mungkin terjadi dan berdampak bagi organisasi serta kelangsungan usaha. Sehingga segala potensi kerugian yang dihadapi dapat digambarkan.

Ilustrasi: tampa.cbslocal.com
Ilustrasi: tampa.cbslocal.com
Setiap organisasi memiliki tingkat risiko berbeda, tergantung pada tingkat skala dan jenis usahanya. Tetapi jenis risiko dalam industri tertentu memiliki kesamaan, namun untuk pengelolaannya secara lebih detil akan berbeda, karena tergantung dari kapasitas organisasi dalam menjalankan usahanya. Identifikasi risiko merupakan proses yang membutuhkan keterlibatan dari pihak pelaksana dalam proses bisnis sehari-hari agar pemetaan risiko dapat dirumuskan secara obyektif dan nyata.

Contoh sederhana dari identifikasi risiko dapat ditinjau dari proses pengendalian arus kas dan keuangan organisasi, distribusi, pengelolaan Sumber Daya Manusia, atau strategi bisnis organisasi. Dari hasil kajian tersebut kemudian dianalisis berdasarkan tingkat kritikal atau memiliki dampak paling besar terhadap organisasi atau disebut dengan risiko utama.

2. Pengukuran Risiko

Adalah proses untuk menilai besarnya tingkat risiko dari aktivitas bisnis organisasi.  Hasil penilaian ini akan memberikan informasi mengenai kondisi organisasi dari perspektif risiko, sehingga keputusan yang akan ditentukan oleh tingkat eksekutif dilakukan dengan mempertimbangkan kajian dari tingkat risiko organisasi. Proses ini harus dilakukan secara rutin agar penilaian risiko dapat sesuai dengan kondisi perkembangan bisnis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2