Mohon tunggu...
Andriyanto
Andriyanto Mohon Tunggu... Lainnya - Jika kamu tak menemukan buku yang kamu cari di rak, maka tulislah sendiri.

- Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kali kita jatuh - Rasa bahagia dan tak bahagia bukan berasal dari apa yang kamu miliki, bukan pula berasal dari siapa dirimu, atau apa yang kamu kerjakan. Bahagia dan tak bahagia berasal dari pikiran kamu sendiri.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Suku Kalash: Etnis Kulit Putih Tertua dengan Kebudayaan yang Unik di Pakistan

28 November 2023   07:00 Diperbarui: 28 November 2023   07:16 234
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: Chitral’s three endangered languages get written form - Culture - Images (dawn.com)

Apakah Anda pernah mendengar tentang suku Kalash? Suku Kalash adalah penduduk asli Dardik yang bermukim di Distrik Chitral di Provinsi Khyber-Pakhtunkhwa, Pakistan. Mereka berbicara bahasa Kalash,  rumpun bahasa Dardik yang juga adalah cabang rumpun bahasa Indo-Arya. Mereka dianggap  suku yang unik jika dibandingkan dengan orang-orang Pakistan pada umumnya. Suku Kalash sering dianggap sebagai keturunan Alexander Agung, karena memiliki ciri-ciri berkulit putih dan bermata biru. Mereka juga memiliki budaya dan agama yang berbeda dari mayoritas penduduk Pakistan, yang menganut Islam. Mereka menganut agama Kalash atau Kalasha, yang merupakan bentuk animisme atau Hinduisme kuno. Mereka memuja sejumlah dewa dan dewi yang berhubungan dengan alam, seperti Sajigor, Mahandeo, Dezalik, Balumain, dan Jestak. Mereka juga percaya pada konsep reinkarnasi dan karma. Mereka memiliki tradisi unik seperti pengasingan bagi perempuan yang sedang haid atau hamil, dan kawin lari bagi kaum muda. Mereka juga mengenakan pakaian tradisional yang terbuat dari wol hitam dan dihiasi dengan manik-manik, kancing, dan bordir berbagai warna. Mereka juga memakai topi bulu domba yang disebut kupas. Mereka terkenal dengan tarian dan nyanyian mereka yang meriah dan penuh semangat. Mereka menyelenggarakan festival-festival yang berdasarkan musim dan pertanian, seperti Joshi, Uchau, Chaumos, dan Phoo. Mereka juga menghormati arwah leluhur mereka dan mempercayai adanya berkat dari mereka.    

Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih lanjut tentang suku Kalash, etnis kulit putih tertua dengan kebudayaan yang unik di Pakistan. Kita akan mengetahui asal-usul, sejarah, kehidupan, budaya, agama, dan tantangan yang dihadapi oleh suku Kalash. Kita juga akan melihat beberapa foto dan video yang menunjukkan keindahan dan kekayaan suku Kalash. Mari kita mulai!

Asal-Usul dan Sejarah Suku Kalash

Suku Kalash memiliki asal-usul yang masih menjadi misteri hingga saat ini. Ada beberapa teori yang mencoba menjelaskan asal-usul suku Kalash, namun belum ada yang bisa dibuktikan secara ilmiah. Salah satu teori yang paling populer adalah bahwa suku Kalash adalah keturunan dari tentara-tentara Yunani yang dipimpin oleh Alexander Agung, yang menaklukkan wilayah Pakistan pada abad ke-4 SM. Teori ini didasarkan pada kemiripan fisik, bahasa, dan budaya antara suku Kalash dan orang-orang Yunani kuno. Teori ini juga didukung oleh beberapa catatan sejarah, legenda, dan genetika.   

Namun, teori ini juga mendapat banyak kritik dan kontroversi. Beberapa ahli berpendapat bahwa suku Kalash bukanlah keturunan dari orang-orang Yunani, melainkan dari orang-orang Indo-Arya yang bermigrasi ke wilayah Pakistan pada milenium kedua SM. Mereka mengatakan bahwa suku Kalash memiliki hubungan dekat dengan orang-orang Nuristani di Afghanistan, yang juga berkulit putih dan bermata biru. Mereka juga mengatakan bahwa suku Kalash memiliki perbedaan genetik yang signifikan dengan orang-orang Yunani, dan bahwa kemiripan fisik, bahasa, dan budaya hanyalah akibat dari adaptasi, pinjaman, dan pengaruh.   

Selain teori-teori di atas, ada juga teori-teori lain yang mencoba menjelaskan asal-usul suku Kalash, seperti teori bahwa suku Kalash adalah keturunan dari orang-orang Israel, orang-orang Persia, orang-orang Tibet, atau orang-orang Skithia. Namun, teori-teori ini juga belum memiliki bukti yang kuat dan meyakinkan.   

Sejarah suku Kalash juga tidak banyak diketahui. Yang pasti, suku Kalash telah hidup di wilayah Chitral sejak berabad-abad yang lalu, dan telah mengalami banyak perubahan dan pengaruh dari berbagai kekuatan politik dan agama. Suku Kalash pernah berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Kushan, Kekaisaran Maurya, Kekaisaran Ghaznavid, Kekaisaran Timurid, Kekaisaran Mughal, Kekaisaran Sikh, Kekaisaran Britania, dan negara Pakistan. Suku Kalash juga pernah berhadapan dengan orang-orang Muslim, Hindu, Buddha, dan Kristen, yang mencoba mengubah atau menghancurkan kebudayaan dan agama mereka. Suku Kalash berhasil bertahan dan mempertahankan identitas mereka, meskipun mengalami penurunan jumlah dan ancaman dari berbagai pihak.   

Kehidupan, Budaya, dan Agama Suku Kalash

Suku Kalash tinggal di tiga sub-lembah, yaitu Bumburet, Rumbor, dan Birir. Wilayah ini terletak dekat dengan Afghanistan, dan memiliki pemandangan yang indah dan alami. Suku Kalash hidup dari bertani, beternak, dan berdagang. Mereka menanam gandum, jagung, kacang, apel, anggur, dan buah-buahan lainnya. Mereka juga memelihara kambing, sapi, dan domba. Mereka menjual hasil pertanian dan ternak mereka ke pasar-pasar di Chitral atau di luar negeri. Mereka juga membeli barang-barang kebutuhan seperti gula, teh, garam, dan kain.   

Suku Kalash memiliki budaya yang kaya dan berwarna-warni. Mereka mengenakan pakaian tradisional yang terbuat dari wol hitam dan dihiasi dengan manik-manik, kancing, dan bordir berbagai warna. Mereka juga memakai topi bulu domba yang disebut kupas. Pakaian mereka menunjukkan status sosial, usia, dan jenis kelamin mereka. Pakaian perempuan lebih berwarna dan bervariasi daripada pakaian pria. Perempuan juga memakai kalung, gelang, anting-anting, dan cincin yang terbuat dari koin, perak, atau emas. Pakaian suku Kalash juga menjadi salah satu daya tarik bagi para wisatawan yang berkunjung ke wilayah mereka.   

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun