Mohon tunggu...
andri muhammad
andri muhammad Mohon Tunggu...

terserah

Selanjutnya

Tutup

Kandidat

Berhenti Pidato saat Adzan, Jokowi tunjukkan Sikap Beradab

11 Januari 2019   20:26 Diperbarui: 11 Januari 2019   20:25 0 0 0 Mohon Tunggu...
Berhenti Pidato saat Adzan, Jokowi tunjukkan Sikap Beradab
foto:suaraislam.co

Religiusitas seseorang bisa dilihat dari apa yang dilakukannya terhadap ketaatannya terhadap agama. Adab orang beragama ialah selalu menghormati segala yang berkenaan dengan agama tersebut.

Religiusitas bukan dilihat dari yang diungkapkan dengan dirinya yang selalu merasa paling religius. Tetapi tindakannya tidak mencerminkan apa yang dibicarakan.

Religiusitas itu bukan dibicarakan tapi dilakukan. Ketaatan, kesalihan, dan penghormatan terhadap agama penting untuk menilai tingkat religiusitas.

Pada pemilihan Presiden dan wakil Presiden 2019 narasi yang digunakan mengenai tingkat religiusitas dan siapa yang benar benar "Islam". Kedua kandidat berebut mendapat simpati atas keislamannya.

Tapi siapakah yang benar-benar religius dalam hal ini. Religius dalam arti ketaatan, kesalihan, adab menghormati, dan toleran.

Jokowi menjadi pemimpin yang mampu menunjukkan itu. Disela-sela kegiatannya dia tidak lepas dari apa yang melekat dalam dirinya.

Sebagai seorang muslim dia selalu menunjukkan religiusitasnya. Pada saat bencana di Lombok dia mengajak para pengungsi untuk sholat berjamaah.

Dalam kegiatan kenegaraan sholat berjamaah juga sering dilakukan. Bahkan K.H Ma'ruf Amin menyebut Jokowi lebih taat ketimbang dirinya.

Baru-baru ini Jokowi menunjukkan kembali adabnya sebagai seorang muslim. Presiden Joko Widodo berhenti sejenak saat memberikan pidato sambutan dalam acara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat. Jokowi berhenti berbicara ketika mengetahui waktu azan Zuhur.

Sikap yang ditunjukkannya sederhana tapi mempunyai nilai yang baik. Tindakannya ini sebagai bentuk kecil dari adab Jokowi menghormati panggilan shalat.

Bagi kita sebenarnya memang bukan mencari pemimpin yang sangat Islam untuk menjadi Presiden. Tapi sikap yang ditunjukkannya itu adalah bagaimana seorang Presiden mampu menghargai kegiatan keagamaan yang ada di Negara ini.