Mohon tunggu...
Andrie Kw
Andrie Kw Mohon Tunggu...

Baca buku, baca situasi, nulis apa aja tgantung mood. Mengalir saja sambil meniti arus kehidupan.. twiiter @andriekw

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Pilihan

57km Bersepeda di Pesisir Selatan Jawa Barat

5 Desember 2015   22:11 Diperbarui: 6 Desember 2015   06:10 168 1 2 Mohon Tunggu...

Siang itu di ruangan dalam gedung PD. BPR Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya, terlihat wajah –wajah serius sedang berdiskusi dan saling melontarkan argumen beradu dengan aneka gagasan. Ya para perwakilan pemilik saham sedang berdebat membahas tentang rencana perusahaan untuk tahun 2016. Perwakilan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemda Tasikmalaya dan PT.Bank Jabar Banten, Tbk bergiliran memberikan masukan, saran dan pertanyaan. Disambut dengan jawaban penuh semangat dari pengurus PD.BPR Cipatujah. Diskusi terasa hangat dan lancar, sesekali diselingi gelak tawa menjadi penyegar dalam Rapat Umum Pemegang Saham tersebut.

Diriku dan beberapa rekan menjadi bagian dalam pertemuan tersebut, dan terasa betapa melegakannya manakala pimpinan rapat menyatakan pertemuan ini berakhir dengan kesepakatan yang diperlukan menjadi pedoman perencanaan perusahaan satu tahun kedepan. Lebih melegakan lagi karena ada agenda lanjutan yang tidak kalah menantang yaitu bersepeda bersama menyusuri pantai Cipatujah menuju pantai pangandaran Kabupaten Pangandaran.

Setelah rapat berakhir, dilanjutkan dengan makan siang.. eh makan sore ding, soalnya udah jam 3 sore. Hujan rintik berubah menjadi hujan deras, sehingga rencana bersepeda ria meyusuri pesisir pantai harus didiskusikan ulang. Hasil rapat kilat, Startnya dari kantor kas PD. BPR Cipatujah yang terletak di daerah kalapa genep alias coconut six.. hehehe maksa, sekitar 30km dari lokasi saat ini. Setelah semua setuju, maka selepas perut kenyang dengan aneka sajian seafood, rombongan bermobil menuju daerah coconutsix. 

Tepat jam 4 sore, semua sudah berubah... dari kemeja berdasi dan berbatik menjadi stelan kaos ketat sepatu olahraga dan tidak lupa sepeda masing-masing lengkap dengan  berbagai aksesoris. Setelah berdoa bersama, perjalanan dimulai menembus gerimis hujan yang setia menemani.

Sejujurnya ada rasa khawatir dalam diri karena ini merupakan rencana bersepeda yang sangat menantang. Terutama rute yang cukup panjang sekitar 60 km dengan kontur jalanan yang menanjak, bakal sampe nggak yach?... tapi rasa khawatir itu segera ditepis, yakin tidak sendiri, ada coach yang siap mengawal. Mr Irfan telah bersiap dengan segala kemungkinan termasuk memasang lampu sepeda jika harus menembus malam. Perjalanan awal begitu menyenangkan, menembus sore hari yang hujan serasa melemparkan kembali angan di masa kecil yang begitu bahagia dikala bersepeda dalam hujan. Perjalanan masih landai dengan pemandangan bentang pantai selatan di sisi kanan, begitu melegakan.

“Atur kayuhan, konsentrasi, tetap konsisten dengan gerakan kaki, jangan terganggu orang lain yang menyusul, jaga konsisitensi” teriakan coach membuyarkan lamunan masa kecil, kembali konsentrasi melihat bentang jalan beton yang terlihat panjang mengular, tenang masih belum ada tanjakan. Tapi ternyata didepan sudah dimulai jalanan naik, terasa lutut agak memanas. Kembali teriakan coach menggema, “Konsisten, mainkan gigi, gunakan jari kanan untuk meringankan dan jempul kanan mengembalikan posisi” Tanpa basa-basi, jari telunjuk dan jempol berusaha mengatur ritme gigi termasuk telunjuk dan jari tangan kiri. Coach terus memberi aba-aba, “2x telunjuk kanan, 1x lagi” disaat menanjak dan pada saat mulai mendatar, jempol kanan yang bekerja”

Itu yang terus dilakukan oleh coach, malah dipaksa untuk bernyanyi pada saat menanjak, mana bisa wong nafas juga tersengal-sengal. Tapi diriku berusaha konsentrasi, konsentrasi dan konsentrasi sehingga beberapa tanjakan awal bisa dilewati meski dengan susah payah. Sementara anggota rombongan yang berjumlah 32 pesepeda semakin jauh meninggalkan diriku. Ingin segera mempercepat kayuhan untuk menyusul mereka, tetapi coach langsung berteriak, “Jaga emosi, tetap konsisten, jangan di forsir, perbaiki posisi tubuh, tetap stabil dan konsisiten.”

Akhirnya tanjakan demi tanjakan bisa terlewati, meskipun berada di posisi buncit terakhir tetapi tidak jadi masalah karena targetnya bukan siapa yang duluan sampai tapi bagaimana kita bisa sampai. Setelah terlihat stabil, coach meninggalkan diriku mengayuh dalam kesendirian ditemani hujan yang semakin melebat. Sesekali mulut dibuka dan wajah disorongkan untuk menampung tetesan hujan, “Lumayan mengurangi rasa haus hehehehe”.... setelah hampir 2 jam bersepeda menyusuri jalan Kalapagenep – Ciparanti – Legok Jawa - Cimerak, akhirnya pukul 17.50 wib tiba di pemberhentian pertama sekaligus menengok kantor PD. BPR Cimerak Kabupaten Ciamis. Segelas teh manis panas menyambut dengan santun, memberi energi baru untuk melanjutkan perjalanan sementara hujan lebat masih menggila.

Beristirahat sekitar 10 menit ditambah welpi (photo bersama) dengan gaya masing-masing, tepat pukul 18.00 wib maka perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan Cimerak menuju Cijulang. Tantangan sekarang adalah kondisi jalan penerangan yang minim hingga gelap sama sekali, sementara sesekali cahaya kendaraan begitu menyilaukan agak mengganggu handling pada saat jalan berliku dan menurun. Konsentrasi menjadi sangat penting. Untung rekan satu kantor begitu setia menemani di belakang dengan kijang birunya, thx u bu lilis dan pa tresna.

Peserta mulai berguguran, banyak yang berhenti ataupun di loading dengan kendaraan roda empat. Dirikupun mulai merasakan jari-jari tangan kanan mati rasa dan paha semakin pegal, tetapi semangat untuk menuntaskan perjalanan mengalahkan segalanya. Dengan terus berdzikir memohon perlindungan kepada Allah SWT, sepeda hijauku terus bergerak menembus gulita malam melewati pintu masuk Green Canyon (Cukang Taneuh) daerah Cijulang – Parigi hingga memasuki area perumahan Cikembulan.

Di perempatan tersebut, sang coach Mr. Irfan Hadisiswanto menanti dengan setia, mengarahkan untuk belok kanan memasuki gerbang pantai pangandaran dari sisi barat bukan via gerbang utama. “Kamu masih kuatkan?” Coach bertanya dengan mata berbinar. “Siap, masih coach” teriak diriku gembira. Kami berdua tertawa lebar. Berjalan beriringan memasuki pesisir pantai pangandaran, terasa badan begitu ringan dan pegalpun perlahan hilang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN