Mohon tunggu...
Andri Asmara
Andri Asmara Mohon Tunggu... Penulis

Musik adalah serpihan bebunyian surga yang jatuh ke dunia.

Selanjutnya

Tutup

Musik Artikel Utama

Membaca Sejarah melalui Musik

24 Mei 2019   03:00 Diperbarui: 27 Mei 2019   17:18 0 13 6 Mohon Tunggu...
Membaca Sejarah melalui Musik
Ilustrasi Piringan Hitam | (KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN)

Sedari kecil, mungkin kita bisa mengetahui suatu sejarah dengan hanya membaca buku pelajaran yang dibagikan oleh sekolah. Misalnya tentang sejarah bangsa Indonesia yang melawan penjajahan, atau tentang sejarah nabi-nabi yang diturunkan untuk menyebarkan ajaran agama. Sejak adanya internet, informasi sejarah sangatlah gampang untuk dicari melalui Google dan lainnya.

Informasi yang diberikan oleh buku maupun Google terkadang sifatnya hanya memaparkan fakta. Berbeda kalau kita membaca novel yang bertema sejarah seperti punya pak Pram, mungkin imajinasi kita menuntun adanya gambaran cerita yang ada. Apalagi setelah di visualisasikan di film, otak kita tidak capek lagi mengandai-andai kejadian didalam cerita. Namun, pernahkah anda dirangsang musik yang melekatkan pikiran kepada zaman / waktu tertentu?.

Ambilah contoh seperti mendengar Sepasang Mata Bola, Melati di Tapal Batas Bekasi, Selendang Sutra milik Ismail Marzuki. Lagu ini kental akan romansa percintaan dikala pejuang Indonesia sedang dalam masa peperangan merebut kemerdekaan.

Dua orang yang berpisah lantaran kewajibannya memerdekakan tanah air adalah situasi dan kondisi yang tidak kita jumpai disaat ini. Percintaan yang tak hanya memuja satu sama lain, namun saling mendoakan dan berharap pulang dengan selamat. Sungguh, mereka  bercinta diantara kegentingan.

Atau ketika kita mendengarkan lagu Mari Bersuka Ria milik Bung Karno yang menceritakan tentang kemakmuran Indonesia pasca kemerdekaan. Di lagu ini juga terselip semboyan Indonesia anti NEKOLIM, yang mana pada saat itu pemimpi negeri ini bersusah payah untuk mengukuhkan ideologi Pancasila. Disamping itu, lagu ini juga melegitimasi kebijakan Bung Karno tentang pelarangan musik Ngak-Ngik-Ngok ala Beatles yang sedang digemari di Indonesia.

Berbeda lagi ketika mendengar lagu Langit Ketujuh milik Arie Koesmiran. Dari lirik dan segi musiknya cukup berani mendeskripsikan kronologis saat mengkonsumsi barang terlarang. Lagu ini juga menandai bahwa ternyata negeri ini pernah mengalami periode shock culture dari budaya psikedelik barat, dimana kebebasan adalah gaya hidup. Dalam periode ini banyak karya dari musisi Indonesia yang hilang, entah itu dimusnahkan atau dikeruk oleh kolektor luar. Sehingga kepopuleran periode ini jarang diketahui oleh millenial saat ini.

Dari 3 Contoh diatas bisa dilihat bahwa musik bisa menjadi sarana mempelajari sejarah secara menyenangkan. Mengapa menyenangkan ? Karena musik membawa muatan informasi yang auditif. Sejarah itu dibunyikan menggunakan teknologi yang ada pada masa itu. Selain memaparkan lirik yang mendeskripsikan waktu, kita bisa mendengarkan hasil teknologi termaju saat itu yang mana tidak kita jumpai saat ini. Seperti hasil rekaman, bentuk fisik musiknya, atau secara gaya musik yang mewakili periode itu.

Karena secara psikologis, bunyi mempengaruhi ingatan kita akan waktu tertentu. Seperti bunyi alam (ombak, nyanyian kodok, jangkrik) bagi kaum urban di kota besar yang mengingatkan tentang kampung halamannya. Atau seperti bunyi sirine ambulan yang bagi sebagian orang mengingatkan akan keluarganya yang meninggal. Bisa juga bunyi petasan yang mengingatkan waktu kecil sebagai anak nakal. Masih banyak lagi contoh lainnya.

Musik lebih kuat dalam menghadirkan memori itu. Didalamnya ada deskripsi lirik yang menandai peradaban dimasa itu. Bisa tentang trend saat itu, situasi negara saat itu, atau tentang gaya menggombal kepada wanita juga bisa terefleksikan didalamnya.

Musik mempunyai andil dalam sejarah yang sukar untuk dibengkokan. Musik hadir tidak hanya dalam bentuk cerita, ia hadir dalam bentuk bunyi yang menandakan perkembangan peradaban. Lalu, apa yang harusnya dilakukan oleh generasi kita dalam memberdayakan itu?.

"Adalah tugas seorang seniman untuk merefleksikan waktu." --Nina Simone-



Andri Asmara