Mohon tunggu...
Andri Asmara
Andri Asmara Mohon Tunggu... Penulis

Musik adalah serpihan bebunyian surga yang jatuh ke dunia.

Selanjutnya

Tutup

Musik Artikel Utama

Ketika Dangdut Tak Lekang Dimakan Zaman

1 Mei 2019   05:00 Diperbarui: 1 Mei 2019   16:46 0 7 2 Mohon Tunggu...
Ketika Dangdut Tak Lekang Dimakan Zaman
Rhoma Irama dan Soneta Grupm Mengoyang Synchronize Fest (Sumber: entertainment.kompas.com)

Suatu sore, tetangga saya mempunyai hajatan. Anak semata wayangnya sedang khitanan atau disunat. Untuk memeriahkan acara, mereka menyewa grup musik dangdut dari perkotaan. Panggung dan sound system di halaman rumah sudah siap untuk dipakai. 

Dua biduan molek sudah duduk di kursinya sambil membenarkan letak bulu mata yang sedikit mengganjal.  keyboard, gitar, bass, suling  dan kendang sudah siap di posisinya. Masuklah seorang lelaki berambut gondrong, tambun dan berkacamata pemaina. Ia pembawa acara yang merangkap sebagai pemain tamborin dan penyanyi latar. Dengan memperkenalkan nama grupnya secara  lantang dan meriah, penonton pun tergerak merapat ke depan panggung.

Gendang mulai bertalu, disusul betotan bass yang mengikuti irama dan raungan gitar distorsi memainkan lead intro. Biduan beranjak dari kursinya ke muka panggung. Dengan lantang mengucapkan selamat sore dan menyapa penonton secara genit. 

Penonton kegirangan melihat biduan molek berpakaian yang sensual. Ia mulai menyanyikan sebuah lagu pembuka dengan apik. Pertunjukan musik dangdut sudah dimulai dan lagu demi lagu terus dilantunkan. 

Penonton berjoget bersama tanpa kenal batasan usia, mereka menikmati, sampai mengapresiasi dengan cara nyawer. Seusai lagu terakhir dibawakan, penonton bubar dengan tertib dan pemain musik dangdut berkemas untuk melanjutkan show di tempat lain pada malam harinya.

Itulah sedikit penggambaran tentang musik dangdut yang militansi performanya di daerah pedesaan. Dangdut sudah mengakar di masyarakat sebagai bentuk hiburan yang menyenangkan. Selain itu mereka juga terpuaskan dengan performance biduan yang molek dan cantik bersuara merdu memikat. Bisa dikatakan bahwa kebutuhan mereka untuk berjoget melepas lelah dan melupakan masalah adalah cara mereka menikmati dangdut sebagai self healing, menghibur hati yang lara.

Jika kita mau menelusuri, sejarah terbentuknya dangdut dipicu oleh gabungan berbagai gaya  musik. Di antaranya ialah pengaruh dari gaya musik dari Orkes Harmonium, Orkes Gambus, dan Orkes Melayu yang berakulturasi di setiap dekade mulai tahun 1930-an. 

Kronologi ini merujuk pada buku Andrew N. Weintraub di buku kajiannya Dangdut: musik, identitas dan budaya Indonesia. Namun istilah dangdut baru ada pada awal 1970-an yang diprakarsai oleh majalah aktual untuk mengkategorikan musik dari orkes melayu yang sedang ramai didengarkan.

Mungkin karena terlampau fleksibel menerima pengaruh baru, dangdut selalu dinamis mengikuti zaman. Bisa kita lihat, di masa raja dangdut Rhoma Irama muncul ialah saat musik rock menggempur telinga anak muda Indonesia. Rhoma mencoba untuk menawarkan bentuk baru, musik dangdut bergaya rock. Walaupun awalnya musik dari Rhoma banyak kontradiktif yaitu dicaci, ditolak, dan dicemooh, namun kenyataannya musiknya tetap diterima setelah konsistensi Rhoma terbuktikan.

Tidak hanya selesai disitu, dangdut selalu bisa mencari pembaruan. Muncul dangdut formasi akustik ala PMR dan PSP di tahun 80-an menjadi corak musik yang baru yang mencerminkan gaya mahasiswa menertawakan nasibnya di kampus. 

Pemilihan lirik PSP (Pancaran Sinar Petromak) yang tak jauh dari problematika kampus yang kadang meresahkan menjadi daya tawar baru untuk pendengar musik. Lalu PMR (Pengantar Minum Racun) yang merefleksikan percintaan yang banal sebagai antitesis band lain yang sedang keranjingan diksi sastrawi. Aransemen sederhana, formasi akustik dengan alat seadanya, lirik yang ringan penuh canda maupun satir, menjadi ciri mereka dalam menyajikan dangdut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x