Karir

Perjalanan Berharga dari Rektor Pataba

8 Juli 2018   22:44 Diperbarui: 8 Juli 2018   22:59 277 0 0
Perjalanan Berharga dari Rektor Pataba
Tak mengenal lagi usia, Soesilo Toer tetap mantap berkarya untuk Pataba (Dokumentasi Pribadi)

Saat itu jam tangan menunjukkan waktu pukul 13:30 WIB, hari Sabtu, 17 Februari 2018. Bertempat di Auditorium FBS Universitas Negeri Surabaya. Walaupun meleset hingga satu jam dari rencana awal acara, namun audiens tetap menunggu dengan khidmat sosok yang mereka kagumi. 

Tepat setelah tampilan tari tradisional Banyuwangi menjadi simbol pembukaan acara, pembawa acarapun memberitahukan bahwa acara utama bertajuk Talkshow berjudul "Kacamata Merah Soesilo Toer" akan segera dimulai. 

Audiens pun bertepuk tangan saat bung Soes, panggilan akrab Soesilo Toer menaiki panggung melambaikan tangan. Maka dimulailah acara Talkshow selama kurang lebih dua jam itu dengan tema khusus perjalanan Soesilo Toer sebagai seorang "Rektor". 

Bukan Rektor sang pemimpin universitas itu. Namun "Rektor" merupakan kependekan dari Pengorek Kotor. Beliau dikenal sebagai pengorek kata menjadi sebuah mahakarya.

Soesilo Toer yang mengakui dirinya sebagai pro liberal, seorang individualis, dan seorang nihilis, merupakan adik ke-6 dari sastrawan legendaris Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. 

Dibayang-bayangi oleh kesuksesan kakaknya, Soesilo Toer pun bertekad untuk mengalahkan Pram diberbagai bidang. Disaat Pram berkecimpung sebagai seorang pengarang, bung Soes pun merambah ke dunia kepenulisan. 

Bung Soes memulai sedari usia 13 tahun dengan karya pertamanya, sebuah artikel berjudul "Aku ingin jadi Jenderal" dan dipublikasikan di majalah Kunang-kunang. Saat ia baru berusia 15 tahun, bung Soes dipercaya menjabat sebagai kurator di salah satu agensi pers masa itu. Menurutnya, menulis memang ditakdirkan menjadi jalan hidup bagi keluarga Toer, termasuk dirinya. 

Namun, beliau memiliki prinsip yang berbeda dengan si abang Pram diberbagai hal, bukan hanya genre kepenulisan saja yang berbeda, tapi mereka juga memiliki ideologi/ pandangan hidup yang berbeda untuk menjadi bahan acuan kepenulisan mereka. 

Disaat Pram berkutat dengan idealisme Realis Sosialisme-nya. Soes lebih memilih mengangkat idealisme Realisme Sosial di setiap karya yang ia terbitkan. Salah satu karya yang menunjukkan idealisme bung Soes ini adalah artikel berjudul "Nasihat Perkawinan". Karyanya itu bahkan dimuat oleh beberapa majalan terbitan luar negeri.

Bung Soes di masa mudanya berkuliah di 3 tempat sekaligus. Selain mengambil studi ekonomi di UI, beliau menambah jam belajarnya dengan mengikuti kursus perbukuan. 

Tidak puas dengan hal tersebut, bung Soes pun kemudian berkuliah di Akademi Keuangan di Bogor. Karena ketekunannya dalam berkuliah dan berkarya sebagai penulis produktif. Soesilo Toer pun mendapat beasiswa pemerintah untuk melanjutkan studinya ke Uni Sovyet, beliau memilih studi ekonomi politik selama berkuliah di Sovyet. 

Sejatinya, bung Soes tidak memiliki keinginan untuk terjun ke dunia politik, namun beliau berprinsip untuk mempelajari juga ilmu politik, karena Indonesia menurutnya merupakan negara homopolitikus

Walaupun beliau berkuliah di Sovyet, namun jiwa kepenulisannya tidak pernah luntur, Soesilo Toer pun menyambi kuliahnya dengan bekerja sebagai penulis disalah satu stasiun radio di Sovyet.

Namun bukan Toer namanya apabila tidak bergesekan dengan aparat yang berkuasa. Setelah pulang dari Sovyet, Soesilo Toer pun di penjara tanpa pengadilan yang sah oleh pemerintah orde baru karena dituduh sebagai komunis. Beliau di penjara selama 6 tahun, terhitung sejak kepulangannya pada tahun 1972 hingga bebas pada tahun 1978. 

Sesaat sebelum dibebaskan, bung Soes diancam untuk tidak menuliskan segala sesuatu yang beliau dapatkan selama 6 tahun di penjara. Namun jiwa liberalis dan sisi kepenulisan secara naluriah menuntun sang pengagum Dowes "Multatuli" Dekker ini untuk menuliskan segalanya, termasuk tindakan yang selalu ia terima selama di bui. Jiwa kepenulisan yang bahkan saat ini masih terjaga, meskipun di usianya yang 81 tahun.

 Soesilo Toer pun meyakini bahwa sejatinya manusia memiliki fungsinya masing-masing. Beliau berpegang teguh dengan salah satu kutipan dari Multatuli, bahwa "Tugas manusia adalah menjadi manusia itu sendiri.

Menurut tafsiran bung Soes, manusia memiliki tujuan hidup yang berbeda, jadi janganlah kita memaksakan kehendak. Beliau berpikiran sebagai  seorang liberal yang dibesarkan oleh hedonisme. 

Sebagai seorang penulis senior yang sudah merasakan nikmatnya mengais rezeki di negeri orang, hingga kerasnya batu di dalam jeruji besi di negeri sendiri. Beliau berpesan agar penulis-penulis muda Indonesia harus selalu menjaga sikap curiousity oleh pembaca. "Bikinlah kata-kata sedemekian rupa agar orang-orang penasaran dengan apa yang akan kamu tulis nanti." 

Ucapan terakhirnya menutup sesi Talkshow "Kacamata Merah Soesilo Toer" dengan diikuti tepuk tangan meriah audiens yang mayoritas merupakan pegiat kepenulisan di Indonesia kelak mengiringi sosok luar biasa itu kembali ke Blora, ke perpustakaan yang beliau kelola, perpustakaan Pataba namanya.