andi chairil
andi chairil

Mantan wartawan dan praktisi media elektronik

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Artikel Utama

Cerita di Balik Proses Berlabuhnya "Mata Najwa" di Trans 7

11 Januari 2018   21:16 Diperbarui: 12 Januari 2018   10:18 3006 17 6
Cerita di Balik Proses Berlabuhnya "Mata Najwa" di Trans 7
Foto: Tribunnews.com

Suatu hari di 'leher' tahun 2017.

"Andi, sudah dengar Najwa Shihab resign dari Metro?", suara seorang petinggi di TRANSMEDIA di ujung gadget.

Setelah sambungan telepon berakhir, saya diam sejenak memikirkan info dari tersebut. Selain saya belum mendengar info --mengejutkan-- tersebut, juga konsep apa yang menarik yang akan saya ajukan ke Najwa Shihab. 

Karena menganggap itu isu jamak di kalangan broadcaster bila ada pentolan punggawa TV yang keluar (dan masuk) stasiun TV dan juga belum menemukan konsep ciamik, maka permintaan agar saya menghubungi Najwa Shihab pun saya tunda.

Beberapa hari mudian, saya tiba-tiba bersua dengan petinggi TRANSMEDIA tersebut dan menanyakan kabar soal Najwa Shihab. Gelagapan sesaat, mencuat alasan bahwa Nana --sapaan akrab Najwa Shihab-- belum tersambung. "Mungkin sedang di luar kota, Pak. Nanti segera saya coba hubungi kembali," ujar saya berkilah. 

Namun dalam hati, saya juga masih bingung dengan konsep sebagai daya tarik untuk mengajak Nana bergabung ke TRANS|7. Karena jika konsep Talk Show masih mirip dengan "Mata Najwa" tentu akan terkesan aneh. Semacam duplikasi. 

Karena itu, saya mendiskusikan dengan kolega di Programming perihal info sekaligus konsep yang dapat diajukan ketika menghubungi Nana -- sehingga bertemu tidak dengan tangan kosong.

Saat masih sama-sama memikirkan konsep yang tepat untuk Primie 3 -- Prime 4 antara Pkl. 21.00 -- 22.00 WIB, saya mengirim WA kepada Nana yang berisikan meminta waktu sekaligus memperkenalkan diri karena kami memang belum saling mengenal. 

Cukup lama belum ada balasan, akhirnya Nana menyampaikan melalui WA, "Saya masih di luar Jakarta dan nanti akan saya kabari". Itulah kontak pertama saya dengan Nana.

Hingga akhirnya kami janji untuk bertemu di sebuah tempat di kawasan Kemang. Saya datang menemui Nana bersama Leona -- Kadiv Programming -- dan setelah saling perkenalkan diri serta percakapan pembuka, kami masuk dalam focus pertemuan. 

Dan yang mengejutkan saya dan Leona, ternyata Nana resign tidak dengan seorang 'diri' tetapi program yang selama 10 tahun diasuhnya pun ikut bersama. "Jadi gak perlu repot-repot memikirkan konsep baru untuk Nana," gumam saya dalam hati.

Pada pertemuan pertama itu, saya dan Leona tidak menanyakan alasan Nana resign dari Metro. Fokus saya justru:

"Benaran 'Mata Najwa' bisa ikut pindah juga?"

Nana menjelaskan bahwa itu salah satu penghargaan yang diberikan oleh Pak Surya Paloh dan Pimpinan di Metro. Dan juga mungkin sebagai gambaran kedekatan Najwa Shihab dengan pemilik Metro tersebut. 

Tidak banyak yang kami bahas karena moment saat itu lebih untuk mengutarakan mengajak Nana -- dan akhirnya dengan "Mata Najwa"-nya untuk bergabung di TRANS|7. 

Nana, yang datang bersama seorang kepercayaannya, Keket, yang lebih banyak menjelaskan, memahami keinginan saya dan sembari mengajukan beberapa pertanyaan. Sekitar 1 jam pertemuan kami akhiri dan masing-masing membuka kesempatan penjajagan lebih jauh.

Tak lama dari waktu pertemuan tersebut, tiba-tiba mencuat pernyataan resmi bahwa Najwa Shihab berhenti dari Metro TV dan program "Mata Najwa" yang kesohor di kalangan intelektual itu otomatis memasuki episode-episode terakhir. 

Banyak orang bertanya-tanya, akan berlabuh ke 'dermaga' mana Najwa Shihab dan "Mata Najwa"?

Dalam pertemuan-pertemuan selanjutnya, saya tetap tidak pernah mengenakan seragam TRANS|7. Maklumlah saya berusaha menghindari gossip-gosip. Apalagi ada yang bilang akan TV anu, TV itu atau TV sana. 

Toh Nana secara terbuka juga menyampaikan bahwa ada beberapa stasiun tv tengah menjajagi. Yang menarik, di antara pertemuan-pertemuan, tiba-tiba salah seorang kolega Direksi menghubungi saya.

"Mas, itu Najwa Shihab ramai. Dia resign. Gak mencoba dekati?" kata Mbak Susi. Memang dalam proses penjajagan ini, saya tidak terlalu banyak memberi informasi terbuka. Termasuk ke sesama Direksi. 

Bahkan saya pun tidak meng-up date perkembangan pertemuan dengan Nana kepada petinggi TRANSMEDIA yang memberi info awal ke saya. Bagimanapun saya dan TRANS|7 hingga saat ini juga menjaga rasa dan hati teman-teman Metro, yang melahirkan program ini pertama kali.

Akhirnya dalam suatu kesempatan, saya pun mengajak beberapa orang berkompeten, termasuk Mbak Susi -- Direktur FRM TRANS|7 -- dalam sebuah pertemuan dengan Najwa Shihab. 

Dan semua berjalan mengalir. Saling memahami harapan satu sama lainnya. Tidak ada upaya untuk saling memnafaatkan situasi untuk mengambil keuntungan. Karena kami sepakat tujuan sebuah program, terutama "Mata Najwa" banyak sisi idealis dan edukasi (politik). 

Bagi saya dan tim Produksi TRANS|7 adalah kerjasama dengan tim Nana sulit dinilai secara materi karena kami mendapat insight tentang mengelola program talk show politik berikut kemasannya. 

Dalam hal konten Tim Narasi, yakni Production House yang menaungi Najwa Shihab dan Mata Najwa, banyak membantu. 

Selain soal konten, nyaris semua hal kami diskusikan bersama : thema, nara sumber hingga tampilan. Untuk member yang terbaik bagi pemirsa dan di sisi lain untuk menjaga brand Najwa Shihab sebagai ikon "Mata Najwa" dan TRANS|7 sebagai media TV.

Yang pasti, visi utama Najwa Shihab dan tim -- syarat utama yang diminta, kami pun ingin "Mata Najwa" bersikap independen. Tidak memihak dan tidak terikat dengan kepentingan politik tertentu. Sehingga program "Mata Najwa" tergambar dalam thema episode perdana : Indonesia Rumah Kita.

Sorot matamu tajam.
Menerobos semua dimensi-dimensi yang suram dan kaku.
Ada sebutir air berbentuk Kristal tak kala dirimu lantang menyuarakan kebebasan dan kearifan.
Sebercik sinar mungkin akan muncul manakala dirimu hadir kembali.
Ini catatanku tentang Mata Najwa

  • Saor Simanjuntak, EP TRANS|7