Mohon tunggu...
Anmust
Anmust Mohon Tunggu... Lainnya - Orang pinggiran menulis

Mungkin menulis adalah jalan kedua setelah hidup.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Akad yang Bagaimana?

13 Februari 2021   10:05 Diperbarui: 13 Februari 2021   10:30 68 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Akad yang Bagaimana?
Kata bung Rocky, "Menikah artinya diantara keduanya harus siap melihat indah sebagai fiksi dan melihat buruk sebagai realita. Foto dari pngegg.com

Hari bertambah hari semakin termakan sisa-sisa usia, keadaan hidup semakin menuntut tanggung jawab kepada diri sendiri, hari yang dilewati pun harus menjadi hari hidup yang akan membawa pada fase seperti orang pada umumnya (kerja, nikah lalu menghasilkan generasi).

Keadaan sosial seperti menuntut manusia satu harus sama dengan manusia lainnya. Orang lain pada mengejar mapan ikut mengejar mapan meski apapun caranya, orang lain pada nikah ikut-ikutan nikah entah untuk kebutuhan seks, menciptakan generasi, atau mungkin pamer dilingkungan sosial (iniloh laki-laki ku, iniloh perempuanku. Bahasa kasarnya “iniloh aku laku") haha, rasanya saya ketawa dengan asumsi saya. Ketika salah satu dari banyaknya manusia memilih untuk tidak menikah (karena keadaan atau mungkin rasa trauma yang mendalam) ia akan dekat dengan pembulian atau mungkin fitnahan. Seperti, “wah mungkin dia gay”, “wahhh mungkin dia lesbi” sehingga ia akan dijauhi.

“Jika karena keadaan, mengapa ia memilih untuk tidak menikah?."

Padahal kan dengan menikah segala sesuatu bisa dijalankan dengan bersama lebih ringan dan mempunyai suasana tersendiri. Dan menikah itu akan membuka jalan rezeki, memberi jalan pada diri seseorang lebih bertanggung jawab, dan mempunyai penyemangat ditiap hari-harinya”. Kalau begitu apa manfaat dirimu menikah selain menghasilkan generasi? Jika ternyata dibalik pernikahan mu ada kemerdekaan orang lain yang kamu tabrak seperti cinta orang lain kepada orang yang kamu nikahi, atau mungkin ada kebebasan orang lain yang diam-diam kamu rebut. Dan itu artinya ketika kamu menikah, kamu harus siap bingung, menderita, fikiran tak sejalan, dan cinta (hal fiksi yang indah) yang harus membawa dirimu pada tuntutan tanggung jawab agar kamu bisa memerdekakan hidup bersama.

“Dan jika karena trauma dimasa lalu, mengapa ia memilih untuk tidak menikah?"

Padahal kan laki-laki di dunia bukan satu dan perempuan di dunia bukan hanya satu ada 3 milyar lebih”. kalau begitu artinya setiap kenangan (indah,duka, bahagia) bisa ditinggal gampang saja, dan orang-orang seperti itu bukan berarti tidak melakukan perubahan jalan fikiran atau melangkah tapi lebih kepada kemanusiaan, ketika ia memilih untuk tidak menyakiti atau memberi bahagia kepada orang lain ia melakukannya kepada diri sendiri terlebih dahulu dan itu lebih jelas kepada edukasi diri, bahwa inilah ketika kamu sudah menikah (kebahagiaan harus dibagi dan kesedihan dari orang yang dicinta harus dikurangi). Haha, sialnya lagi fikiran ku bingung sedang membicarakan pernikahan yang bagaimana?

Hingga hampir 30 menit saya duduk mendengar musik resepsi pernikahan tetangga, saya teringat pada kata-kata Socrates(filsuf Yunani kuno) yaitu, 

“untuk anak muda, jika kamu menikah dan tidak menikah, maka kamu akan menyesal. Tapi, apa pun yang terjadi, menikahlah. Kalau kamu mendapatkan pasangan yang baik, kamu akan menikah, jika mendapatkan pasangan yang jelek, kamu akan menjadi filsuf”. Dan kebetulan Istri dari Socrates merupakan istri yang dikenal pemarah dan jelek, namun karena pemarah dan jelek istrinya sehingga dia menjadi seorang filsfuf. Dan maknanya adalah jikalau hidupmu akan selalu memikirkan apa yang kamu alami, dan ketika kamu berpikir dan menjadikan hal itu sebagai motivasi hidup, maka kamu mendapat keberhasilan dalam hubungan berpasangan.

Namun disisi lain sembari meminum kopi saya teringat kata-kata Niestche(filsuf asal Jerman) yakni, 

“jangan menikah karena cinta, namun menikahlah dengan orientasi pada lahirnya generasi-generasi hebat dan berguna bagi bangsa dan negara”. Janganlah kamu menjanjikan cinta yang abadi, karena itu absurd dan bohong, tetapi dengan perkataan disertai perbuatan. Jiwa saya hanya terdiam diantara diantara musik resepsi pernikahan dan nasib tua yang belum menikah. Bagaimana kalau saya menikah lalu menghasilkan generasi yang tidak bejus, tidak produktif, tidak berguna bagi bangsa dan negara?, Itu artinya pernikahan saya telah membawa kegagalan pada pendidikan anak dan bisa jadi pernikahan saya adalah beban manusia lain ketika anak itu sudah lahir (harus difikirkan sekarang, apa yang harus kamu lakukan jika itu terjadi).

Hingga tak sadar sore telah meninggalkan saya, seperti fikiran-fikiran tidak jelas itu meninggalkan saya.

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x