Mohon tunggu...
AMRUL HAQQ
AMRUL HAQQ Mohon Tunggu... Student of Political Science

Aku bukanlah Aku, Aku hanyalah wadah kosong, untuk Sang Maha Aku.

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Menyatukan Kembali Cebong-Kampret Pasca Pilpres

17 April 2019   23:23 Diperbarui: 18 April 2019   08:29 0 1 1 Mohon Tunggu...

17 April yang dinanti sudah terlewati, semangat berdemokrasi sudah terlunasi, tinggal menunggu KPU memberikan realase rekapitulasi. Namun, apakah cebong dan kampret bisa duduk bareng membangun harmoni lagi?

Cebong dan kampret adalah sebutan untuk para pendukung pasangan capres-cawapres 2019 baik yang militan atau non militan, baik yang garis keras atau garis lemas, baik yang story WA dan instagramnya selalu update dan yang masih kudet, kalau si Ali pilih 01 pasti dicap cebong, pun sebaliknya jika si Parmin adalah pendukung 02 pasti dibilang kampret.

Sebenarnya apa yang diperdebatkan dua kelompok ini bukan sekedar jago-jagoan pasangan pilpres, akan tetapi mereka memang memperdebatkan nasib Indonesia 5 tahun mendatang, dengan berbagai argumen dan data yang shahih li ghoirihi menurut masing-masing kelompok, meskipun ada beberapa data yang dicap ngawur dan tidak mendasar. Disisi lain Indonesia bukan punya si cebong dan kampret, akan tetapi ada golongan putih yang belum mendapat nama sebutan, mereka yang kecewa atas pemerintahan sekarang atau antipati politik atau apapun alasannya, golongan putih juga warga Indonesia yang memiliki hak dan kewajiban  yang sama.

Berbulan-bulan masa kampanye dijadikan ajang kuat-kuatan massa, dengan cara apapun termasuk membuat kabar palsu/hoax untuk menjatuhkan lawan, atau dengan memanfaatkan emosi umat dengan menukil ayat Quran atau Hadist sebagai argumen yang terkesan tafsirnya dipaksakan, ijtima ulama 2 jilid, munajat berjamaah, konser akbar dan berbagai macam cara-cara lain, yang pada akhirnya memuat kepentingan yang sama yaitu RI 1 dan seluruh perangkatnya.

Ada yang terburu-buru membuat list nama-nama calon menteri, ada yang tahu jika tidak akan terpilih menjadi menteri pindah haluan nyaleg DPR RI, ada yang membangun kembali elektabilitas setelah ketua 'dijebak' dan berakhir di KPK, atau salah satu kadernya terkena OTT serangan fajar. Ada yang sujud syukur duluan, ada yang menghimbau untuk tidak terlena dengan hasil quick count. Semua sibuk dengan kepentingan masing-masing golongan, sementara cebong dan kampret yang sudah terlanjur menjadi musuh bebuyutan mereka saling serang sampai dengan yang berbeda berani tutup mulut sampai buang muka.

Cebong-kampret sebenarnya adalah hasil polarisasi, pengelompokan yang di desain sedemikian rupa dan lebih tragis lagi mereka adalah korban kepentingan elite politik sampai menggadaikan persatuan dan persaudaraan. Pertanyaan finalnya adalah apakah mereka bisa bersatu kembali setelah hasil quick count menunjukkan kemenangan disalah satu pihak, atau masih berlanjut setelah gugatan ke MK atau sampai pelantikan sang petahana?

Perlu kesadaran dari para cebongers dan kampreters garis keras dengan segala argumennya untuk kembali berpelukan, menerima hasil yang sudah ditetapkan, duduk bareng dan ngopi kembali seperti sediakala tanpa memandang kembali pilpres yang meninggalkan bekas trauma. Pun juga para elite harus bertanggungjawab untuk membuat para followers garis kerasnya agar merangkul kembali apa yang terpisah, karena perjalanan Indonesia masih panjang, bukan sekedar musim 5 tahunan.