Lihat ke Halaman Asli

4 Cara Ciptakan Kenyamanan Antar Umat di Media Sosial

Diperbarui: 15 September 2016   16:25

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kerukunan Antar Umat Beragama - sumber ilustrasi : prageru.com

“Puput sayang, saya tidak mau kayak erdogan. Saya mau menjadi diri saya sendiri. Kalo saya seorang warga biasa, dalil tidak boleh itu bisa dipahami. Saya ini pemimpin semua umat beragama. Ada kewajiban melindungi. Surga nerakanya pemimpin ada pada adil tidaknya keputusan untuk umatnya. Saya sdh disumpah untuk adil pada SEMUA warga Bandung. Kamu tau dari mana, bisa mengukur kadar akidah saya? Kamu Tuhan? Kenapa juga kamu masih haha hihi pake facebook/IG punya Yahudi? NKRI juga sudah memutuskan falsafahnya dengan Pancasila bukan dengan Piagam Jakarta. Hatur nuhun."

Masih ingat rangkaian kalimat di atas? Ya, itulah jawaban Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menanggapi sebuah komentar di akun Facebook miliknya dari akun bernama PuputTyy yang berbunyi: “Smoga pk wali bisa kaya erdogan, ngajinya pinter, membela islam , v toleransi boleh jangan ikut”an msuk greja lah pak,,”

Komentar yang ditulis oleh akun seorang wanita muda yang peduli dengan Palestina (terlihat dari foto profilnya) itu diposting setelah Ridwan Kamil mengunggah status dan foto saat beliau hadir lalu berpidato di sebuah Gereja di Bandung saat malam Natal tahun 2015.

Komentar itu pun menyulut banyak pengguna Facebook yang like dan follow akun Ridwan Kamil untuk ikut berkomentar. Tentunya yang ikut berkomentar itu memiliki agama yang berbeda-beda, sebagian besarnya Islam, Kristen, dan Katolik. Ada yang setuju dengan tanggapan Ridwan Kamil, ada juga yang setuju dengan komentar PuputTyy. Hingga pada saat itu dan keesokkan harinya media sosial lain pun ikut ramai oleh kejadian itu bahkan masuk ke pemberitaan di media massa.

Kesan akan kerukunan antar umat beragama menjadi goyah karena itu, dan itu terjadi di media sosial. Media yang sangat viral, cepat sekali dalam menyebarkan informasi, dan tak sedikit orang yang mudah terprovokasi di dalamnya.

Pertanyaannya adalah,

“Apakah kejadian ini akan hilang atau justru terulang saat malam Natal tahun 2016 nanti?” Mengingat Ridwan Kamil kemungkinan besar akan kembali melakukan kewajibannya itu. Untuk adil kepada semua warganya, yang warganya itu tentu memiliki agama yang berbeda-beda. Belum lagi ucapan ‘Selamat Natal’ yang disampaikan oleh orang Islam kepada teman, kerabat, saudara, atau bahkan kepada warganya yang beragama Kristen, yang masih saja menjadi pro kontra setiap tahunnya.

Harapan saya, pertanyaan di atas itu dijawab dengan kata ‘hilang’ alias tidak terulang lagi.

Tapi memang tidak mudah untuk menjawabnya sebelum ada tindakan-tindakan yang efektif untuk mencegahnya.

Saya punya cara tersendiri dalam upaya merawat hubungan baik dan menjalin kerukunan beragama di Indonesia pada era media sosial seperti saat ini. Cara ini saya dapatkan dari perjalanan hidup saya dari masa kanak hingga dewasa seperti saat ini. Walaupun saya sadar, sebenarnya pengalaman hidup beragama saya ini pasti dialami juga oleh teman-teman yang membaca tulisan ini dalam menjalani hidupnya, khususnya di Indonesia. Tapi saya pun merasa, walau pengalaman ini sama-sama kita miliki, tapi belum tentu semuanya memahami.

Berikut cara-cara untuk merawat kerukunan antar umat beragama di era media sosial:

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline