Lihat ke Halaman Asli

Yosafat Bayu Kuspradiyanto

Undergraduate Student

Tempo, Saksi Nyata Perkembangan Jurnalisme Multimedia di Indonesia

Diperbarui: 26 September 2022   13:50

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Majalah TEMPO (source: Liputan6.com)

Asas jurnalisme kami bukanlah jurnalisme yang memihak satu golongan. Kami percaya bahwa kebajikan, juga ketidakbajikan, tidak menjadi monopoli satu pihak. Kami percaya bahwa tugas pers bukanlah menyebarkan prasangka, justru melenyapkannya, bukan membenihkan kebencian, melainkan mengkomunikasikan saling pengertian. (Filosofi Tempo, Goenawan Mohamad, 1971)

Setelah proklamasi kemerdekaan digaungkan, dunia jurnalistik menjadi hal yang cukup berkembang pesat di Indonesia. Andilnya yang besar dalam menyebarkan informasi penting kepada publik menjadi salah satu alasan terjadinya perkembangan tersebut. Fenomena itu juga yang menjadi cikal bakal lahirnya banyak media berita (massa) baru sebagai tanggapan dari dunia jurnalistik untuk memenuhi kebutuhan publik terhadap informasi.

Tempo menjadi salah satu media berita yang lahir setelah proklamasi kemerdekaan. Dengan mengambil trademark berupa produksi rutin majalah, Tempo mulai diperkenalkan pada Bulan Februari 1971. Edisi perdana majalah Tempo diterbitkan tanpa tanggal dan mengambil judul "Tragedi Minarni dan Kongres PBSI". Baru pada tanggal 6 Maret 1971, edisi perdana resmi dari Tempo diterbitkan dengan mengambil judul "Film Indonesia: Selamat Datang, Sex". 

Jalan Terjal Tempo di Era Orde Baru

Sebagai bagian dari media jurnalistik, Tempo termasuk salah satu media yang cukup lantang dan vokal dalam mengawal isu-isu yang berkembang di ranah publik. Meskipun esensi awal dari Tempo lebih menjurus pada artikel seni, gaya hidup, dan perilaku publik yang segar (dalam bahasa saat ini dikenal sebagai "trending topic"), Tempo juga mampu menjadi media yang tajam dalam memberi kritik terhadap pemerintah.

Contoh tajamnya kritik dari Tempo bagi pemerintah dapat ditemukan pada edisi tahun 1982-an. Saat itu Tempo dengan keras mengecam praktik rezim Orde Baru yang hanya berpihak pada salah satu golongan saja. Tak berhenti disitu saja, Tempo juga turut mengkritik Partai Golkar sebagai kendaraan politik Orde Baru yang tidak pro kepada rakyat. 

Momen itu terjadi tatkala rakyat Indonesia sedang mempersiapkan diri menyongsong Pemilu 1982. Imbasnya, di tahun yang sama Tempo mengalami pembredelan dan sempat mengalami pencabutan izin edar.

Tempo, Pelopor Digitalisasi Media Massa di Indonesia

Pengalaman pembredelan ternyata tak membuat ciut nyali Tempo dalam menyebarkan kebenaran kepada publik. Sebagai produk jurnalistik, Tempo terus mengembangkan sayap dan berusaha mengikuti perkembangan teknologi yang sedang terjadi. Hal itu diterjemahkan oleh pimpinan Tempo dengan hadirnya majalah Tempo dalam bentuk digital. 

Hebatnya, Tempo mampu mencatatkan sejarah sebagai produk jurnalistik pertama di Indonesia yang hadir dalam bentuk digital. Momen ini terasa tepat dengan masuknya era digitalisasi pada media massa di Indonesia yang terjadi pada tahun 1990. Tempo menjadi pelopor diversifikasi media cetak menuju media digital dengan kemunculan laman website tempo.co di tahun 1995.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline