Lihat ke Halaman Asli

Wijatnika Ika

TERVERIFIKASI

When women happy, the world happier

Haruskah Manusia Terus Berperang?

Diperbarui: 7 September 2015   12:38

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dikisahkan bahwa pembunuhan pertama yang dilakukan manusia adalah oleh Qabil putra Nabi Adam as terhadap Habil adiknya sendiri karena urusan perempuan. Lalu sejarah mencatat manusia saling bunuh setelah itu. Dari selisih, menjadi perang dan manusia bertempur untuk membunuh sesama mereka. Dari antar perseorangan, menjadi antar kelompok, suku, negara, dan sekutu sampai hari ini. Tak ada yang berubah dari perang, selain jumlah kematian yang terus bertambah dan alat pembunuh yang semakin canggih. Bahkan kini antar mereka yang berperang bisa saling mengetahui lokasi persembunyian satu sama lain dengan bantuan komputer dan satelit. Dalam dunia kita hari ini yang disebut modern, darah tertumpah dan kota-kota luluh lantak dalam hitungan menit. Robot-robot yang dibuat manusa sebagai produk pengetahuan menjadir pembunuh diri mereka sendiri. 

Adalah Korea, sebuah wilayah di timur Asia yang cantik, kaya dan penduduknya yang penuh kreatifitas tak luput dari perang. Pada masa tradisional, belumlah ada Korea sebab Korea adalah unifikasi dari berbagai kerajaan yang kita kenal Goryeo, Silla, Baekje dan sebagainya. Para pemimpin masa lampau tanah itu berusah menciptakan Korea agar peperangan antar suku dan kerajaan berhenti. Tetapi kemudian, tahun 1948 pasca Perang Dunia II, Korea terbelah menjadi dua negara. Di utara adalah Republik Rakyat Demokratik Korea yang berhaluan sayap kiri dan di selatan adalah Republik Korea yang berhaluan kanan. Tahun 1950an ketika perang saudara antara dua Korea terjadi, banyak keluarga terpecah belah dan terpisah. Itu seperti membelah diri sendiri menjadi dua tapi keduanya ingin menjadi penguasa penuh semenanjung Korea.

Pada 2002, saat tim sepakbola Korea Selatan melawan tim Turki pada FIFA World Cup dan rakyat Korea Selatan sedang dalam gegap gempita, satu kapal perang angkatan laut Chamsuri 357 dan pasukannya dibantai habis pasukan angkatan laut Korea Utara di Northern Limit Line atau batas udara wilayah utara antara Korsel dan Korut. Dalam perang di laut lepas, prajurit tak bisa menghindar layaknya perang di darat. Pilihan mereka hanya dua, menang atau gugur. "Northern Limit Line" sendiri menjadi judul film karya Kim Hak Son yang rilis pada Juni 2015 untuk mengenag peristiwa tersebut, yang disebut sebagai "Second Battle of Yeonpyeong" pada 29 Juni 2002. Di Box Office Korea, film ini berada dalam peringkat tinggi dan ditonton oleh lebih dari 1 juta orang dalam minggu perdana pemutarannya. 

Dalam konteks sejarak perang dua Korea, film ini menyajikan sepenggal kisah dari kesedihan yang berlarut akibat perang. Seperti satu bata bata dari sebuah bangunan. Hanya contoh dari kekejaman perang, tapi mampu membuatku merasa sangat sakit dan menangis saat menontonnya. Dikisahkan seorang petugas kesehatan dari kesatuan angkatan laut bernama Dong Hyeok ditugaskan di kapal perang Chamsuri 357. Tim dalam kapal itu semua berjumlah 27 orang. Nahkoda kapal itu adalah seorang putra angkatan laut senior yang sudah pensiun, yang mengalami masalah dengan tangannya yang selalu bergetar. Dalam perang itu, sang nahkoda gugur dalam mempertahankan kapal yang dibantai. Saat tim penyelamat datang, mereka tak bisa menolongnya karena kapal terbakar api. Beberapa hari setelah upacara penguburan beberapa prajurit yang gugur, tim penyelam menemukan sang nahkoda berdiri kaku sambil memegang kemudi kapalnya yang tenggelam. Dong Hyek menyaksikan itu lewat televisi dan tak lama ia meninggal dunia.

Mereka yang gugur di medan perang akan disebut patriot dan pahlawan, tak peduli siapa yang memulai perang. Mereka yang gugur meninggalkan para ayah tua yang kesepian, istri yang tengah hamil, ibu yang bisu, dan kekasih yang patah hati sepanjang hidupnya. Ketika negara-negara mengokohkan diri mereka dengan bendera sebagai identitas, ditambah batas imajiner wilayah yang ditandai oleh titik koordinat pertempuran menjadi terlalu mudah dilakukan. Pelanggaran batas antara wilayah bisa memicu perang dan pertumpahan darah sengit. Bayangkan, dua Korea yang bernenek moyang dan berfisik serupa bermusuhan begitu kental seolah satu dan lainnya adalah dari bangsa yang berbeda layaknya dulu antara Nusantara dan Belanda. Padahal mereka punya kimchi yang sama, nasi putih yang sama, pakaian-pakaian tradisional yang sama, bentuk rumah sama dan bahasa yang sama. Jika menilik semua persamaan dan 'ideologi' sebagai satu-satunya perbedaan, perang jelas merupakan hal tak masuk akal.

Dan perang yang terus berkecamuk dalam peradaban manusia telah menyuguhkan kita gambar kehancuran dimana-mana. Baru-baru ini krisis tentang para pengungsi korban perang di Timur Tengah menohok dunia. Mereka yang tak bersalah bahkan harus meregang nyawa ditengah lautan. Anak-anak kecil yang bahkan belum tahu cara berjalan dengan baik harus pulang kepada Tuhan dan mengadu bahwa dunia sudah menjadi neraka. 

Haruskan manusia terus berperang? untuk apa berperang? bukankah perang seperti lapangan ujicoba senjata terbaru buatan manusia? diatas semua kesedihan para korban perang dan prajurit yang menjadi boneka perang, para pemilik perusahaan senjatalah yang paling mungkin bisa duduk manis sambil minum secangkir teh di halaman rumah mereka yang nyaman ketika senjata dari perusahaan mereka membunuh jutaan jiwa. 

Depok, 7 September 2015.

 

BACA JUGA:

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline