Lihat ke Halaman Asli

Widya Apsari

TERVERIFIKASI

Dokter gigi, pecinta seni, pemerhati netizen

Haruskah Indonesia Berduka Lagi?

Diperbarui: 1 Oktober 2019   08:27

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokumentasi pribadi

Saya sudah mengamati pergerakan demo ini sejak tanggal 25 Agustus lalu. Dimulai dengan pergerakan mahasiswa terharap RUU KPK yang dianggap melemahkan KPK, dan RUU lainnya yang dianggap bermasalah.

Sebagai masyarakat yang jengah dengan kelakuan anggota DPR dan para pejabat publik, awalnya saya mendukung aksi mahasiswa ini, namun saat ini saya menjadi antipati, dan menganggap pergerakan ini berubah haluan dari tujuan awal

Dokumentasi pribadi

Pergerakan mahasiswa yang awalnya memang memberikan peringatan untuk anggota DPR, berubah menjadi ajang pamer konten sosmed, dengan tulisan spanduk konyol yang menurut saya tidak ada yang lucu. Itu hanya ajang pamer kebodohan mahasiswa. Mungkin mereka ini hanya oknum, tapi cukup membuat saya menjadi antipati. 

Beberapa teman dekat saya mendukung aksi ini dan mengganggap aksi mahasiswa ini pergerakan yang heroik. Namun buat saya ini adalah pergerakan prematur, yang justru berbahaya karena dapat menjadi jalan kepada kelompok-kelompok yang menginginkan Indonesia keos. Terlebih dengan situasi sekarang yang sulit untuk membedakan mana lawan mana kawan. Segala sumber berita dan informasi yang tidak jelas sumbernya, sulit untuk membedakan mana berita real dan hoax, terlebih saat ini semua orang memiliki panggung sendiri lengkap dengan pasukannya di dunia maya, yang tidak jelas kebenarannya. 

**

Dari pagi sudah santer berita bahwa akan terjadi demo besar-besaran di DPR, dan saya bertekad untuk merasakan berada di tengah pergerakan yang katanya untuk negara. 

Pukul 4 sore, saya berjalan dari arah Slipi menuju ke Slipi Jaya, dan saya terhenti di depan Wisma Slipi, melihat anak-anak berpakaian seragam SMA bergerombol dan dihalau Tentara untuk tidak masuk ke daerah Slipi Jaya. Diantara anak yang berseragam SMA ini terlihat orang dengan menggunakan jas berwarna hijau lumur, yang sekilas terlihat sebagai jas almamater. Mereka sedang diarahkan oleh bapak tentara untuk membubarkan diri. 

Dokumentasi pribadi

Kemudian saya berjalan lagi dan terhenti di depan Slipi Jaya. Pusat perbelanjaan yang memiliki sejarah kejadian tahun 98. Dimana terjadi penjarahan dan pembakaaran di sini, kenangan yang tidak mungkin saya lupakan, yang menyimpan kesedihan untuk saya. Masih teringat jelas bangunan ini menjadi bangunan gosong, dengan puing-puing sisa kerusuhan. Dan jangan sampai bangunan yang sudah bangkit dari kejadian masa lalu yang kelam itu harus dia ulangi lagi. 

Dokumentasi pribadi

Saya terhenti dan memandang wajah-wajah pekerja yang akan pulang ke rumah masing-masing dengan wajah cemasnya. Bus Transjakarta yang tidak beroperasi, baik yang ke arah Senayan maupun ke arah Grogol. Membuat pada pekerja ini harus memikirkan cara untuk bagaimana cara unutk pulang. Sementara dikejauhan tampak masa dengan mayoritas berbagu SMA berjalan bergerombol, entah dengan tujuan apa.

Tadinya saya berencana untuk berjalan kaki ke arah DPR, tapi saya mengurungkan niat saya, karena saya masih terbayang hari esok. Dimana saya sebagai individu memiliki tanggungjawab, terhadap pekerjaan, keluarga, dan juga lingkungan saya. 

Saya sudah cukup melihat dan merasakan kekhawatiran orang-orang terhadap pergerakan ini, dan juga melihat wajah bangga anak-anak di tengah kerumunan pergerakan, dan melihat wajah-wajah polisi dan tentara yang lelah sekaligus tergambar kecemasan dan juga tanggungjawab.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline