Lihat ke Halaman Asli

Resensi Film "Lima", Cara agar Kita Bangga Hidup dengan Pancasila

Diperbarui: 2 Juni 2018   21:29

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Foto: Tribunnews.com

Menyimpulkan dari pengalaman saya menonton film "LIMA" (Djakarta Theater, 1/5/2018) yang dibuat oleh kolaborasi 5 orang sutradara berbakat tanah air, seperti: Shalahudin Siregar, Tika Pramesti, Lola Amaria, Harvan Agustriansyah, dan Adriyanto Dewo. Film yang telah menambah wawasan saya tentang arti menjalin dan menyebarkan cinta kasih di dalam keluarga, kerabat, tetangga, teman, dan bahkan diri sendiri. Film ini pula yang memberi ruang pikiran menjadi segar kembali di tengah kondisi yang terjadi di masyarakat.

Alkisah tentang Ibu Maryam yang memiliki tiga orang anak yang berbeda keyakinan, ada yang muslim dan kristiani. Ibu Maryam sendiri yang pernah menjadi pemeluk Kristen, kemudian sepeninggal sang suami yang beragama Kristen, kembali lagi menjadi pemeluk Islam hingga akhir hayatnya.

Keluarga ini telah memberikan kesan harmonis, humanis, dan mengedepankan toleransi meskipun di dalam lingkungan keluarga sendiri.

Diketahui Ibu Maryam pernah memeluk Kristen, namun sudah memeluk Islam kembali, ia tetap mempersilakan bapak Pendeta untuk mendoakannya saat ia dirawat di rumah sakit.

Apa mau dikata, Ibu Maryam wafat tak lama setelah pulang dari rumah sakit. Sebuah pergulatan terjadi dalam diri anak-anak dan kerabatnya saat Ibu Maryam menjemput ajal.

Anak tertua, Fara, beragama muslim, meyakinkan adik-adiknya Aryo dan Adi bahwa ibunda mereka akan dimakamkan sesuai dengan ajaran Islam, berbeda dengan mendiang ayah mereka yang menggunakan tata cara kristiani.

Fara mencoba memberi pemahaman kepada mereka dengan cara yang bijak, bertanggung jawab, serta sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Ibu Maryam yang saat wafat masih memakai cat kuku dan gigi palsu, harus dibersihkan dan dilepaskan karena seorang jenazah muslim harus bersih dari apapun.

Jenazah harus suci dengan cara dimandikan dan diwudhukan sebagaimana umat muslim akan melakukan shalat, sama saat mereka terlahir ke dunia. Aryo dan Adi paham dengan baik apa yang dijelaskan oleh Fara, dengan alasan tersebut menjadi logis, daripada harus dijelaskan dengan emosi dan kaku.

Dalam situasi tersebut, menjunjung toleransi dan musyawarah adalah jalan terbaik dalam memecahkan masalah, tidak peduli meskipun mereka saudara kandung tapi berbeda keyakinan, namun cara orangtua mereka mendidik terlihat dari sikap mereka dalam menyelesaikan masalah yang krusial.

Yang lebih muda mendengarkan baik-baik alasan dan penjelasan dari yang lebih tua, hingga perdebatan kecil saat jenazah Ibu Maryam dimasukkan ke dalam liang lahat, apakah sang anak yang berbeda keyakinan tidak dapat turun ke liang lahat untuk ikut menguburkan?

Di saat seperti ini, sang kakak memutuskan untuk membolehkan Aryo masuk ke dalam liang dengan alasan bahwa Bi Ijah (pengasuh dan asisten rumah tangga mereka) mengatakan dengan yakin bahwa tidak pernah mendengar tentang larangan bagi seorang anak yang berbeda keyakinan untuk ikut menurunkan jenazah orangtua mereka ke liang lahat.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline