Lihat ke Halaman Asli

Abdul Rahman

Jurnalis dan penulis

Novel | Keluarga Soemijat (4)

Diperbarui: 21 Juli 2019   20:52

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Novel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Fotografierende

Setelah Lulus HIS (Hollandsche Indische School)

Soemijat cukup beruntung dapat masuk ke sekolah HIS (Hollandsche Indische School), berbeda dengan teman lainnya yang hanya mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat atau Tweede Inlandsche School (sekolah angka loro) yang hanya ditempuh selama dua tahun.  Di sekolah angka loro ini, hanya belajar membaca dan menghitung. Intinya agar tidak buta huruf saja.  Pengantar  dalam mengajar menggunakan bahasa daerah setempat.

Jika selesai Sekolah Angka Loro, dapat melanjutkan lima tahun lagi di Schakel School.    Lulus dari Schakel School ini setara dengan lulus HIS. Sekolah di HIS pengantar menggunakan bahasa Belanda. Begitu masuk HIS, Soemijat  menjadi anak yang serius dalam belajar. Di sekolah inilah Soemiyat belajar bahasa Belanda dan yang pasti diberi pelajaran tentang manner. 

Berbeda dengan saat masih anak-anak yang cenderung ngeyel. Setelah mulai sekolah Soemijat menjadi anak yang sangat penurut. Apa yang menjadi nasihat guru dan orangtuanya selalu diikuti dan dijalankan.

Kecintaannya terhadap sekolah melebihi dari murid yang lain. Pernah satu hari, hujan sangat deras diikuti angin kencang. Semua murid tak ada yang berangkat ke sekolah. Kecuali Soemijat. Dia tetap datang ke sekolah. Sampai akhirnya  sang guru memerintahkan untuk pulang ke rumah sebab kegiatan mengajar ditiadakan.

Padahal untuk sampai ke sekolah yang berjarak 4 km dari Banjaranyar ke Balapulang, Soemijat harus menempuhnya dengan jalan kaki. Setiap pagi, Turmi, Ibu tirinya menyiapkan  nasi wadang yang digoreng tanpa minyak lalu dikepal-kepal dicampur garam.

Soemijat dibekali nasi satu kepal yang dimakan sambil berjalan menuju ke sekolah.  Selain berbekal sabak untuk menulis pelajaran, Soemijat juga membawa sarung. Sarung itu digunakan setelah pulang sekolah untuk membonceng pedati yang menuju ke arah Banjaranyar. Dengan sarung itu, Soemijat bisa menggantung di bagian belakang pedati.

Pulang sekolah HIS, malamnya, kalau tidak menghapal pelajaran yang diberikan di sekolah, sesekali Soemijat menguping Kandra, ayahnya yang sedang memberi pelajaran agama kepada murid-muridnya.

Sesungguhnya pelajaran yang diberikan kepada murid-muridnya sudah cukup tinggi. Belum cocok untuk Soemijat yang masih anak-anak. Bayangkan saja, saat usia Soemijat belum menginjak sepuluh tahun sudah mencuri dengar pelajaran Tasawuf. Tentang alam Malakut, alam Jabarut, alam Lahut dan Hahut.

 Alam Malakut adalah tahap atau derajat ruhaniyah yang digambarkan sebagai alam atau wilayah kebajikan hakiki atau sejatinya rasa jiwa. Di sanalah dunia Ruh hanya merindukan dan menghendaki Allah semata (tanzih), dan di sanalah Alam Malakut itu menjadi taman jiwa yang hakiki, dengan keindahan Asma' dan sifat Allah yang terpantul dalam hamparan Ruh kekasih Allah.

Sedangkan Alam Jabarut adalah Alam Ilahi yang menjadi hamparan Ma'rifatullah, di mana seluruh elemen satu dalam banyak dan banyak dalam satu, menjelma dalam penyucian tasbih kepada Allah semata. Dunia Rahasia Ilahi, itulah Alam Jabarut. Nah, di atas Alam Jabarut masih ada lagi Alam Lahut, Alam Hahut dan Bahut serta Ahut. (Maha Ghuyubul Ghuyub).

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline