Lihat ke Halaman Asli

Suradin

Penulis Dompu Selatan

Suci, Gadis Simpasai Memiliki Hati Sebening Embun

Diperbarui: 18 Oktober 2021   20:26

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokpri. Suradin

Di pelataran rumah sakit umum Dompu, saya duduk menunggu seseorang. Tak berselang lama, perempuan itu datang langsung duduk di sebelah saya. Saya tidak menggubrisnya. Hanya sekilas menatapnya. Kami tidak saling mengenal satu sama lain. Rambutnya dibiarkan terurai. Tidak mengenakan jilbab sebagaimana perempuan pada umumnya. Tampak dia sedang sibuk berbincang dengan seseorang dibalik handphonenya.

Dokpri. Rumah Sakit Umum Dompu

Tak lama dia beranjak. Ia melanjutkan pembicaraan di dekat pintu masuk rumah sakit. Sejurus kemudian, seorang ibu sekira umur 50-an tahun, keluar dari pintu masuk sambil menuntun tangan seorang lelaki tua yang tampak seumuran dengannya. Terdengar ibu itu bertanya keluarga dan anak dari lelaki itu. 

Samar-samar jawaban yang keluar dari mulut lelaki itu. Ketika menuruni tangga, saya bergegas dan meraih tangan lelaki yang jalannya serupa siput. Ternyata dia buta katarak. Itu berdasarkan penuturannya.

Saya lalu dudukkan di kursi. Pelan. Bicaranya tampak tak jelas arah. Kemudian dia menyebut anak-anaknya. Ada yang di negeri jiran Malaysia juga yang tinggal di pulau Lombok. 

Tapi dia memiliki anak gadis yang sudah menikah di Desa Jambu. Namun memilih menjauh dari kehidupan anaknya karena merasa tidak nyaman. Entah benar yang diceritakannya saya tidak ingin mengejar dengan pertanyaan.

Seorang perempuan muda yang sedari tadi sibuk menelpon lalu datang duduk di samping lelaki itu. Dia bertanya hendak kemana. Lelaki yang bernama Nasrun Hadi Kusuma itu hanya menjawab samar-samar. 

Hidupnya tidak jelas arah. Di mesjid pun dia bisa merebahkan badan. Perempuan itu lalu menawarinya makan. Mentraktirnya. Lalu berjanji memberikan ongkos pulang. Nasrun yang sudah menua, hanya mengangguk tanda setuju.

Dokpri. Suradin

Dokpri. Suradin

Saya ikut membantu, meraih tangannya yang lemah karena di makan usia. Jalannya pelan. Saya menuntunnya. Perempuan itu lalu mengarahkan jalan. Kami berdua coba membawa lelaki tua di warung.

Setiba saya mendudukkannya di salah satu meja. Perempuan muda itu sibuk memesan nasi. Membelikannya air mineral. Lalu mengajaknya berbincang.

Perempuan mulia itu ternyata bernama Suci Mulia Pertama. Tampilannya mungkin terlihat modis. Serupa perempuan jalanan yang di pandang rendah oleh banyak orang. 

Tapi, ketika hendak menawarkan bantuan kepada lelaku tua itu, hati saya basah. Dia memang tidak berjilbab. Apa lagi cadar. Tapi sikapnya membuat perspektif saya berubah sekian derajat. 

Saya seolah menjadi manusia dongkol seperti manusia kebanyakkan yang mudah menjustifikasi seseorang karena tampilannya.

Dokpri. Suci sedang melayani

Suci, mungkin tidak menghadap tuhannya lima kali sehari. Mungkin pula tidak tampil seperti mereka yang sok agamais. Atau jangan-jangan Suci bukan orang kaya di kota ini. Tapi dengan mengulurkan bantuan pada sesama, adalah sikap yang telah membumikan ajaran langit. 

Tuhan tampak meninggikannya. Derajatnya dinaikkan. Malaikat tuhan mungkin sedang mencatat di buku hari pembalasan. Mungkin saja Suci seperti Uwais Al Karni. Namanya tidak di kenal di bumi, tapi harum semerbak di langit-langit tuhan. Suci di pandang mulia. Semulianya perempuan surgawi.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline