Lihat ke Halaman Asli

Rini Wulandari

TERVERIFIKASI

belajar, mengajar, menulis

Awalnya Cuma Kelas Menulis Biasa, tapi..

Diperbarui: 8 Juni 2023   12:17

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ilustrasi gambar dari pixabay

Siang ini aku janjian dengan beberapa murid, belajar menulis di alam. Yang aku sebut "alam" sebenarnya cuma bangku di bawah pohon cemara di halaman sekolah.

Angin masih terasa dingin, karena beberapa hari kemarin hujan terus turun. Tapi bangku kayu di depan kelas itu mengering cepat tak menyisakan bekas air hujan. Jadi kami bisa duduk disana, saling berhadapan dalam lingkaran.

Siap, nulis?, tanyaku bersemangat.  Penuh antusias, mereka segera bersiap dengan kertas dan alat tulis, menunggu aba-aba ku untuk mulai menulis. Aku bilang, cobalah "menggambar" suasana hari ini dengan kebebasanmu, apa saja!

Aku memang tak pernah membatasi apapun keinginan mereka, apakah mau menulis puisi, cerpen atau sekedar tulisan potongan curhatan, bahkan opini, features juga boleh. Ini betulan kelas menulis--jadi menulis saja tanpa beban. Kurang lebih bisa jadi, asah bakat dan ruang curhatan.

ilustrasi gambar dari dionDBPutra

Kelima gadis kelas VII di sekolahku itu, entah sebuah kebetulan atau tidak, berasal dari keluarga "sibuk dan sibuk sekali". Aku mengetahui karena mereka curhat sendiri, ketika kuberi pilihan untuk bergabung di kelas menulis. Diajak menulis, tapi malah curhat, ya sudahlah, ini sebuah kejutan tak terduga buatku. Karena sebagai guru, semakin tahu latar masalah setiap murid, makin ringan untuk cari solusinya.

Maka sejak saat itu kelas menulis menjadi "ruang curhat" mereka dengan cara yang tak aku sangka.

Menulis Dengan Hati?

Aku mulai bisa membaca suasana hati mereka dari setiap tulisan yang dihasilkan. ada kala di hari sore yang baik, mereka justru menulis yang sedih-sedih, tapi di lain waktu ketika hari begitu sendu dan kami putuskan menulis dari teras kelas saja, ternyata mereka justru meluapkan kegembiraan. Aneh memang, tapi itulah kenyataan.

Suasana hati bisa dibaca dari tulisan, begitu juga karakter anak-anak juga bisa kita baca dari tulisan. Ada kecenderungan anak yang selalu merasa tak punya apapun yang bisa dibanggakan, meskipun ia diantar jemput dengan mobil setiap kali pulang dan pergi sekolah. Ada yang selalu merasa tak punya waktu dan kegembiraan, karena begitu banyak pekerjaan di rumah yang harus diselesaikan. Ditambah keributan dengan urusan orang tua.

Tapi ia tak pernah mengeluh soal PR, karena ia jenis anak pintar di sekolah. Tapi ia gadis pemurung. Dan jika ada waktu, aku berusaha untuk bertukar pikiran dengannya. Di ruang labkom yang sedikit tenang dan dingin dengan AC 2 PK-nya. 

Kini selain kelas menulis ada tambahan "pekerjaan baru" menjadi konsultan hati. Sebisanya aku berbagi peran selain sebagai guru, orang tua, juga sebagai teman. Tak terasa semua bisa dinikmati sebagai sebuah kegembiraan lain, terutama ketika melihat mereka lebih mudah bisa tersenyum, dan lebih terbuka hatinya.

Aku ingat diawal ketika membuka kelas menulis--padahal aku juga seorang pembelajar menulis otodidak. Aku cuma menawarkan sebuah kelas menulis, dengan sedikit catatan-- di pengumuman itu, bahwa siapapun pasti bisa menulis, meskipun cuma curhatan hati. Kelas itu sengaja aku tak batasi apapun genre tulisannya. Dan ternyata, anak-anak "bermasalah" itu yang muncul sebagai barisan murid pertama.

Meskipun sebenarnya bukan berarti anak-anak disekolah yang suka menulis adalah anak-anak punya masalah, karena selain mereka juga hadir anak-anak penuh bakat dan semuanya anak yang baik-baik saja hidupnya.

ilustrasi gambar-dewirieka

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline