Lihat ke Halaman Asli

Ribut Achwandi

TERVERIFIKASI

Penyiar radio dan TV, Pendiri Yayasan Omah Sinau Sogan, Penulis dan Editor lepas

Menulis Itu Bukan Sekadar Teknik

Diperbarui: 26 September 2021   06:49

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Aguk Irawan (sumber foto: alif.id)

Menulis itu lebih banyak dipengaruhi hal-hal non teknis. Begitu kata, Aguk Irawan, saat mengisi KKL Online yang diselenggarakan Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah, IAIN Pekalongan, 12 April 2021 silam. Menurutnya, "Hal-hal teknis itu cuma 20 persen. Selebihnya, non teknis. Seperti spiritualitas, motivasi dan lain-lain."

Aguk Irawan merupakan novelis kenamaan yang mukim di Jogja. Ia banyak menulis novel biografi. Beberapa di antaranya Sang Mujtahid Islam Nusantara (Novel Biografi KH. Abdul Wahid Hasyim), Peci Miring (Novel Biografi Gus Dur), CahayaMu Tak Bisa Kutawar (Novel Biografi Mahfud MD), Sosrokartono (Novel Biografi RMP Sosrokartono), dan sebagainya.

Kalau dilihat dari novel-novel tadi, kayaknya sih mas Aguk Irawan memang spesialis nulis novel biografi, yaitu sebuah genre sastra (novel) yang dilatarbelakangi kisah hidup tokoh. Tentu, karya ini berbeda dengan biografi pada umumnya. Pendekatan yang digunakan di dalam mengungkap kisah para tokoh menggunakan pendekatan sastra. Sehingga, kisahan dalam novel ini dikemas dalam cerita fiksi. Bahasanya pun tidak sama dengan buku-buku biografi yang cenderung menggunakan pendekatan sejarah.

Sudah barang tentu, pendekatan sastra lebih longgar sifatnya daripada pendekatan kesejarahan. Pendekatan sastra memungkinkan seorang penulis novel biografi untuk menggambarkan peristiwa berdasarkan impresi, interpretasi, dan intuisinya. Sementara, pendekatan kesejarahan tidak boleh lepas dari perangkat keilmuan yang ketat.

Meski pendekatan sastra lebih longgar, ketekunan tingkat ekstra menjadi sangat dibutuhkan. Terutama, kemauan untuk mengeksplorasi segala hal. "Nah, untuk melakukan itu, kita butuh apa yang namanya kesanggupan untuk tidak menganggap segala sesuatu sebagai hal yang biasa-biasa saja. Makanya, menjadi setengah gila juga diperlukan," kata Mas Aguk.

Seorang penulis, tuturnya, mesti mampu melihat segala sesuatu dengan cara pandang yang berbeda. Bahwa setiap yang ditemuinya---apapun itu---adalah unik. "Cara ini akan membantu kita menemukan konsep tentang apa yang akan kita tulis," jelas novelis yang jebolan Universitas Al Azhar ini.

Namun, seperti diakuinya, untuk sampai pada tahap itu, seseorang yang ingin menekuni dunia menulis perlu melatih diri agar terbangun pembiasaan-pembiasaan yang sebenarnya 'tidak biasa'. Salah satu latihan khusus itu adalah dengan membaca.

"Seorang penulis itu bukan orang yang jago nulis. Tetapi, ia harus punya kebiasaan di dalam dirinya untuk membaca. Membaca apa saja. Tidak selalu harus novel, cerpen, atau karya-karya sastra lainnya. Tetapi, apapun itu bacalah!" ungkapnya.

Membaca, menurut Aguk Irawan yang kini bergelar doktor, merupakan aktivitas yang sebenarnya tidak sederhana. Apalagi di masa sekarang yang sumber-sumber bacaannya tersedia begitu mudah. Internet misalnya, memberikan sarana yang luas dan longgar bagi siapapun untuk dapat mengakses bahan bacaan.

"Tetapi, apakah itu cukup? Tidak. Membaca buku-buku yang jumlahnya sudah sulit dihitung itu juga diperlukan," ujarnya.

Dengan membaca buku, seseorang yang hendak menekuni dunia kepenulisan akan mendapatkan asupan gizi yang baik tentang banyak hal. Tidak sekadar bagaimana menulis, bagaimana merangkai kata-kata. Akan tetapi, dengan membaca, seseorang juga akan mengasup daya pikirnya supaya pikirannya menjadi terbuka dan diperkaya dengan khazanah pemikiran.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline