Lihat ke Halaman Asli

Valentine, Seks dan Kapitalisme

Diperbarui: 21 April 2016   10:00

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="valentine"][/caption]

 

Oleh Ranto Sibarani

Menjelang hari Valentine yang selalu dirayakan pada tanggal 14 Februari,  selalu saja banyak pro kontra diantara umat manusia. Manusia memang makhluk yang kompleks, berbeda pandangan adalah kebiasaannya, sampai orang yang ingin menjadikan hari valentine sebagai hari kasih sayang pun banyak yang menolaknya. Ada yang menuduh itu adalah hari dimana seorang pastor dihukum mati karena menjalin cinta kepada seorang gadis yang seharusnya tidak boleh dilakukan pastor, ada yang menyatakan itu hari dimana sepasang manusia dihukum mati karena hubungannya tidak disetujui oleh keluarga, dan banyak kisah lainnya.

Parahnya, pro kontra tersebut sampai muncul dalam bentuk yang paling tinggi, menyatakan penolakan terhadap orang yang merayakan valentine. Ini ibarat menolak adanya perbedaan, penolakan muncul dengan maraknya spanduk-spanduk berbunyi “kami menolak perayaan valentine”. Bisa kita bayangkan jika kemudian muncul spanduk-spanduk lainnya yang berbunyi, “kami menolak umat Kristen merayakan Natal, kami menolak Umat Islam merayakan Idul fitri, kami menolak umat Hindu merayakan Nyepi,” dll, alamat konflik horizontal ada di depan mata. 

Apakah pro kontra tersebut wajar? Tentu saja wajar, karena manusia adalah apa yang dipikirkannya, aku berpikir maka aku ada “Cogito Ergo Sum” demikian Descartes menyebutnya. Manusia selalu berpikir menurut apa yang bisa dipikirkannya, manusia berpikir menurut kepentingan ekonominya, lebih jauh lagi manusia berpikir menurut kepentingan ekonomi politiknya. Sudah sedikit orang yang menganggap cinta adalah perasaan yang sakral, saat ini semua sudah bisa dibeli, bahkan kawin kontrak sudah marak terjadi, kawin cerai adalah hal yang lumrah, jatuh cinta bukan lagi hal yang luar biasa bagi sebagian orang. Sebagian bercinta malah hanya untuk menyelamatkan kebutuhan ekonominya.

Kembali ke valentine, penolakan valentine hanyalah suatu bagian dari banyaknya penolakan-penolakan lain yang sering dilakukan dengan dalih agama. Namun manusia tetaplah manusia dengan keterbatasannya, dia ingin selalu sempurna dibalik ketidaksempurnaannya. Agama tertentu menolak riba, namun sistem ekonomi saat ini adalah sistem akumulasi modal, riba adalah akumulasi modal, konsep nilai lebih telah menjadi sistem ekonomi yang tentulah bertolak belakang dengan agama tersebut. Agama yang satu menerima poligami, agama yang lain menolak, yang lain menuduh poligami hanya urusan seksual, yang lain menerima itu sebagai ibadah, itulah perbedaan.

Sistem ekonomi sekarang mensyaratkan bahwa jasa seksual adalah jasa yang diperjualbelikan, sehingga tidak perlu beristri lebih dari satu jika ingin mendapatkan kepuasan seksual, namun yang lain menganggap itu adalah ibadah, yang celaka adalah bila laki-laki memperistri lebih dari dua orang, namun si laki-laki tidak menafkahinya. Memperistri lebih dari satu perempuan adalah menafkahi orang lain, menafkahi adalah ekonomi.  Banyak alasan untuk melakukan penolakan terhadap poligami meskipun di agama tertentu itu “katanya” disetujui. Lantas apakah dengan persetujuan tersebut orang yang beragama lain pantas menolak poligami?

Tidak ketinggalan, sistem ekonomi kita yang saat ini percaya dengan asas akumulasi nilai lebih dengan cepat mengejar segala perkembangan manusia tersebut. Perkawinan saat ini adalah perputaran modal yang besar, tempat merayakan pesta perkawinan saat ini tersedia mulai dari harga puluhan juta sampai ratusan juta. Manusia cepat menyesuaikan diri dengan sistem ekonomi ini, namun banyak juga yang keteteran tidak sanggup mengikuti sistem kapitalisme ini.

Sebagian paham menyebut perkawinan hanyalah alat untuk memuaskan hasrat seksual untuk menjadi hak milik, yang lain menyebut perkawinan adalah ikatan yang sakral lambang cinta abadi. Bagi yang tidak memiliki modal untuk merayakan perkawinan, atau mengawini seseorang dengan biaya tinggi, maka tempat alternatif untuk melampiaskan hasrat seksual juga tersedia. Mulai dari tarif yang rendah sampai tarif tinggi, mulai dari transaksi terbuka di dunia nyata sampai pada transaksi online di dunia maya.

Media sosial sebagai lambang kemajuan teknologi digital juga menyusul dengan cepat, menjadi alat promosi menjual kebutuhan seksual manusia, mulai dari menawarkan jasa seksual beda usia, beda kelamin, sama kelamin bahkan beda ras, semua dipromosikan secara maya, namun berpeluang dilanjutkan di dunia nyata. Buktinya baru-baru ini pihak Kepolisian kita menangkap mucikari penjaja seksual di kalangan artis, yang transaksinya melalui handphone.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline