Lihat ke Halaman Asli

3 Cara Mengendalikan Emosi Anak

Diperbarui: 3 November 2022   00:01

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Berbicara tentang emosi, setiap anak memiliki kecenderungan berbeda dalam mengelola emosinya. Dalam masa perkembangannya, anak-anak akan mengalami berbagai situasi dan pengalaman baru. Pengalaman ini akan berpengaruh terhadap emosi yang mereka miliki. Anak tidak akan tahu bagaimana merespon sebuah hal dengan benar jika tidak diajarkan.

Menurut Steve Biddulph seorang pakar anak mengatakan "Emosi adalah bagian dari sensasi tubuh yang sangat menonjol dan terasa yang akan kita rasakan dalam situasi tertentu." Kadar emosi berkisar dari emosi yang sangat lemah sampai emosi yang paling kuat. 

Menurutnya, ada empat emosi dasar yang selalu kita dan anak-anak alami yaitu marah, takut, sedih dan gembira. Perasaan-perasaan lain yang mewarnai kehidupan kita dan anak-anak merupakan campuran dari keempat emosi dasar tersebut. Misalnya rasa cemburu yang merupakan campuran emosi marah dan takut atau perasaan nostalgia yang merupakan campuran antara emosi gembira dan sedih.

Melakukan setiap aktivitas tanpa melibatkan emosi merupakan hal yang mustahil, karena emosi merupakan pemberian "Sang Pencipta" yang diberikan lengkap dengan akal dan pikiran. Emosi juga bisa diartikan sebagai wujud tampilan jiwa atau ruh seseorang.

 Contoh sederhana yang biasa kita temui di kehidupan sehari-hari ketika ada anak yang sedih maka akan diekspresikan dengan tangisan, ada juga anak yang takut bertemu orang asing seperti badut, ondel-ondel maka anak tersebut akan berteriak bahkan berlari mencari perlindungan.

Setiap emosi dasar memiliki kegunaan masing-masing jika mampu dikelola dengan baik dan bijak. Sebagai gambaran, api saja apabila digunakan dengan baik maka akan bermanfaat untuk kehidupan. Kompor yang sudah diatur volume apinya dapat mematangkan masakan. Namun sebaliknya, apabila api berkobar tanpa terkendali maka akan terjadi kebakaran yang menyebabkan kerugian materi dan jiwa.

Api diibaratkan emosi pada diri seseorang. Anak akan emosi apabila hak-haknya tidak diberikan oleh orang tuanya seperti hak untuk bermain, hak untuk bertemu teman-temannya dan lain-lain. Terkadang kita sebagai orang tua merasa bingung melihat anak menangis berjam-jam atau mengamuk berguling-guling sambil melempar benda-benda yang berada didekatnya.

 Lalu muncul di dalam hati pertanyaan apakah memang perasaan itu adalah sikap yang sesungguhnya? atau anak sedang berpura-pura?

Sesungguhnya anak memiliki naluri seperti orang dewasa, yaitu mereka akan berpikir dan bertindak agar keinginannya dikabulkan atau mereka akan mencari cara agar dapat terhindar dari sesuatu yang tidak mau mereka kerjakan bahkan cara yang dipakai akan lebih ekstrem daripada orang dewasa.

Emosi yang tidak stabil menandakan bahwa ada penanganan yang kurang tepat pada anak. Ada yang berpikir bahwa mengurus anak itu harus keras agar orang tua tidak mudah dilecehkan oleh anaknya. Ayah atau ibu dijadikan pusat komando dan anak tidak pantas untuk diminta pendapat.

Disisi lain,ada juga orang tua yang selalu menuruti keinginan anaknya. Anak dianggap sebagai raja. Seperti halnya anak meminta dibelikan sepeda model terbaru padahal sepeda yang lama masih dalam kondisi baik dan lain-lain.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline