Lihat ke Halaman Asli

Rachmat Hidayat

TERVERIFIKASI

Budayawan Betawi

Berkaca dari Cerita Semut, Tak Susah Memahami Kisah Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW

Diperbarui: 25 April 2017   22:00

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber photo: http://islamidia.com/

Syahdan, tersebutlah kisah tentang komunitas semut disuatu tempat, di kawasan Sentul, Jawa barat. Para semut tinggal di suatu lembah yang tersembunyi, di kelilingi oleh tanaman perdu dan rumput-rumput ilalalng. Kawasan yang dihuni oleh komunitas semut ini sangat terlindungi dari gangguan mahluk-mahluk lainnya. Jarang ada binatang maupun manusia yang pernah singgah ke lembah tersembunyi itu. Kalaupun ada manusia yang kesana, tentulah para pencari kayu bakar ataupun kelompok pecinta alam.

Sama seperti bangsa manusia, mereka pun suka kongkow dan ber-sosialita. Ada suatu tempat favorit sebagai meeting point mereka untuk ngobrol sekaligus melepas penat setelah seharian mencari makan atau bekerja di sekitar rumah-rumah mereka. Saban pagi atau sore, para semut itu berkumpul di suatu tempat membicarakan urusan mereka. Tempat ini semacam alun-alun kota. Kebetulan disana terdapat semacam bangunan yang enak untuk dijadikan sandaran atau berteduh.

Diantara komunitas semut itu, ada beberapa ekor semut yang cukup berpengaruh diantara semut-semut lainnya. Karena ketokohan dan pengaruhnya, masing-masing semut menjadi pelindung bagi kelompok semut yang lemah diantara mereka. Semut itu semacam God Father yang melindungi semut-semut lemah dari ancaman semut-semut lainnya yang lebih besar dan kuat. Nah, diantara tokoh-tokoh semut itu terdapat seekor semut yang disenangi oleh semut-semut lainnya. Ia disenangi lantaran tak pernah berbohong, dapat dipercaya, atau bahasa kerennya mempunyai integritas yang tinggi, selalu bersikap ramah, adil dan menolong kepada semut-semut lainnya. Ia juga memiliki tutur kata halus, berbudi pekerti baik, dan, satu lagi, ia dikenal sebagai keturunan dari keluarga semut yang terpandang. Terpandang bukan karena kekayaannya, namun terpandang karena ketokohannya diantara bangsa semut-semut lainnya. Kita panggil saja semut ini dengan sebutan Semut Ireng.

Nah, pada suatu pagi yang cerah, di saat komunitas semut itu berkumpul seperti biasanya di ‘alun-alun kota,’ Semut Ireng ini bercerita kepada bangsanya.

“Hai bangsaku aku baru saja pergi ke tempat yang sangat jauh dari sini. Tempat itu sangat menarik dan bagus, belum pernah aku lihat tempat sebaik tempat itu. Aku menyebrangi sungai yang airnya jernih. Disana juga aku melihat taman-taman yang indah, yang tak ada di sekitar tempat kita ini. Aku juga melihat teman-teman kita, para semut lainnya sedang berjalan-jalan menyusuri jalan yang aku lewati.”  

“Ahh masa, yang benar saja? Aku tak percaya pada ceritamu, Semut Ireng. Aku lihat kamu tadi malam tidur di rumah istrimu, lalu bagaimana mungkin kamu pergi ke suatu tempat yang kau ceritakan itu. Untuk keluar dari lembah ini saja, kita butuh perjalanan satu purnama penuh, lalu bagaimana mungkin kamu dapat pergi ke suatu tempat seperti yang kau ceritakan itu? Kau pembohong besar, bulshit!! (kata bulshit juga dikenal di komunitas semut, yang berarti omong kosong, heheh..)

Lalu, terjadilah kehebohan di komunitas semut itu atas cerita dan pengakuan si Semut Ireng. Mereka menudingnya telah gila. Namun tak semua semut menuduhnya berbohong, ada satu teman Semut Ireng, yang mempercayai ceritanya.

Kalaupun Semut Ireng bercerita atau membual yang lebih heboh dari cerita ini, aku pasti mempercayainya. Sepanjang kehidupanku, tak pernah aku temui semut sejujur Si Ireng di lembah ini. Maka, mana mungkin ia mempertaruhkan kredibiltasnya, hanya untuk cerita yang kalian katakana bohong ini. Aku beriman dan percaya pada kisahnya,” ujar satu teman si Ireng.

Pembaca, bila memakai logika para semut tentu takkan mungkin ia pergi ke suatu negeri yang jauh hanya dalam hitungan setengah malam saja. Namun, bila memakai logika mahluk yang bernama manusia, apa yang dialami Semut Ireng itu tidak lah mustahil. Menurut logika manusia, kisah yang terjadi pada Semut Ireng ini bisa dikisahkan sebagai berikut:

Pada saat Semut Ireng tidur, ia dibangunkan oleh sosok mahluk besar bernama manusia. Sosok itu memegang tubuh kecil Semut Ireng dengan hati-hati dan meletakkannya ke sebuah mobil. Lalu dengan kecepatan tinggi mobil itu melaju ke jalan tol Jagorawi, dan melewati beberapa kawasan yang tak pernah di lihat oleh Semut Ireng. Nah, tibalah mobil itu di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Disana telah menunggu pesawat jet pribadi yang memang telah disiapkan untuk membawa orang itu beserta Semut Ireng ke suatu wilayah/negeri yang jauh, yang  belum pernah dilihat oleh bangsa semut.

Dengan kecepatan supersonik pesawat jet pribadi itu terbang, melintasi Pulau Sumatera, Lautan Hindia, terus berputar hingga sampailah pesawat itu ke Pegunungan Himalaya, di Nepal. Di puncak bukit, di dataran tinggi itu, pesawat mendarat. Lalu orang yang membawa Semut Ireng itu turun bersamanya. Dan Semut Ireng itu bertemu dengan mahluk-mahluk lainnya yang mendiami pegunungan Himalaya. Sampai akhirnya Semut Ireng itu bertemu dan berbicara dengan Penciptanya, di puncak gunung Himalaya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline