Lihat ke Halaman Asli

Himam Miladi

TERVERIFIKASI

Penulis

Mari Kita Akhiri Fiksi tentang Prabowo Subianto

Diperbarui: 12 April 2019   22:13

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Momen capres Prabowo Subianto menangis seusai dapat bantuan kampanye dari pendukungnya di Sumbar. (Sumber Foto: dokumentasi Jeka Kampai via detik.com) 

"Jika ingin melihat karakter seseorang, lihatlah saat ia menerima nasihat."

Sulit sekali bagi seorang penulis untuk terhindar dari jebakan ranjau kultus individu dan glorifikasi tatkala menulis profil seorang tokoh. Senetral-netralnya orang, dia akan menyanjung dan memberi pujian bagi tokoh yang ia kagumi.

Begitu pula saya, dalam menulis artikel khusus ini untuk mengakhiri fiksi tentang sosok bernama Prabowo Subianto. Karena saya melihat dari kacamata pendukung, tentunya tulisan ini sangat subyektif. Tapi saya akan berusaha rasional dalam menempatkan subyektivitas tersebut.

Bagi lawan politiknya, karakter Prabowo Subianto selalu digambarkan sebagai orang yang emosional, pemarah, otoriter. Bahkan tak sedikit pula yang membayangkan dia adalah diktator, The New Hitler. Rangkaian sikap Prabowo saat kampanye terbuka dalam kontestasi pilpres 2019 ini seakan menegaskan imajinasi tersebut.

Wajar, namanya juga penglihatan dari sudut pandang lawan politik. Pengamatan dari sisi orang yang tidak menyukainya. Berlaku pula sebaliknya, apabila dilihat dari kacamata pendukung, sikap Prabowo tersebut dimaknai sisi positifnya. Sebagaimana pengidola BTP melihat sikap marah-marah dan ucapan kasarnya adalah bentuk ketegasan.

Bagi pendukungnya, Prabowo selalu menampilkan identitas dan karakter otentiknya. Prabowo tidak pernah berusaha menutupi sikap emosionalnya apabila memang sikap itu harus dikeluarkan.

"Pemimpin yang baik itu yang tidak emosional", begitulah kata mereka yang berseberangan menanggapi Prabowo menggebrak podium saat kampanye di Yogyakarta. Tapi yang tidak dipahami oleh mereka, luapan emosi Prabowo tersebut bukan karena sebab dan masalah pribadi. Prabowo menggebrak meja, menyebut kata "Ndasmu" sebagai ungkapan gregetannya melihat kondisi negeri ini. Sekali lagi, ini menurut sudut pandang kacamata pendukung Prabowo.

Apabila lewat gebrakan meja dan sikap marah Prabowo, orang sudah bisa menjustifikasi dirinya sebagai orang yang emosional, perlu kiranya saya ungkit dan ulangi apa yang pernah dikatakan almarhum Gus Dur tentang Prabowo: "Orang yang paling ikhlas di republik ini adalah Prabowo."

Terlepas dari pernyataan ini dieksploitasi Partai Gerindra untuk menarik dukungan dari Gusdurian, maupun penafsiran berbeda dari keluarga besar Gus Dur yang kini mendukung pasangan 01, bahwa pernyataan itu dikeluarkan Gus Dur karena mantan presiden RI ke-4 ini tidak pernah bicara jelek tentang orang lain.

Sulit rasanya membayangkan, karakter emosional dan pemarah bisa melebur dengan karakter ikhlas dalam satu kepribadian. Sulit juga membayangkan, bagaimana bisa seorang yang dianggap pemarah dan diktator otoriter, bisa tak berkutik ketika dinasehati. Mengangguk patuh, hingga meneteskan air mata keharuan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline