Lihat ke Halaman Asli

Fauji Yamin

TERVERIFIKASI

Tak Hobi Nulis Berat-Berat

Kebijakan "Papan Tulis"

Diperbarui: 28 Februari 2021   04:46

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kompas.com

Suatu pagi, di sebuah ruang kelas sedang berlangsung mata pelajaran kebijakan. Seorang dosen kharismatik hadir memenuhi tugasnya mengisi materi tiga SKS. 

Dosen ini sudah ditunggu-tunggu oleh tigapuluh lima mahasiswa yang berasal dari Aceh sampai Papua. Setelah presentasi selama tiga puluh menit, mahasiswa kemudian di izinkan bertanya. Dan, riuhlah kelas karena antusias.

Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan dengan dalil dan data-data pendukung. Sang dosen menjawab dengan segala pengetahuan dan pengalamanya. 

Tibalah beberapa pertanyaan yang kurang lebih memiliki konklusi sama yakni " kenapa kebijakan ini atau itu tidak diambil, dan bagaimana proses merumuskan kebijakan" . Maka sang dosen yang juga mantan menteri di era SBY ini kemudian membawa kami memainkan sebuah game tentang kebijakan.

"Oke, untuk memberikan gambaran bagaimana proses merumuskan kebijakan, saya akan mengimplementasikannya dalam sebuah game sederhana. Game ini tentang gerakan menanam dipekarangan sebagai solusi ketahanan pangan. Jadi, menurut anda apa yang anda akan tanam?" Ujar dosen yang juga mantan wakil mentri ini.

Jadilah tigapuluh lima mahasiswa mengajukan usulan satu persatu. Jawaban yang dianggap paling terbaik. Bahkan berapa dari mahasiswa yakin usulannya dapat diterima dan menjadi kebijakan yang bisa dimplementasikan ke seluruh rakyat. 

" Cabai, tomat, bawang, seledri, bayam, kangkung; dll" jawab mahasiswa.

Setiap usulan di tulis di papan. Usulan yang sama akan beliau tambahkan angka 1, 2 dan seterusnya. Sekira 15 menit seingat saya, semua usulan mahasiswa sudah terkumpul, lalu beliau berujar.

"Sekarang sudah ada beberapa usulan. Akan tetapi tidak semua usulan bisa diambil atau dirumuskan menjadi kebijakan. Kita harus menentukan 1 atau dua yang menjadi prioritas. Tentu unsur relevan dan urgens serta komoditi penting yang harus diambil," Jelasnya lagi

Maka usulan tadi kemudian dipersempit menjadi sepuluh. Menariknya, usulan yang kebanyakan sama justru tidak menjadi prioritas terpilih masuk ke sepuluh besar. 

Artinya suara terbanyak tidak menjadi jaminan usulan tersebut terpilih. Berbeda halnya dengan pemilihan, suara terbanyak pemenangnya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline