Lihat ke Halaman Asli

Fauji Yamin

TERVERIFIKASI

Tak Hobi Nulis Berat-Berat

Senso Tua Pemberi Nafkah

Diperbarui: 3 Oktober 2020   01:24

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Foto: Dokumentasi pribadi

Pukul 10 pagi, bersama 3 orang teman kami menerobos hutan belantara Halmahera. Tepatnya di Desa Dodinga Kabupaten Halmahera Barat. Terhitung 3 anak sungai sudah kami lewati, dan 1 jam sudah perjalanan kami tempuh berjalan kaki namun tak kunjung sampai ke tujuan.

Medan yang sulit cukup membuat repot, apalagi baru pertama kali menyusuri hutan di Kabupaten ini. Sehingga, seluk beluk medan tak kami kuasai. Beruntungnya, kami di temani salah satu anak desa yang juga merupakan anak dari orang yang hendak kami temui.

Sekira 1 jam 30 menit kemudian, sayup-sayup suara mesin pemotong mulai terdengar. Petanda tujuan kami sebentar lagi sampai. Walaupun butuh beberapa menit dan sedikit usaha menerobos hutan dengan mengayungkan parang ke semak belukar yang kami lalui.

Kami benar-benar sampai ketika melihat seorang pria berumur 56 tahun sedang memotong cabang pohon yang sudah tumbabg dengan gergaji mesinya (senso) tuanya.

Ia, orang yang ingin kami temui, Pak Sulaiman, Pria yang sangat sulit di temui di Desa lantaran sebagian besar hari-harinya ia habiskan di hutan. Dalam seminggu, ia kadang pulang 2 kali untuk rehat. Ia akan benar-benar diam di rumah ketika mesin senso tuanya tak beroperasi alias tak ada pesanan atau terjadi masalah pada mesin.

Saat tiba, ia sedang bersama istrinya, Jamila (50 tahun) yang terlebih dulu menyapa kami. Jamila sedang mengantar makan siang sang suami.

Pak Sulaiman sendiri tidak menyadari kehadiran kami lantaran ia sedang fokus. Dan juga bunyi raungan senso menutupi semua jenis pergerakan suara. Ia baru menyadari ketika mesin sensonya kehabisan bensin.

"Eh dari tadi," tanya ketika menyadari kehadiran kami.

"Baru datang papa. Ini ada yang mau ketemu," Jawab anaknya yang menjadi guide kami bertemu beliau. .

Nampak ada sedikit keheranan di wajah Pak Sulaiman, walaupun iasebenarnya sudah mengetahui sosok kami karena sudah sebulan menetap di Desa Dodinga. Namun keheranannya bukan pada sosok saya tetapi ada rasa sedikit kwatir pada wajahnya.

"Maaf om tanya sadiki (sedikit), ngi (kalian) dari orang mana, (asal daerah)"

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline