Lihat ke Halaman Asli

Neno Anderias Salukh

TERVERIFIKASI

Pegiat Budaya | Pekerja Sosial | Pengawas Pemilu

Menyoal Banyaknya Petugas Pemilu yang Meninggal Dunia

Diperbarui: 21 Mei 2019   15:44

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Irsan, anggota KPPS di Kabupaten Magetan yang meninggal diduga mengalami kelelahan dalam melaksanakan kegiatan Pemilu 2019, dimakamkan hari ini. (KOMPAS.com/DOK RIZAL)

Pemilu serentak 2019 sudah usai tetapi masih menjadi topik hangat yang terus diperbincangka oleh publik. Adapun hal-hal yang dibahas adalah hasil Quick Count, Exit Poll dan Real Count. Selain itu, pembahasan mengenai legislatif terus diperbincangkan dan yang menjadi perhatian semua orang adalah meninggalnya para petugas pemilu.

Hingga saat ini, angka kematian terus meningkat. Data per tanggal 22 April 2019 oleh KPU terdapat 91 orang yang meninggal dunia dan 374 sakit dengan total 465 orang dari 20 provinsi. Kemungkinan meningkatknya jumlah orang yang meninggal masih bisa terjadi.

Data KPU (Sumber gambar: setkab.go.id)

Tanggal 25 April 2019, Liputan6 melaporkan bahwa 5 orang petugas KPPS di Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal dunia tetapi data yang diperoleh baru sebagian dari seluruh TPS. Mengingat pleno yang masih terus dilakukan di tingkat kecamatan memungkinkan kasus serupa akan terjadi lagi.

Pada waktu perhitungan suara di tempat pemungutan suara tempat saya memilih, saya juga ikut memantau. Beberapa KPPS dan PPS mengatakan bahwa mereka belum tidur sama sekali bahkan makan pun belum.

"Beta sonde tidur dari kemarin dulu, ini hari Jumat belum makan", cerita seorang teman saya yang juga anggota KPPS Desa menggunakan bahasa Kupang.

Hal yang sama diceritakan oleh seorang teman guru saya yang sekaligus menjadi Panwaslu salah satu kecamatan di NTT, ia menceritakan kerja KPPS sangat berat dan membutuhkan waktu yang lama.

"Bu, Beta mengantok parah, katong tiap malam pulang jam 3 hampir siang", katanya mengeluh.

Bagi penulis, angkat kematian terus meningkat disebabkan oleh dua hal, yaitu kurang tidur dan kurang sarapan serta pola makan yang tidak teratur. Kesibukan mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan logistik pemilu membuat para petugas Pemilu lupa makan. Ketika saya sedang memantau perhitungan surat suara, salah satu dari mereka menghimbau kalau bisa perhatikan perut mereka.

"Lebih baik katong makan tepat waktu, jangan sampe ambulance jemput katong" kata seorang KPPS sambil tertawa.

Sebuah candaan yang memiliki makna mendalam. Rupanya dia telah meramalkan apa yang akan terjadi. Buktinya kita bisa menyaksikan ratusan KPPS yang jatuh sakit dan puluhan orang meninggal dunia. Nah, ada beberapa akibat yang terjadi jika seseorang kurang tidur dan tidak sarapan serta pola makan tidak teratur.

Pertama, kurang tidur. Seseorang yang kurang tidur atau tidak beristirahat dengan cukup akan memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah karena sistem kekebalan tubuh sangat bergantung pada kualitas tidur, termasuk di antaranya beberapa senyawa kekebalan seperti cytokine, tingkat antibodi, dan berbagai sel kekebalan lainnya. 

Realitanya, tidur sebenarnya membantu sistem kekebalan untuk mengenali dan melawan infeksi penyakit. Jika sistem kekebalan seseorang rendah, ia akan lebih gampang sakit. Oleh karena itu, bagi para petugas pemilu yang memiliki riwayat atau sedang mengalami penyakit, memiliki resiko tinggi terjadi infeksi penyakit. Tak heran banyak dari mereka yang harus dilarikan ke rumah sakit untuk membutuhkan pertolongan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline