Lihat ke Halaman Asli

Methodius Kossay

Menabur Benih Kebenaran Dalam Setiap Kehidupan

Mental Ketergantungan "Kondisi Wamena"

Diperbarui: 13 Agustus 2019   10:52

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gambar Peta Wamena (Zonadamai.com)

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat  tidak luput dari  peradaban manusia dalam kehidupan masyarakat. Tidak terbedung kecanggilah di era globalisasi yang selalu cepat sehingga menyebabkan masyarakat terlena dan termakan dengan ilusia kenikmatan dunia yang fana. 

Terhanyut dalam ketidaksiapan, kebimbangan dan keterisolir masyarakat yang hapir diambang kepunahan. Kerapuhan demi kerapuhan terjadi ketika dasar-dasar dalam penopang hidup sebagai symbol kekuatan terlahap dengan kenikmatan dan ketergantungan pada bantuan yang mengalir di setiap kantong masyarkat. 

Mimpi kesejahterahan terkubur dengan metalitas masyarakat yang hanya menunggu sumber kehidupan membajiri sikap kemalasan, keegoisan, keserakahan, kebohongan, pembiaran hingga pembunuhan, perkelahian, KDRT dan lain sebainya. 

Mentalitas ketergantungan mendomiasi pada setiap aspek kehidupan manusia, lupa terhadap kegigihan dan spirit orang Balim yang sesungguhnya. 

Semuanya terhanyut dengan Ilusi dan kenikmatan zaman yang terus berkembang. Perlahan dan terus mencoba hingga memulai niat hati yang tulus mengubah wajah masyarakat yang baru namun tertahan dengan system yang sudah dibangun sekian tahun melalui propaganda politik.

Terstruktur dan tersistem ada dalam setiap benak oknum yang memiliki kepentingan dan kekuasaan terhadap masyarakat yang sudah terbangun dalam nilai kesederhanaan adat yang menjadi fondasi. 

Bergerak, melangkah dan berkata sedikitpun diarahkan kepada keterbelakangan, ketertinggalan, kemiskinan yang menjadi sumber makanan empuk bagi para kepentingan oknum tertentu. 

Masyarkat tak tahu dan menjadi lahan percobaan demi kepentingan dan kekuasaannya. Sangat miris ketika kepentingan dan kekuasaan tersebut dilakukan oleh oknum yang berasal dari masyarkat sendiri hanya demi kepuasan diri (perut) yang sifatnya sesaat.

Kehidupan generasi muda Papua semakin terluka dengan maraknya penyakit menular HIV/AIDS, Kecanduan dan katergantungan terhadap minuman berarkohol (Miras), Narkoba dan Isap Aibon. Masa depannya terputus di tengah jalan entah harapan yang dinantinya hanya angin berlalu. 

Upaya yang dilakukannya hanya menjaring angin putus di tangan keputus-asaan yang tak terhindarkan dengan situasi dan kondisi lingkungan. 

Sekolah adalah tiket satu-satunya meraih mimpi untuk mengubah paradigma dan dunia namun terpendam dan terbawa kekuatan arus lingkungan yang begitu kuat dan tak terhidarkan. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline