Lihat ke Halaman Asli

Merza Gamal

Pensiunan Gaul Banyak Acara

Memperkuat Performance Culture Pasca Krisis Covid-19

Diperbarui: 13 Agustus 2021   07:08

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Penopang Kekuatan Performance Culture (File by Merza Gamal)

Dalam menghadapi pandemi Covid-19, para eksekutif perusahaan di semua industri, mau tidak mau, suka atau tidak, harus mengadopsi cara kerja baru untuk bertahan. Pada saat volatilitas, organisasi yang berfokus pada corporate culture  dan kesehatan organisasi lebih cepat keluar dari krisis. Dengan membangun Performance Culture (budaya kinerja), yakni budaya dengan serangkaian praktik, ritual, simbol, dan pengalaman unik untuk mendorong kinerja unggul yang berkelanjutan, sehingga eksekutif perusahaan dapat membuktikan masa depan organisasi mereka.

Menemukan kekuatan organisasi membutuhkan dasar yang kokoh dan bersama tentang makna dan kejelasan tentang mengapa (vision), apa (agenda values), dan bagaimana (culture) penciptaan values. Culture yang berbeda mendefinisikan norma behavior (perilaku) yang mendorongnya. Perusahaan dengan culture (budaya) yang kuat mencapai total pengembalian tiga kali lebih tinggi kepada pemegang saham daripada yang lain.

Upaya transformasi budaya yang paling sukses dimulai di tingkat perusahaan, merekayasa ulang proses bisnis inti untuk menanamkan aspirasi dan perilaku budaya baru. Misalnya, mengubah proses perencanaan penjualan, manajemen tinjauan triwulanan, atau orientasi insan baru perusahaan--- semua ini berulang, proses bisnis penting yang menyita sebagian besar waktu insan perusahaan dan mewakili momen yang penting.

Untuk mengubah perilaku insan perusahaan secara efektif, intervensi harus disesuaikan untuk setiap individu berdasarkan peran, tujuan, dan hambatan khusus mereka. Teknologi mutakhir dan platform analitik membantu organisasi memahami atribut dan preferensi masing-masing insan perusahaan, mempersonalisasi konten dan pembinaan, melacak kemajuan dengan cermat, dan menjadi lebih pintar dari waktu ke waktu dengan semakin banyaknya data yang dikumpulkan.

Para eksekutif perusahaan bertanya-tanya bagaimana cara mengubah budaya saat insan perusahaan tidak lagi bertatap muka setiap hari, tetapi kenyataannya budaya kinerja dapat dibangun di mana saja, dan tindakan ini dapat diterapkan di semua jenis lingkungan kerja. Perusahaan terkemuka sudah mempercepat upaya budaya. Oleh karena perusahaan lain jangan sampai ketinggalan.

Meskipun banyak eksekutif perusahaan merasa tidak nyaman karena harus melakukan peregangan secara ekstensif dalam waktu yang sesingkat itu, hasilnya menunjukkan bahwa cara kerja yang lebih cepat dan gesit ini seharusnya menjadi cara kerja yang normal.

Berdasarkan berbagai studi kasus, ditemukan beberapa tindakan yang dapat membantu organisasi mencapai kecepatan yang berkelanjutan. Tindakan pertama bertujuan untuk memikirkan kembali cara kerja dengan melakukan hal-hal berikut, yakni: mempercepat dan mendelegasikan pengambilan keputusan, meningkatkan keunggulan pelaksanaan, dan menumbuhkan kemitraan yang luar biasa.

Tindakan berikutnya adalah bertujuan untuk menata ulang struktur, yakni melalui hal-hal sebagai berikut:

Pertama, Ratakan struktur:

Sebuah organisasi yang cepat memiliki lebih banyak insan yang mengambil tindakan dan lebih sedikit insan  yang memberi tempat kepada birokrasi. Hierarki yang kaku harus digantikan oleh struktur yang lebih ramping dan datar yang memungkinkan sistem merespons dengan cepat tantangan dan peluang yang muncul. Menciptakan organisme baru ini memerlukan penataan ulang struktur bukan sebagai hierarki atasan, melainkan jaringan tim yang dinamis.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline