Lihat ke Halaman Asli

Meri Hartati

Apa yang kamu pikirkan sekarang akan terjadi dimasa depan , apa yang terjadi sekarang adalah buah pikiran masa lalu.

Guru sebagai Pemimpin Pembelajaran

Diperbarui: 13 April 2021   06:58

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ilustrasi guru sebagai pemimpin pembelajaran-olahan pribadi

Pandangan Ki hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka yaitu Ing ngarso sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani yang diterjemahkan menjadi "di depan memberi teladan", "di tengah membangun motivasi", dan "di belakang memberikan dukungan". Filosofi tersebut hingga sekarang ini masih kontekstual  didalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran  kita sebagai guru harus menjadi tauladan bagi murid jadi keputusan yang kita ambil benar-benar dipikirkan  jadi ini sesuai dengan filosofi dari Ki Hajar Dewantara  "Ing Ngarso Sung Tulodo".

Berdasarkan paradigma, prinsip dan sembilan langkah pengambilan keputusan  mulai dari mengenali bahwa ada situasi yang bertentangan dengan situasi ini, menetukan siapa yang terlibat, kumpulkan fakta-fakta tentang situasi yang akan diambil keputusan, pengujian benar dan salah melalui uji legal, uji regulasi, uji instuisi, uji halaman depan koran , kemudian lakukan  prinsip penyelesaian dilema baik berfikir hasil akhir, berbasis peraturan dan berbasis rasa peduli, lakukan investasi opsi trilema yang mana kita  mencari opsi-opsi lain kemuadian membuat keputusan dan berikutnya refleksikan keputusannya tersebut.

Menjadi seorang guru dan tauladan bagi murid tentu kita harus menanamkan nilai-nilai mandiri dalam menjalan tugas dan peran sesuai tugas pokkok fungsi sebagai guru, reflektif terhadap semua hal, mengutamakan kolaborasi terhadap kepala sekolah , rekan sejawat dan murid, melakukan kegiatan inovatif dalam pembelajaran sehingga murid tidak bosan sehingga  menjadi guru yang dirindukan, serta melakukan pembelajaran yang berpihak pada murid dengan menerapkan pembelajaran differensiasi baik konten, proses muapun produk unjuk kerja.

Kesadaran penuh (mindfulness) menurut Kabat - Zinn (dalam Hawkins, 2017, hal. 15) dapat diartikan sebagai kesadaran yang muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja pada kondisi saat sekarang dilandasi rasa ingin tahu dan kebaikan (The awareness that arises when we pay attention, on purpose, in the present moment, with curiosity and kindness). Konsep kesadaran penuh yang guru lakukan dalam pembelajaran dapat meningkatkan stabilitas emosional seorang guru yang pada akhirnya akan total dalam menaruh perhatian terhadap kelas yang sedang diajarnya.

Kesadaran penuh (mindfulness) dapat dilatih dan ditumbuhkan melalui berbagai kegiatan. Artinya, kita dapat melatih kemampuan untuk memberikan perhatian yang berkualitas pada apa yang kita lakukan. Kegiatan-kegiatan seperti latihan menyadari nafas (mindful breathing); latihan bergerak sadar (mindful movement), yaitu bergerak yang disertai kesadaran tentang intensi dan tujuan gerakan; latihan berjalan sadar (mindful walking) dengan menyadari gerakan tubuh saat berjalan, dan berbagai kegiatan sehari-hari yang mengasah indera (sharpening the senses) dengan melibatkan mata, telinga, hidung, indera perasa, sensori di ujung jari, dan sensori peraba kita. Kegiatan-kegiatan di atas seperti bernapas dengan sadar, bergerak dengan sadar, berjalan dengan sadar dan menyadari seluruh tubuh dengan sadar dapat diawali dengan cara yang paling sederhana yaitu dengan menyadari nafas.

Menurut Hawkins (2017), latihan berkesadaran penuh (mindfulness) dapat membangun keterhubungan diri sendiri (self-awareness) dengan berbagai kompetensi emosi dan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, sebelum memberikan respon dalam sebuah situasi sosial yang menantang, kita berhenti, bernafas dengan sadar, mengamati pikiran, perasaan diri sendiri maupun orang lain, dan mengambil tindakan yang lebih responsif, bukan reaktif.

Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu 'menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. oleh sebab itu peran seorang coach (pendidik) adalah menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. 

Dalam proses coaching, murid diberi kebebasan namun pendidik sebagai 'pamong' dalam memberi tuntunan dan arahan agar murid tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang 'pamong' dapat memberikan 'tuntunan' melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya.

Dalam konteks pendidikan Indonesia saat ini, coaching menjadi salah satu proses 'menuntun' kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di sekolah. Coaching menjadi proses yang sangat penting dilakukan di sekolah terutama dengan diluncurkannya program merdeka belajar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. 

Program ini dapat membuat murid menjadi lebih merdeka dalam belajar untuk mengeksplorasi diri guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensinya. Harapannya, proses coaching dapat menjadi salah satu langkah tepat bagi guru untuk membantu murid mencapai tujuannya yaitu kemerdekaan dalam belajar.

Masih terkait dengan kemerdekaan belajar, proses coaching merupakan proses untuk mengaktivasi kerja otak murid. Pertanyaan-pertanyaan reflektif dalam dapat membuat murid melakukan metakognisi. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan dalam proses coaching juga membuat murid lebih berpikir secara kritis dan mendalam. Yang akhirnya, murid dapat menemukan potensi dan mengembangkannya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline