Lihat ke Halaman Asli

Masykur Mahmud

TERVERIFIKASI

A runner, an avid reader and a writer.

Cara Efektif Mengisi Otak Anak dengan Input yang Positif dan Produktif

Diperbarui: 30 Juli 2021   10:31

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi anak dan orangtua| Sumber: Shutterstock via Kompas.com

Pernah suatu ketika saya sedang duduk di sebuah cafe melihat orangtua memarahi anak dengan kalimat "sudah dibilangin jangan manjat meja tidak dengar" dengan nada kesal, pada kesempatan lain saya secara tidak sengaja mendengar seorang ibu berucap "dasar anak nakal, sudah dibilangin ga dengar".

Ucapan-ucapan seperti ini bukan hal yang asing saya dengar, malah hampir umumnya orangtua memakai kalimat ini untuk melampiaskan kemarahan saat anak melakukan sesuatu yang tidak diinginkan. Apakah ucapan seperti ini memberi efek baik bagi anak? tidak, malah sebaliknya. Anak akan kembali berulah.

Sedikit orangtua yang memahami bahwa untuk melatih kebiasaan baik bagi anak ada tahapan yang harus dilakukan terlebih dahulu. Seringkali karena kealpaan ilmu, banyak orangtua yang malah bertindak gegabah dan akhirnya berakibat fatal bagi sistem kerja otak anak.

Idealnya, secara ilmu otak, seorang anak membutuhkan waktu minimal 1-3 tahun untuk "mengisi" informasi yang dibutuhkan otak agar bisa berfungsi. 

Begini maksud saya, otak anak saat terlahir dalam keadaan kosong. Ibarat sebuah rumah yang baru dibangun tanpa aliran listrik tentu koneksi listrik belum tersedia untuk digunakan.

Ringkasnya lagi, otak anak terus berkembang pesat semenjak lahir. Tapi, kemampuan otak anak bekerja sangat ditentukan oleh input yang diperoleh. Input di sini bermakna kebiasaan yang dilihat dan didengar. Tapi, untuk umur 1-3 tahun apa yang dilihat itu lebih berefek ketimbang yang didengar.

Mungkin Anda pernah kesal kepada anak karena tidak mau menuruti apa yang diminta, mengotori lantai, mencoret dinding, membasahi rumah, dll. Tahukah kenapa anak bertindak seperti ini? Jawabannya sebenarnya sangat simple. Karena anak masih dalam tahap TRIAL and ERROR.

Umur 1-3 tahun adalah masa anak mencari tahu segala sesuatu dengan mencoba. Mereka tidak mengerti benar atau salah, yang mereka tahu adalah mencoba. Ini alasannya kenapa dalam dunia anak sebenarnya tidak ada istilah stres dan tidak pernah ada kasus anak gila. Yang ada orangtuanya gila. hehe. 

Makanya di sini yang wajib dilakukan orangtua adalah mengisi input yang tepat. Caranya bagaimana? Jangan memakai kata-kata terlebih dahulu, cukup perlihatkan apa yang ingin diajarkan. INGAT, cukup PERLIHATKAN.

Misal Anda ingin mendidik anak agar mau buang sampah ditempatnya, maka contohkan kepada anak setiap hari. Ulangi itu terus menerus di depan anak, baik di dalam atau diluar rumah, jangan sekali-kali memperlihatkan contoh yang berseberangan karena ini berbahaya bagi input otak. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline