Lihat ke Halaman Asli

Sucahya Tjoa

TERVERIFIKASI

Lansia mantan pengusaha dan konsultan teknik aviasi, waktu senggang gemar tulis menulis. http://sucahyatjoa.blogspot.co.id/

Meneropong Situasi Lautan di Kawasan Asia Timur Tahun 2019

Diperbarui: 24 Februari 2019   20:49

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: www.presstv.com

Menurut banyak analis dan pengamat Laut Tiongkok Selatan (LCS) dan Selat Taiwan dikhawatirkan akan menjadi titik panas di kawasan tersebut, bahkan menjadi titik awal konflik bersenjata dalam tahun 2019,  survei dari Council on Foreign Relations' Centre for Preventive Action (Dewan Pusat Hubungan Luar Negeri untuk Aksi Pecegahan) memperingatkan para pembuat kebijakan AS.

Menurut think tank AS ini, mengindetifikasi ada beberapa titik panas di kawasan ini. Sengketa teritorial di wilayah maritim dapat meningkat menjadi kekerasan, kata lembaga think tank ini.

Konflik bersenjata atas perselisihan teritorial di LCS bisa menjadi salah satu krisis utama bagi pemerintahan Presiden AS Donald Trump pada tahun 2019, menurut sebuah survei tahunan yang mengidentifikasi titik-titik panas bagi pembuat kebijakan AS untuk diperhatikan di tahun 2019 ini.

Selain tekanan terhadap LCS, Dewan Pusat Hubungan Luar Negeri untuk Aksi Pecegahan untuk pertama kalinya menempatkan Selat Taiwan sebagai hotspot untuk diperhatikan dalam 2019 menurut surveinya.

Lembaga think tank itu juga memberi peringkat ketegangan baru atas kegagalan pembicaraan Washington dengan Pyongyang untuk membuat Korea Utara memusnahkan senjata nuklirnya; potensi serangan cyber yang "sangat mengganggu" pada infrastruktur dan jaringan AS yang kritis; dan prospek permusuhan antara Iran dan AS atau sekutunya sebagai masalah potensial lainnya yang dapat memicu tindakan pemerintah AS di tahun 2019.

Tetapi Washington harus mengubah tanggapannya terhadap titik-titik panas potensial di tengah bentrok dengan Beijing terkait perdagangan dan masalah lainnya, menurut laporan yang dirilis baru-baru ini

"Pemerintahan Donald J. Trump belum menghadapi krisis internasional yang serius di mana presiden harus bergulat dengan keputusan yang bisa menyakitkan tentang apakah AS akan melakukan intervensi militer baru yang berpotensi mahal," kata laporan itu.

"Dengan dunia yang menjadi lebih tidak teratur dalam berbagai cara, masuk akal untuk menganggap bahwa hanya masalah waktu sebelum pemerintahan Trump akan menghadapi krisis besar pertamanya." Kata think tank ini.

Sejak 2008, think tank ini setiap tahun telah meminta para pakar kebijakan luar negeri untuk memberi peringkat 30 konflik yang sedang berlangsung atau potensial berdasarkan mereka kemungkinan terjadi atau meningkat pada tahun berikutnya dan dampak potensial mereka pada kepentingan nasional AS. Tujuan survei ini adalah untuk menyoroti prioritas pencegahan konflik bagi para pembuat kebijakan AS.

Ketegangan AS-Tiongkok meningkat di LCS, membuat Washington semakin mengkritik Beijing atas "militerisasi" perairan yang kaya energi, di mana Tiongkok memiliki klaim yang tumpang tindih dengan Vietnam, Filipina, Malaysia, dan beberapa negara-negara sekitar ini.

Pada bulan September, kapal perang AS dan Tiongkok hampir bertabrakan di kawasan maritim yang disengketakan. Beijing secara konsisten memprotes latihan "kebebasan bernavigasi" AS di daerah tersebut.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline