Lihat ke Halaman Asli

little fufu

Pembelajar aktif

Apakah "Cap Cip Cup Kembang Kuncup" Perlu Digunakan?

Diperbarui: 2 Oktober 2020   08:29

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ilustrasi sedang bimbang. (sumber: shutterstock via kompas.com)

 "Jangan biarkan keraguan pada diri sendiri, menghalangi Anda" (Kristine Carlson, 2003)

Dalam hidup, kita sering mengalami keraguan yang tidak jarang menghalangi kita untuk mencapai sesuatu yang tertargetkan atau diinginkan, sama seperti ketika kita hendak mengambil keputusan. 

Saya sendiri tergolong manusia yang cukup lama dalam mengambil keputusan. Terlalu banyak menimbang ini dan itu, dan selalu mempertanyakan akan kualitas keputusan yang telah saya tetapkan. 

Terlalu lama berpikir tetapi tidak meyakini hasil keputusan yang sudah diputuskan. Adakah yang sejalan dengan saya? Nyatanya cukup dengan membuat keputusan, 24 jam dalam sehari terasa begitu cepat.

Bicara tentang keputusan, keputusan tersulit apa yang pernah kita ambil selama hidup? Mungkin diantara kita sering berpikir panjang terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu, seperti saya terlebih keputusan tersebut yang kita anggap penting. 

Kenyataan nya tanpa kita sadari, menurut survei yang pernah saya baca menyatakan bahwa setiap harinya manusia membuat sekitar 35.000 keputusan, apabila dihitung per-jam nya, maka setiap jam kita mengambil kurang lebih sebanyak 1.500 keputusan. 

Mengapa bisa demikian? Karena sebagian besar keputusan yang kita ambil adalah keputusan yang sebenarnya pada hal-hal yang remeh. Contohnya seperti, "makan siang nanti sama mie instan atau bakso ya?" . "Nanti makan dulu atau mandi dulu ya?" atau "Nugas sekarang atau nonton film dulu ya?" Dan lain sebagainya. Tetap tidak jarang, disela-sela tersebut diselipkan dengan perkara-perkara yanag cukup serius seperti, "Lanjut kuliah atau langsung bekerja?", "Konsultasi sekarang atau minggu depan?", dan lain sebagainya.

Dikatakan keputusan apabila terdapat dua objek atau lebih, dimana salah satu harus tereliminasi. Ketika membuat keputusan, otak secara otomatis akan bekerja mencari rasionalisasi atas apa yang kita bandingkan.

Baiklah, langsung saja kita masuk kedalam contoh yang mengharuskan kita untuk membuat suatu keputusan. Sebagai contoh, anggap saja saya membutuhkan laptop untuk perkuliahan. Dikarenakan terdapat berbagai macam brand dari laptop itu sendiri, maka? 

Bagaimana cara saya untuk memutuskan brand laptop apa yang hendak saya beli? Mari kita bahas bersama-sama, alur saya dalam memutuskan perkara diatas.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline