Lihat ke Halaman Asli

Review Film : The Jungle Book (2016)

Diperbarui: 29 Mei 2016   01:42

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="sumber imdb.com, poster film the jungle book"][/caption]Pertama nonton thrillernya, saya sudah kepingin banget nonton film daur ulang yang satu ini karena satu hal: Jon Favreu. Sutradara satu ini ciamik memainkan alur cerita, termasuk di film Ironman 1 & 2 yang mana dia juga ikut berperan sebagai supir/bodyguard milyuner Tony Stark.

The Jungle Book sesuai dengan harapan saya, memuat isu lingkungan hidup, animasi hutan dalam 3 D yang mempesona, dan terutama Kaa, ular raksasa yang menakutkan. Walaupun ada kontroversi, film ini cukup menghibur (saya) yang merasakan rasa dingin di punggung saat tokoh Mowgli memasuki hutan hujan tempat si ular Kaa hidup.

Dengan tangan dinginnya, Jon Favrou membuktikan bahwa selain dia suka menyutradarai (dan jadi pemeran) di film indie besutannya sendiri, dia juga pawai menyutradarai film blockbuster.

1. India

Tanpa tahu bahwa film ini berlatar belakang India, si Mowgli yang cemong dan kotor muncul dibawakan oleh aktor cilik berwajah India. Mulanya saya khawatir film ini akan diperankan oleh anak kaukasia, tapi syukurlah detil ini tidak dilewatkan oleh sutradara. Ada lagi kuil gaya India yang amat megah, tempat Raja Louie bersemayam. Sosok manusia digambarkan bersurban, masih lah nyerempet India walaupun pada mulanya saya kira malah orang Arab…

2. Solo play

Selain film I Am Legend, Cast Away, The Jungle Book adalah salah satu film yang tokoh utamannya main sendirian selama film ini berlangsung. Neel Sethi, aktor cilik berusia 12 tahun keturunan Amerika-India, main sendirian tanpa satupun tokoh manusia. ‘Temannya’ adalah beruang, jaguar, serigala, kera yang kesemuanya adalah ilustrasi komputer.

3. Feminis

Ada dua karakter wanita dalam film ini, serigala Rakhsa, ibu angkat Mowgli yang disuarakan oleh Lupita Nyong’O, dan ular raksasa Kaa yang disuarakan oleh Scarlet Johanssen. Jon Favrou sendiri berpendapat bahwa film ini terlalu maskulin, sehingga dia memasukkan dua tokoh wanita dalam filmnya. Serigala Rakhsa juga akhirnya menjadi Alpha dalam kawanannya setelah Alpha sebelumnya, Akeela, terbunuh oleh macan antagonis Shere Khan.

4. Hutan Buatan

Jon Favrou ‘membuat’ hutannya sendiri setelah melakukan banyak foto dan riset di hutan-hutan India. Favrou ingin hutannya nampak surreal, seakan-akan penuh dengan sihir, dan berkualitas seakan mimpi. Saya sangat memahami hal tersebut ketika mengingat serangga-serangga kecil serupa debu yang berterbangan seakan di hutan beneran, kepekatan dan rasa lembab hutan hujan di sarang Kaa, pepohonan yang seakan tidak dapat dipercaya dan menyembunyikan kejahatan. Sungguh, hutan palsu itu menakjubkan. Sayangnya, saya mungkin salah melihat ada tumbuhan Bugenvil dan Teratai. Setahu saya Bugenvil bukan asli tanaman hutan dan teratai tidak tumbuh di sungai. CMIIW. Satu lagi, karena hanya CGI, gerakan hewan-hewan dalam film ini jadi berasa kurang realis. Kaku gitu.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline