Lihat ke Halaman Asli

Perang Ekonomi Global, Duet USA - Saudi

Diperbarui: 5 Februari 2016   02:34

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ekonomi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Caruizp

(By. Dasa Novi Gultom)

Genting dan sengitnya keadaan dunia saat ini, terutama kawasan Timur Tengah dan Eropa Timur. Perang militer berdarah yg terus berkecamuk, membuat kawasan tersebut tidak stabil, dan berbahaya bagi negara2 di sekitarnya.

Sadar akan bahayanya situasi ini, setidaknya bagi eksistensi pengaruh geopolitik masing2, Amerika Serikat bersama sekutu utama arabnya, Saudi Arabia, menggaungkan perang ekonomi.

Apapun motivasi dua negara akrab ini, mudahan dapat menghentikan pembantaian berdarah yang terus terjadi di wilayah yg bergejolak.

Baik USA dan Saudi, sepertinya sudah sepakat untuk membuat harga minyak dunia turun ketitik minimum. Dengan harapan dapat menghancurkan perekonomian para rival mereka.

Titik kritis keputusan USA menjajal minyaknya ke pasar dunia adalah setelah Rusia dengan kekuatan militernya menganeksasi Crimea milik Ukraina, dan sebelumnya juga negara beruang merah itu telah menganeksasi wilayah Osetia milik Georgia.

Aksi Rusia cukup membuat Fakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang dikomandani USA cukup gelagapan, pencaplokan wilayah eropa tersebut tak dapat diterima. Namun, balasan militer terbuka terhadap Rusia tentu saja dapat mengakibatkan perang global.

Begitu pula Saudia Arabia, yang menyimpan kegeramannya pada Rusia dan China yang mendukung kekuatan lawannya, Iran. Meski demikian, Saudi tetap melakukan komunikasi dengan kedua kekuatan Veto di dewan keamanan PBB tersebut.

Bagi monarki Saudi, sebenarnya campur tangan Rusia dan China sangat kentara, memberikan pasokan senjata serta bantuan keuangan bagi Iran untuk memperkuat pasukan garda revolusi negeri para mullah.

Belum lagi, Rusia yg terang2an mengirimkan kekuatan militer membantu rejim Suriah. Kekuatan finansial Rusia dan china melalui Iran, disebarkan pada lawan Saudi, seperti Hezbulloh Libanon dan pasukan Al Houthi Yaman.

Dua kekuatan besar ini, dianggap Saudi, berperan membuat Timur Tengah tidak stabil seperti saat ini. Arab Saudi berusaha membendung dengan kekuatan militer, namun Al Saud melihat bahwa tindakan ini akan membuat perang sektarian yang lebih besar.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline