Lihat ke Halaman Asli

Ruth Lana Monika

Menulis untuk menjadi pengantar pesan Semesta

Obat Akar Kepahitan: Mengampuni

Diperbarui: 13 Mei 2021   05:38

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

sumber gambar: tribunnews.com

Ketika seseorang melakukan kesalahan pada kita, apakah kita cenderung dapat langsung memaafkan kesalahannya? Ketika kita melakukan kesalahan pada orang lain, apakah kita secara tulus meminta maaf kepadanya?

Sikap mau memaafkan dan meminta maaf belakangan ini sangat sulit untuk dilakukan. Terlebih lagi kesalahan yang diperbuat sangat fatal dan membekas di dalam sanubari kita. Mungkin yang ada adalah dendam dan hanya kata maaf di mulut saja, bukan kata maaf yang sebenarnya.

Memang pada dasarnya meminta maaf ataupun memberi maaf bukanlah suatu perkara yang mudah bagi kita manusia. Karena di dalam diri kita masih melekat sifat kedagingan yang harus kita taklukkan. Namun, apabila kita terus memelihara sikap ini, pada akhirnya dapat memicu akar kepahitan yang akan menggerogoti kualitas hidup kita. 

Menyimpan kesalahan orang lain merupakan akar pahit dalam hati kita yang akan menjadi penyakit, ketidaknyamanan, keirian dan kebencian terhadap orang tersebut. 

Sebaliknya, menyimpan rasa bersalah pada orang lain merupakan akar pahit yang dapat menimbulkan berbagai ketidakbahagiaan dan ketidaknyamanan dalam diri karena diliputi rasa bersalah terhadap orang tersebut.

Oleh sebab itu, akar kepahitan ini haruslah disembuhkan. Melepaskan adalah titik awal dari kesembuhan akar kepahitan. Melepaskan segala rasa sakit, kesalahan orang lain, rasa malu dan egois di dalam hati kita sama saja kita memperbarui hubungan kita dengan Allah dan sesama.

Ketika kita mengasihi Allah namun tidak mengasihi sesama berarti kita masih memiliki sikap egois dan merasa paling benar. 

Selain itu terkadang, kita dengan mudah dan berani menghakimi orang berdosa, menuduh orang telah melakukan penghinaan, seseorang akan masuk neraka, terkena tulah dan lain sebagainya atau bahkan kita mengkambing hitamkan orang lain atas kesalahan yang kita perbuat. 

Sikap seperti inilah yang membuat hubungan kita dengan Allah dan sesama menjadi terputus. 

Pada kenyataannya, hidup dan mati seseorang itu ada di tangan Allah. Sehingga yang berhak menghakimi hanyalah Allah semata. Kemudian, jika memaafkan dan meminta maaf saja sulit bagaimana dengan mengampuni? 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline