Lihat ke Halaman Asli

Y. Edward Horas S.

TERVERIFIKASI

Pendiri Cerpen Sastra Grup (cerpensastragrup.com)

Paperless, E-Book, dan Potensi Hilangnya Buku Cetak

Diperbarui: 26 Agustus 2020   08:50

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi Buku Cetak, Sumber:https://edukasi.kompas.com/ 

Kantorku sudah lama menerapkan sistem paperless bagi pegawai ketika bekerja. Dibangunnya aplikasi persuratan, kemudahan mengirim file lewat media sosial, kepraktisan mengunduh file oleh siapa saja di situs kantor, dan lainnya, sangat mendukung penerapannya.

Bila dulu, sebagian besar proses persuratan dari bawahan ke atasan dimulai dari mengetik konsep surat atau nota laporan di komputer, kemudian dicetak di lembaran kertas dan diajukan ke atasan, diberi catatan koreksi bila salah, akhirnya diperbaiki, dicetak, dan diajukan kembali. Sekarang, konsep diketik, diajukan, dikoreksi, diperbaiki, hingga diajukan kembali cukup di aplikasi. Tanpa sehelai kertas. 

Mengirim surat juga begitu. Kecepatan pengiriman surat kepada klien yang jauh lokasinya, telah disediakan oleh media sosial, semisal Whatsapp. Harus diakui, mengirim surat berbentuk pdf lewat Whatsapp lebih cepat sampai daripada jasa pengiriman. Apalagi bila mendekati deadline. Sangat hemat waktu, hemat pula kertas. Tinggal scan, tanpa perlu cetak banyak-banyak.

Terlengkapi pula paperless ini di situs kantor. Dengan bermodalkan internet, klien dapat dengan mudahnya mendapatkan surat pemberitahuan dari kantor, melalui pengunduhan di situs kantor. Sekali lagi, tanpa kertas.

Paperless

Kegiatan meminimalisasi penggunaan kertas atau bahkan tidak sama sekali dalam aktivitas sehari-hari, bisa dikatakan sebagai paperless. Peralihan dari kertas menjadi paperless tidak dimungkiri telah terjadi dan lambat laun akan menjadi kebiasaan.

Dampak Positif Bagi Lingkungan

Sudah tentu kita tahu, sebagian besar bahan dasar pembuatan kertas adalah kayu. Kayu berasal dari pohon, dan untuk berolehnya kita harus menebangnya. Alias mengurangi jumlah pohon. 

Ilustrasi Pembuatan Kertas, Sumber:https://www.berwirausaha.net/ 

Dengan berkurangnya jumlah pohon, bila tidak diimbangi pesatnya penanaman kembali, dampak buruknya adalah percepatan pemanasan global. Berkurangnya penyerapan gas karbon hasil emisi aktivitas manusia, oleh pohon yang nantinya diolah menjadi oksigen dalam proses fotosintesis, menyebabkan kumpulan gas karbon yang tidak terolah menyerap dan memantulkan kembali radiasi yang dipancarkan bumi, sehingga panas akan tersimpan di permukaan bumi. Bila terjadi berulang, akan meningkatkan suhu rata-rata tahunan bumi. Inilah efek rumah kaca.

Sebaliknya, dengan minimnya konsumsi kertas, maka jumlah pohon yang berkurang pun sedikit. Bila digalakkan lagi dengan reboisasi, lingkungan menjadi lebih asri dan setidaknya memperlambat proses pemanasan global.

Ilustrasi Lingkungan Asri, Sumber:https://health.detik.com/ 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline