Lihat ke Halaman Asli

Potong Leher dan Poros Maritim Tanah Dayak

Diperbarui: 8 Oktober 2015   10:52

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

POTONG LEHER DAN POROS MARITIM TANAH DAYAK

Ratusan tahun yang lalu, di ranah Borneo, suku-suku yang ada di sana terbiasa dengan kegiatan “Mengayau” yaitu mengambil kepala manusia. Headhunter atau berburu kepala manusia. Perburuan ini bukan hanya sepihak, melainkan juga saling serang menyerang “Asang” antara anak / suku-suku yang ada. Yang luar biasa, bahwa diversitas / keragaman suku-suku di Borneo itu amat nyata. Diperkirakan saat ini masih tersisa sekitar 97 suku.

Yang luar biasa dari suku-suku itu ?.

Salah satunya adalah bahwa suku-suku yang menghuni daerah aliran sungai yang berbeda memiliki bahasa yang berbeda pula, bahkan perbedaan itu nyata amat signifikan, sehingga suku yang berada di daerah aliran sungai berdekatan pun bahkan saling tidak memahami bahasa tetangga dekatnya. Kemudian suku-suku tersebut tersebar dalam kelompok-kelompok kecil yaitu sekitar 200 orang dalam satu permukiman, mereka menghuni wilayah secara terdistribusi hampir merata di sepanjang daerah aliran sungai. Maklum Borneo amat banyak sungainya yang panjang dan lebar (lebar sungai tidak merata, namun paling sempit saja sudah sekitar 250 meter sampai terlebar 2 kilometer).

Menggunakan senjata “sumpit” yaitu senjata berbentuk tabung dari kayu panjang yang dilobangi seperti pipa panjang “Blow Pipe”  dimana anak panah kecil disebut “Damek” dimasukkan ke dalam lobang pipa tersebut, dengan ketrampilan khusus, peniupnya mampu membunuh gajah tanpa ada suara seperti bedil. Damek itu amat sangat mematikan karena beracun dari tanaman “ipu” yang di ramu dengan bahan beracun lain.

Secara de facto Borneo tidak mengalami penjajahan yang mendalam seperti penjajahan Belanda di Pulau Jawa.

Mengapa demikian ?

Karena manusia Borneo itu sangat lihai hidup di hutan dan tersebar amat merata di sepanjang aliran sungai. Ekspedisi Belanda di hutan rimba tropis yang amat lembab yang penuh dengan nyamuk dan hewan berbisa menyebabkan daya tahan Belanda / orang asing amat sulit dipertahankan, karena teknologi medis saat itu masih rendah. Sungai-sungai besar itu dengan tepiannya yang dipenuhi rimba lebat rimbun menjadi basis , manusia Borneo untuk menyerang khususnya dengan sumpit siapa saja yang memasuki wilayah mereka.

Tidak seperti di Jawa, amat banyak sisa peninggalan Belanda, di Borneo, hanya sedikit terdapat di pusat kota tertentu yang dulunya mampu di jaga Belanda, karena mereka tak mampu melakukan pembangunan sampai kepelosok dimana kematian yang senyap akan terjadi bila mereka memasuki pedalaman. Secara de jure sebenarnya Borneo belum pernah dikuasai secara utuh oleh Belanda, karena kegemaran berburu kepala orang Borneo juga membuat mereka bersemangat bila melihat orang Belanda yang tinggi besar itu. Sejarah Penginjilan atau misionaris yang gagal di Borneo, lalu pindah ke tanah Batak di Sumatera, lalu balik lagi setelah seratus tahun ke Borneo juga karena mereka mengayau kepala para misionaris itu, siang hari mereka amat bersahabat, malam hari kepala misionaris itu di gondol mereka. Hal ini terjadi juga dengan pendatang dari luar lainnya, biasanya juga dapat di ambil kepalanya bila dipandang sesuai.

Kriteria kepala manusia yang dipandang pantas sesuai untuk di ambil ?

Tak ada yang salah dengan mengambil kepala manusia di masa itu. Karena mereka menganut animisme. Anutan ini meyakini teguh kehidupan di dunia ini adalah jalan menuju kehidupan yang kekal di akhirat. Akhirat sebagai tujuan pokok harus di bangun dari dunia ini sebagai sebuah sistem pemerintahan kerajaan alam baka yang amat sakral dan agung.  Organisasi perangkat kerajaan akhirat ini direkrut dari dunia ini, dengan kriteria fisik, mental, spiritual yang terbaik.  Maka mereka berlomba-lomba melakukan perburuan terhadap manusia dari suku / pihak lainnya untuk direkrut sesuai tugas pokok dan fungsi yang akan diembannya di kerajaan akhirat nanti.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline