Lihat ke Halaman Asli

Kata-kata 4 Sastrawan Ini Membuat Tulisanmu Bermakna

Diperbarui: 8 September 2020   03:20

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Rabindranath Tagore (matapuisi.com)

Menulis itu asyik! Dunia kekinian pun semakin banyak diisi para penulis baru dan asyik-asyik aja, keren! Kabar baik, sungguh baik! Tidak harus menjadi pujangga dunia atau sastrawan hebat jika kita ingin menulis. Jika ingin menulis ya menulis saja. Media sosial, blog, atau media massa menyediakan ruang yang terbuka sangat lebar untuk setiap orang dalam mengembangkan ide melalui tulisan.

Saya menjadi bagian dari banyak orang yang gemar menulis. Entah itu tulisan "yang ada duitnya" alias begitu selesai nulis dapat honor atau tulisan "yang tidak ada duitnya", hanya sekadar hobi atau mengisi waktu luang, saya menciptakannya dengan asyik, menyenangkan. Namun, saya juga tak boleh melupakan esensi sebuah tulisan, makna yang diusung di dalamnya, dan tentu saja kualitas.

Selain itu, konsistensi tak sebatas sensasi perlu saya pikirkan dengan matang. Aspek ketekunan, kegigihan, juga energi untuk mengatasi rasa malas, juga perlu saya kembangkan, hidupkan, dan arahkan untuk membuat tulisan yang setidaknya berdaya ledak lembut, namun mengena di hati.

Untuk memberi kekuatan dan makna dalam menulis, juga agar semakin asyik berkarya, maka saya juga mencoba belajar dari kata-kata para sastrawan dunia. Setidaknya nama-nama ini yang bisa saya tuliskan, semoga bisa menjadi bahan inspirasi dan pelajaran dalam proses menulis.


1. Samuel Johnson

Penulis dan penyair asal Inggris ini lahir tahun 1709 di Staffordshire. Samuel Johnson merupakan salah satu tokoh berpengaruh dalam sejarah sastra Eropa. Melalui kata-katanya, saya belajar tentang makna ketekunan. Saya menyadari bahwa tidak ada ketekunan maka tidak akan banyak karya tercipta. Samuel Johnson mengatakan, "Karya-karya besar dikerjakan bukan dengan kekuatan, tapi dengan ketekunan."

Jika pun belum punya karya besar seperti para penyair atau para penulis hebat, setidaknya apa yang saya lakukan melalui menulis membuat saya "merasa besar", bangga terhadap diri sendiri, namun dalam sudut pandang yang positif. Itu akan berbeda jika saya tidak berkarya, akan merasa kecil, minder, rendah diri, atau apa pun istilahnya yang membuat saya tidak bisa memberi manfaat atau makna untuk banyak orang. Satu lagi kata Samuel Johnson yang bisa menambah perenungan bagi saya, "Buku seperti teman, harus sedikit dan dipilih dengan baik."


2. Goethe

Sastrawan Jerman bernama lengkap Johann Wolfgang von Goethe ini lahir di Frankfurt tahun 1749. Ia adalah tokoh terpenting kesusastraan Eropa pada abad ke-18. Melalui kata-kata Goethe saya diingatkan untuk memanfaatkan bakat atau talenta yang saya miliki. Karena punya talenta menulis ya maka saya menulis sebisa dan sebaik mungkin. Goethe mengatakan, "Talenta terbentuk dalam gelombang kesunyian, karakter terbentuk dalam riak besar kehidupan."

Melalui talenta yang saya punya itulah setidaknya saya bisa memberi manfaat, memberi makna kepada orang lain melalui tulisan. Jika tulisan tidak bermanfaat dan hanya membawa efek heboh atau viral saja maka apalah arti menulis? Goethe mengungkapkan, "Apalah arti hidup jika tidak banyak memberi cinta dan bermanfaat kepada orang lain."

Nah, satu lagi yang penting, ketika saya punya ide dan ada waktu untuk menuliskannya maka segeralah menulis. Mulailah menulis hari ini jika hari ini ada bahan untuk mencipta suatu karya. Ini selaras dengan apa yang dikatakan Goethe, "Apa yang tidak dimulai hari ini tidak akan pernah selesai hari esok."


3. Rabindranath Tagore
Filsuf dan sastrawan India ini lahir pada 1861 di Kolkata. Ia merupakan orang Asia pertama yang menerima Nobel Sastra 1913. Melalui kata-katanya saya diingatkan untuk mawas diri saat berkarya. Apa yang saya tulis sebisa mungkin tidak menyakiti orang lain. Apa yang saya tulis sebisa mungkin tidak berisi kabar bohong (hoax) atau fitnah. Apa yang saya tulis sebisa mungkin tidak membunuh karakter orang lain. Rabindranath Tagore mengatakan, "Pena adalah alat paling berbahaya, jauh lebih tajam daripada pedang, dan menyebabkan luka yang lebih dalam daripada pecut atau tongkat rotan."

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline