Lihat ke Halaman Asli

Harry Ramdhani

TERVERIFIKASI

Immaterial Worker

Kenapa Pedagang Kakinya (Bisa) Lima?

Diperbarui: 24 Agustus 2019   12:36

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ceritanya ini demi trotoar dan demu yang beterbangan. :(((

"Aku hanya bisa melucui keadaan seperti sore itu pada temanku: jalan kaki di Jakarta sama saja dengan bunuh diri."

Satu waktu, ketika pulang membeli gorengan Eneng yang terenak sedunia fana itu, kami --aku dan temanku-- putuskan untuk muter agak jauh. Kalau biasanya tinggal lurus, kala itu kami tembuskan pasar dan keluar di depannya.

Sore hari selalu ramai. Jalan raya dipenuhi kendaraan; macet. Kami akhir mesti mlipir sana-sini ketika berjalan di trotoar. Berbagi jalan dengan pedagang kaki lima dan kendaraan bermotor yang tanpa diduga naik ke trotoar menerobos yang namanya macet itu.

Belum lagi motor-motor yang parkir sembarangan. Motornya ada, pemiliknya entah ke mana. Yang lebih menyebalkan: motor yang diparkir itu justru foot-step belakangnya terbuka. Jadi kalau tidak hati-hati bisa tersandung atau tersangkut.

Aku hanya bisa melucui keadaan seperti sore itu pada temanku: jalan kaki di Jakarta sama saja dengan bunuh diri.

Temanku tidak tertawa.

***
Jika sedang kedapatan ngantornya masuk malam, aku sering datang lebih cepat. Biasanya itu karena dua hal: (1) jadwal kereta sore kalau ke Jakarta jarang penuh dan itu adalah waktu yang terpat agar supaya bisa bareng, satu kereta, dengan civitas akademi Universitas Indonesia yang lucu-lucu itu pulang. Atau, (2) bisa nongkrong-nongkrong dulu.

Abaikan yang pertama, sebab meski sering bareng dan bertemu, tidak pernah sekalipun ada hasilnya. Alias nol besar!

Namun, mari fokus pada bagian kedua. Inilah kisahnya:

1/
Aku suka ngopi. Bisa dibilang, ngopi adalah jalan ninjaku~

Untuk sampai ke kantor dari stasiun setidaknya ada 3 warung kopi. Jika sedang kedapatan tugas malam, dari sebulan hingga seminggu, pasti aku sempatkan bergiliran ngopi di sana.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline