Lihat ke Halaman Asli

[Bukan Review] Jason Bourne: Aksi Spionase yang Terlihat Konyol

Diperbarui: 12 Agustus 2016   18:15

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Jason Bourne (source: imdb.com)

Kemarin sore, setelah berjibaku melawan kemacetan jalan selepas pulang kerja, akhirnya kesampaian juga nonton film aksi Si Mamat a.k.a Matt Damon alias Jason Bourne. Setelah Trilogy Bourne mulai dari The Bourne Identity (2002), The Bourne Supremacy (2004) dan The Bourne Ultimatum (2007) sebenarnya sempat muncul sempalan dari aksi spionase Bourne, The Bourne Legacy (2012) dengan cerita sisi lain dari agen Treadstone karena si Mamat nggak mau beraksi di film itu. 

Melihat gigihnya si Mamat untuk membintangi aksi Bourne kali ini membuat mantab dan bulat tekad ini untuk tidak melewatkan aksinya begitu saja. Pop Corn dan Cappucino di tangan siap menemani tontonan kali ini, tidak ketinggalan istri tercinta duduk manis di samping menemani juga tentunya. Jadi ceritanya sekalian nostalgia melihat aksi Si Mamat jaman awal muncul pertama dulu tahun 2002 di Bourne Identity. Installment Bourne kali ini entah mau disebut apa ya? Sekuel? Prekuel? Entah apa namanya baiklah kita sepakati aksi si Mamat kali ini kita sebut uwel-uwel :)

Saya nggak pengen membahas aksi Si Mamat yang pasti spektakuler, jedar jeder berantem dan kejar-kejaran seru dengan kecepatan tinggi dan lompat-lompat lintas benua pasti mewarnai aksi laga heroik individualnya, tidak perlu diragukan lagi. Meski tidak ada kejutan baru dari aksinya, overall cukup puas dengan gaya "biasanya" dari si Mamat. 

Tanpa mengesampingkan efek kepuasan setelah menonton aksinya, saya coba liat dari sisi lain terkait penyajian sang sutradara yang perlu dipercantik biar aksi canggih hi-tech yang ditampilkan di installment kali ini lebih realistis, membumi dan "WoW". Apa saja catatan janggal yang saya dapat dari aksi Bourne kali ini? Mari kita simak sambil nyeruput kopi nasgitelnya...

Baiklah kita mulai dari awal cerita. Aksi Bourne kali ini berawal dari aktivitas hacking yang dilakukan si cantik Nicky Parsons (Julia Stiles) yang sudah muncul di kisah Bourne sebelumnya. Dari intro awal ini mulai terlihat bahwa aksi kali ini akan melibatkan technology cyber dari CIA, cerita teknologi canggih yang keren habis pastinya. Sebagai penikmat aksi Si Mamat dan pada jaman dulu...dulu banget pernah sok bergaya menjamah dunia cyber underground, tayangan pembuka ini membuat tambah excited saja jadinya. Eittss...tapi tunggu dulu, saat si cantik Nicky Parson berada di sarang hacker undergorund, terdengar di belakang  ada yang bicara database SQL yang corrupt. SQL? Ya..SQL adalah bahasa pemrograman untuk database yang.....aneh. Yup, aneh sekali jika digunakan oleh seorang hacker. Trojan attacker dengan SQL? ijinkan saya tertawa lepas 3 detik saja, ha..ha..ha...

Om Paul Greengrass mestinya pilih bahasa pemrograman yang lebih membumi donk, apa kata Xiao Tian, Sang Hacker cantik dari negeri tirai bambu sono kalau lihat film ini? Lebih manusiawi mengangkat C/C++, platform Unix yang curah tapi fenomenal. Mau yang agak sangar layaknya ular berbisa boleh lah pakai Phyton. Tapi SQL..? Worst Hackers Ever!

Lanjut ke scene berikutnya. Nicky Parsons yang berhasil mendapatkan data rahasia dari hasil meretas data CIA akhirnya janjian ketemuan dengan Si Mamat. CIA yang sadar bahwa ada yang meretas data mereka tentu saja tidak tinggal diam. Munculnya sosok Heather Lee (Alicia Vikander) yang terlihat young & smart membawa aura yang fresh. Cocok sekali peran yang disandang sebagai rising star CIA cyber agency. Secepat kilat pengejaran dilakukan setelah dengan canggihnya teknologi CIA berhasil mengenali siapa sosok hacker yang terlibat. Nicky Parsons sebagai mantan agen CIA dan sudah pengalaman main film Bourne sebelumnya *senyum, dibuat tampak bodoh oleh Om Paul Greengrass. 

Dengan kesadaran penuh bahwa dirinya adalah target dan dalam kondisi yang berbahaya, meski cukup cerdas memlilih tempat ketemuan di area chaos para demonstran, tapi tetap terlihat konyol ketika dengan terbuka tanpa tedeng aling-aling memamerkan wajah cantik dan rambut pirangnya di muka umum. Agen 007 saja pakai topeng di pesta topeng jalan raya, kenapa tidak dengan Nicky Parsons? Minimal wig dengan blonde hair panjang tambah maskara sambil berkejap-kejap untuk kamuflase, atau lebih totalitas lagi ikut nyaru sesuai kostum para demonstran. Sedikit lompat ke scene tengah menjelang akhir. Om Paul Greengrass terlihat sedikit sadar dan mulai memahami arti kamuflase bagi seorang spionase, terlihat dia memakaikan topi buat Si Mamat saat scene adegan sang Direktur CIA Robert Dewey (Tommy Lee Jones) dan CEO Deep Dream, Aaron Kalloor (Riz Ahmed) mau manggung.

Balik lagi ke Heather Lee, di scene saat CIA memburu Nicky Parsons dengan menerjunkan agen lapangan, sekali lagi amat disayangkan sisi smart-nya ternodai. Agen lapangan dengan teropong live streaming yang dipantau dari ruang kontrol memunculkan sekelebat bayangan gadis berambut pirang. Mata jeli si cerdas Heather Lee melihat itu dan minta putar balik ke detik sekian. Sampai di sini masih cukup cerdas, sampai terdengar perintahnya, "zoom and enhance"! dan gambar yang tadinya berupa bayangan blur, tiba-tiba bisa membesar dan tampak jelas, wajah Nicky Parsons.

Hmmm...teknologi gambar digital merupakan komposisi pixel. Proses zooming dengan kata lain memperbesar gambar secara digital, logikanya akan merenggangkan kepadatan pixel dot per inch (dpi) atau dengan kata lain akan tambah blur, how can be enhance?! Entah teknologi CIA pakai apa tidak dijelaskan di film ini :) Akan lebih elegan dan hi-tech kalau tertangkapnya citra wajah berambut pirang tadi masih dalam kondisi live streaming, jadi perintah "zoom and enhance"! dari Lee bukan terhadap citra digitalnya tapi dengan zooming kekeran yang dipakai agen lapangan, akan tampak lebih alami, elegan dan hi-tech.

Agak sedih dan menyayangkan jalan cerita berikutnya ketika si cantik Nicky Parsons harus tewas lewat bidikan The Asset (Vincent Cassel). Tapi ya sudahlah, sudah ada Heather Lee yang menggantikan sentuhan wanita dalam aksi spionase si Mamat kali ini kok. Nah, sebelum menghembuskan napas terakhirnya, Nicky Parsons sempat melemparkan sebuah kunci loker yang berisi barang-barang rahasianya, salah satunya berupa buku catatan dan flash disk yang dienkripsi, jelas tertulis besar di body luar flash disk, Encrypted! :D Mudah ditebak selanjutnya, akan aneh sih kalau Bourne berusaha sendiri membuka file-nya, lha wong jagonya berantem kok, gaptek mah nggak papa. Nah, ceritanya justru jadi lucu ketika Si Mamat minta bantuan hacker Jerman untuk membuka enkripsi flash disk. Kok bisa lucu? minta ijin tertawa lagi 3 detik ha ha ha...cukup!

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline