Lihat ke Halaman Asli

Gaganawati Stegmann

TERVERIFIKASI

Telah Terbit: “Banyak Cara Menuju Jerman”

"Blusukan" di Kampung (Batik) Laweyan, Solo

Diperbarui: 4 Oktober 2017   18:40

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Jalannya sempit (dok-Gana)

Solo. Kota ini memang punya karakteristik yang unggul. Siapa yang nggak ingat gambaran putri keraton, priyayi yang halus, gandes luwes, ayu dan menarik hati? Sultan dan keratonnya yang masih agung, makanannya yang sedap, tempat wisata yang asyik dan batiknya yang indah ... mengesankan!

Emmmm. Jalan-jalan ke taman Sriwedari sudah, mall pasti-pasti lah, sungai bengawan Solo sudah, pasar Triwindu (barang antik) sudah. Saatnya kami ke kampung Laweyan....

Jalan Satu Arah

Dari Novotel, kami menuju kampung laweyan. Lewatlah kami di Jl. Dr. Radjiman yang satu arah. Hedehhh ... kebablasan masuk gang Kampung Laweyannya. Maklum, gangnya sak upil, nggak kelihatan. Ketimbang nanti suruh bayar lagi, repot ... kami muter lagi. Enak duit tilangnya buat jajan sendiri. Hahaha.

Begitu muter di jalan satu arah itu, kami segera memperlahan kendaraan, supaya nggak kelewatan gangnya yang di titik tadi. Begitu lihat plang butik di jalan besar dari jauh, kami ancang-ancang. Jalan pelan-pelan.  Slaman-slumun-slamet! Sampai.

Jalanan di Indonesia sekarang banyak yang satu arah. Alasannya pasti bisa dimengerti, supaya nggak macet. Jalannya jadi lebih lebar untuk kendaraan menuju satu arah bukan dua. Nggak dibagi. Pengguna jalannya yang harus awas.

Showroom (dok-Gana)

Workshop batik cap (dok-Gana)

Hiya, konsentrasi! (dok-Gana)

Cap besi (dok-Gana)

Selesai nyetak (dok-Gana)

Jalan Senggol

Gang di Kampung Laweyan mengingatkan saya pada gang senggol di Venezia atau di kota-kota lama seperti Lindau atau Ulm di Jerman atau Schaffhausen di Swiss. Gang sempit yang nggak bisa dilewati mobil. Pakai motor, sepeda atau jalan kaki saja. Romantis, bukan rokok-makangratis.

Begitu masuk kampung, seorang tukang parkir sudah kasih aba-aba supaya kami memarkir di depan gang saja. "Prat-prit ... prat-prit." Dengan sigap si mas membantu suami parkir. Selesai parkir, dia tanya apa kami mau masuk ke kampung Laweyan. "Cari apa, buk? Beli batik bisa, mbatik juga bisa."

Bak guide di Bali, ia mengajak kami menyusuri gang sempit yang dindingnya 2 meteran. Haaaaaa ... serasa di Labyrinth. Untunglah, kami pun sampai di Graha Batik Cempaka, Setono 22. Mereka ini punya workshop, showroom, meeting roomdan outbond batik.

Usai puas melihat-lihat baju batik, kami keluar. Huuuuh. Nyari yang sarimbit nggak ada yang cocok. Cuma beli taplak meja "bokor" (Rp 35.000) sama jarik wiron jadi "Sido Mukti" (Rp 150.000) sajalah buat oleh-oleh. Biar Mukti Palapa.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline