Lihat ke Halaman Asli

Fery. W

Berharap memberi manfaat

Ilustrasi Perekonomian Saat Mudik Lebaran

Diperbarui: 14 Mei 2019   11:37

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi. Kemacetan di jalur Pantura sering kali juga disebabkan munculnya pasar tumpah. (KOMPAS/HERU SRI KUMORO)

Bulan Ramadhan memasuki minggu ke-dua, hari Raya Idul Fitri a.k.a Lebaran pun menjelang. Aktifitas religi, sosial, budaya, dan ekonomi akan terus berputar tambah kencang. Atmosfer Indonesia mulai akan terisi oleh wanginya hawa Lebaran, menyeruak ke hampir setiap sendi kehidupan. 

Walaupun ada penggalan cerita politik yang belum usai, semoga urusan itu bisa berakhir baik. Sehingga momentum lebaran bisa menjembatani rekonsiliasi sosial dan lebaran menjadi hangat oleh rasa kekeluargaan.

Kehangatan keluarga inilah yang mendorong aktivitas sosial "Mudik" menjadi seperti sebuah kewajiban budaya bagi para perantau diberbagai kota besar, kembali ke grassroots, tanah di mana mereka berawal yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. 

Aktivitas mudik seperti yang terjadi di Indonesia, terjadi juga di negara lain, hanya agama, budaya dan keluarga lah alasan yang mampu menggerakan manusia dalam waktu hampir bersamaan bergerak dari satu tempat ke tempat lain secara masif. 

Di China untuk merayakan Imlek pada awal tahun 2019 lalu warga China bergerak melakukan perjalanan  mudik sebanyak 3 milyar perjalanan dalam beberapa hari sebelum dan setelah Imlek, tradisi yang mereka sebut Chunyun ini menurut Forbes angkanya naik 2,2 persen dari tahun sebelumnya. 

Di India negeri dengan jumlah penduduk nomor 2 di dunia ini memiliki Festival of Light atau Diwali yang merupakan salah satu hari raya umat Hindu. Dan ada beberapa negara lain dengan alasan yang sama melakukan mudik dengan alasan yang sama namun  istilah yang berbeda.

Di Indonesia mudik biasanya akan mulai dilakukan seminggu sebelum dan seminggu setelah lebaran, dan ini merupakan salah satu kerja besar rutin pemerintah Indonesia di pusat maupun daerah. 

Butuh effort yang lumayan besar untuk melayani pemudik ini. Keamanan dan kenyamanan menjadi prioritas pemerintah dalam mengawal pemudik pergi pulang. 

Jumlah pemudik di Indonesia pada tahun lalu 2018, menurut catatan Kementerian Perhubungan mencapai 18.603.081 orang. Angka tersebut tumbuh sekitar 2,44% jika dibandingkan tahun 2017 yang mencapai 18.160.668 orang.

Jika fenomena mudik Lebaran ini dikelola dengan baik oleh pemerintah maka tradisi ini akan memberi manfaat besar bagi perekonomian nasional, ada tiga esensi apabila kita tinjau dari sisi ekonomi dalam exodus jaman modern ini.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline